Bahagia dalam Tekanan


Monday, 30 Nov -0001


Setiap masalah dalam hidup kita itu bagaikan pisau bermata dua, dalam 1 sisi pasti akan membawa emosi-emosi negatif dan dalam sisi yang lain pasti membawa berkat dalam hidup kita. Tinggal kita mau melihat dari sudut padang yang mana. Tapi dua-duanya biasanya ada.

 

Berpikir Negatif

Memang pada awalnya bisa sulit bahkan sulit sekali untuk melihat bagusnya suatu situasi yang sangat menekan atau mengecewakan kita. Pasti reaksi pertama ya itu tadi, berfokus pada perasaan negatif yang ada dan memikirkan kenapa ini terjadi pada kita dalam konotasi yang negatif (“seharusnya inikan tidak terjadi sama saya?”)

 

Tapi saya sadar sebenarnya berpikiran negatif itu sebenarnya sangat merugikan karena:

  1. Pikiran negatif sangat menguras tenaga
  2. Badan mudah capek
  3. Mengikis kesehatan, badan jadi lebih renta
  4. Pastinya mengambil fokus pikiran kita dari hal-hal lain yang mungkin lebih penting dan positif, dan…
  5. Masalah yang ada juga belum terselesaikan

 

Lambat laun karena saya capek merasa capek itu tadi saya berpikir apakah habit saya untuk menerima dan memikirkan hal-hal yang negatif itu baik untuk saya? Apa saya benar-benar sayang terhadap diri saya sendiri? Lalu kenapa saya harus berfokus sama hal yang sebenarnya merugikan saya. Berfokus pada ke-negatif-an suatu masalah itu seperti makan permen. Setelah merasa enaknya, karena bisa marah-marag atau berkomentar yang memuaskan diri, kita kembali lagi merasa haus, tidakadakunjung habisnya. Enaknya cuma satu, puas bisa berkomentar negatif/ mengkritik/ berkeluh kesah.

 

 

Jangan Panik Jangan Merasa Tertekan

Kebetulan suatu saat itu saya dalam posisi yang benar-benar terjepit. Saya bekerja diperusahaan keluarga yang menurut saya targetnya sangat tidak masuk akal, tapi ya kalau saya mau keluar saya belum memulai usaha diluar pekerjaan saya itu. Saya sering dihina-hina karena saya belum independen itu tadi. Ortu merasa kerja diperusahaan keluarga kan itu “sedekah” bukan kemampuan sejati. Belum lagi saya tinggal di apartemen pinjaman orang tua. Saya belum punya apartemen sendiri. Jadi mereka merasa yah istilahnya saya itu semacam parasit karena saya terlihat nyaman, “susah diatur” padahal “mampu juga engga”. Posisi ini kalau dilihat pas dulu-dulu saya jamannya negatif pasti saya sakit hati sekali, terpuruk, dan jadi seperti katak dalam tempurung. Berputar-putar dalam sakit hati saya tanpa bisa melakukan apa-apa.

 

Mau menolak dihina ya belum ada buktinya, tapi dihina-hina melulu saya juga sudah cukup mentok. Harga diri saya walau minim tapi ada harganya. Terlebih kita tidak boleh berkata kasar terhadap orangtuakan?


Cuma kebetulan saya dalam fase yang sudah capek jadi korban atau merasa jadi korban. Akhirnya saya tekankan kedalam diri saya sendiri Hayo walau masalah ini besar, jangan panik atau stress, kalau kamu sekolah saja bisa juara pastinya masalah apapun kamu bisa menganalisa dengan baik dan mendapatkan jalan keluar yang juga OK”. 

Jangan panik, jangan merasa tertekan, jangan merasa orangtua tidak adil, dan jangan merasa jadi kambing hitam. Walaupun realitanya bisa juga seperti ini.

