Bahagia Ketika Aku Sendiri


Monday, 30 Nov -0001


Saya menikah di tahun 2003 umur saya waktu itu baru 23 tahun dan umur dia 27 tahun. Awalnya Orang tuanya mengenal orang tua saya. Keinginan orang tuanya agar saya menjadi menantunya segera. Pertama saya kaget ada apa ini secepat ini. Saya tanya ke dia, apa benar kamu mencintai sayaapa kamu benar-benar  sungguh ingin menikahi saya dan berkeluarga dengan saya? Kita baru saja berkenalan,kenapa secepat itu ingin menikah dengan saya?.
 

Selama hidup saya belum pernah berpacaran dan mengenal pria begitu dekat. Kata-kata manisnya dan perilakunya yang baik membuat saya jatuh cinta kepadanya. Dia dan keluarganya datang untuk melamar saya. Ayah saya adalah kakak kelasnya ayahnya, tapi Ayah saya tidak mengenal begitu dekat dengan ayahnya. Orang tua saya berkata apa yang membuat kamu bahagia dan sesuai dengan pilihan mu, Orang tua pasti mengikuti keinginan anaknya.
 

Walaupun kami menjalin hubungan LDR tetapi kami seperti pasangan pasangan lain yang saling jatuh cinta dan selalu menyatakan cinta satu sama lain, Dalam pernikahan kami 3 tahun pernikahan hubungan kami saya harmonis tidak ada masalah dan semua orang juga melihat kita baik baik saja dalam 10 tahun pernikahan. Saya adalah Ibu Rumah Tangga,sedangkan dia adalah seorang dokter umum PTT di Balikpapan. Awal berumah tangga kami baik-baik saja dan bahagia juga harmonis.
 

Tiga tahun pernikahan kami ternyata di belakang saya dia selingkuh, perasaan saya hancur dan marah tetapi saya tetap diam,berdoa dan memaafkannya. Saya yakin semua wanita yang mencintai suaminya akan bisa merasakan ketika suami kita melakukan hal hal yang tidak baik. Perasaan itu terbukti ketika secara tidak sengaja saya melihat laptop suami saya terbuka dan ada email, YM, facebook  semua kata kata mesra ,statusnya belum menikah dan ingin segera berjumpa. Hati ini hancur pernikahan saya hancur. Segera saya cek handphone suamiku walaupun dengan kemarahannya karena tidak suka HP nya di cek cek, tetapi tetap saya buka. Dan semua SMS juga kata katanya mesra.

 

Setiap saya bertanya itu siapa, dia hanya menjawab bukan selingkuhan hanya teman, itu hanya pasien.  Tetapi mana ada teman mesra seperti itu. Kejadian itu tidak pernah saya lupakan, tetapi tidak saya perpanjang dan tidak saya ceritakan baik ke orang tua ataupun mertua saya.

Tahun ke 4 pernikahan, suami ku memutuskan untuk bersekolah kedokteran lagi untuk ambil spesialis anak tetapi dia tidak mau mengajak saya. Selama dia di luar negri saya tinggal di rumah mertua, mertua saya sangat menyayangi saya dan saya pun menghormati mereka. Biaya untuk dia sekolah adalah dari  uang tabungan saya. Dan untuk mengunjungi nya saya menggunakan uang orang tua saya dan mertua tetapi uang yang dari mertua saya di minta lagi oleh anaknya.

 

Tidak hanya itu selama saya menikah saya hanya di beri nafkah 300ribu setiap bulannya untuk kebutuhan lain saya dapat sumbangan dari saudara dan orangtua saya, mungkin pasangan pasangan lain mempunyai impian ingin mempunyai rumah sendiri atau ingin mempunyai keturunan tetapi inii tidak terjadi dalam pernikahan kami. Setiap saya ingin membicarakan ingin mempunyai rumah sendiri pasti dia tidak mau dan dari awal menikah sampai sekarang ketika kami berhubungan dia selalu memakai kondom. Padahal semua keluarga selalu bertanya kapan kami mempunyai keturunan. Di dalam hatiku bagaimana saya bisa hamil kalau setiap kali memakai kondom. Dia sebagai Dokter juga tahu kalau saya ada beberapa alergi, dengan dia selalu memakai kondom alergi saya kambuh. Jadi setiap berhubungan esok hari nya saya harus berobat dan itu menyakitkan saya. Tetapi dia seperti tidak perduli, dia tetap memakai kondom.

 

Setiap