 

 

Ada Jalan Keluar

Saya lihat-lihat tabungan yang selama ini saya tabung, wah untuk beli apartemen belum cukup. Ehh tiba-tiba teman saya bilang, “Kenapa ngga kredit aja, tiap bulan angsurannya kayanya loe bisa bayar deh pakai gaji loe.” Aku hitung-hitung lagi, benar juga, kalau aku hidup irit bisa tuh sisihkan gajiku untuk bayar cicilan.


Lalu, bagaimana ini kendala kerja dengan orang tua yang sewaktu-waktu bisa dihina merasa seperti dapat sedekah? Berhubung saya beli apartemen itu setengah KPR nah berarti uang tabungan saya masih ada sisa. Dari sisanya itu saya banyak bicara dengan teman-teman sana sini. Ketemu suatu peluang bisnis yang modalnya tidak besar-besar amat tapi prospeknya untuk menguntungkan cukup OK. Lalu saya hitung lagi, pada suatu saatkan KPR saya itu pada akhirnya harus dibayar lunas danada bunganya. Apakah uang saya semuanya cukup.


Wow, ternyata setelah saya hitung-hitung semua, asal saya hidup irit saya itu bisa punya apartemen sendiri, bisa punya bisnis sampingan yang menjanjikan, dan tetap bekerja di perusahaan orang tua selama mereka masih dalam batas-batas yang bisa ditolerir. Kalaupun ternyata tidak, bisnis sampingan saya ini menjanjikan, jadi bisa menjadi sumber mata pencaharian saya ketika sudah jadi dengan baik.

 

Selain itu kalau saya tidak dalam keadaan tertekan, pastinya saya :

 

  1. Tidak ada punya ide-ide secemerlang ini
  2. Tidak belajar untuk memulai usaha sendiri
  3. Tidak belajar mengatur uang saya dengan maksimal
  4. Tidak belajar mengurangi pengeluaran-pengeluaran yang tidak perlu
  5. Tidak berani mengambil resiko membeli apartemen dan memulai usaha sendiri.
  6. Tidak cengeng
  7. Belajar proses pembelian apartemen dan KPR

 


Ada Hikmah di Balik Semuanya

Membayar KPR itukan sebenarnya seperti “dipaksa; untuk menabung. Jadi saya mengambil hikmahnya dari ini semua. Walau saya ditekan, dan dihina-hina karena mungkin ya namanya orang tua ekspektasi bisa saja setinggi gunung dan merasa terpojok, posisi ini malah membuat bagian terbaik dari diri saya keluar.

 

Dari perjalanan ini semua saya bukan merasa negatif, melainkan makin merasa percaya terhadap kemampuan diri saya sendiri.

Lalu apakah masalah saya yang utama tadi sudah berakhir?

Ya pastinya belum, tapi saya sudah merasa enak, bahagia, dan sudah merasa tenang mendapat solusi dari apa yang saya kuatirkan.

 

Ya kalau ternyata orangtua saya tidak bisa melihat hal yang bagus dari diri saya, paling tidak saya bangga dengan diri saya sendiri. Dari tabungan gaji-gaji saya yang dulu saya bisa hidup mandiri dan saya sudah tidak kuatir lagi akan ancaman serta hinaan mereka, karena saya yakin saya bisa menghidupi dan mengurus diri saya sendiri, dengan apa yang saya miliki serta otak dan kedua tangan saya.

 

Awalnya kondisi ini seperti malapetaka ya tapi pada akhirnya setelahdijalani dengan sabar sebenarnya ini merupakan berkat karena bakat-bakat saya jadi makin terasah. Tidak perlu menggerutu dalam situasi saya, malah sejujurnya saya harusnya berterima kasih.

 

PS:

Orangtua saya kaget bahwa ternyata dari gaji saya, saya bisa menabung cukup banyak uang untuk beli apartemen. Dari seorang anak yang dipikir tidak punya bukti prestasi yang nyata itu tadi =) Belum lagi reaksi mereka kalau tahu aku punya bisnis sampingan hehehe

 

 

 

 

 

 



Priscilla

No Comments Yet.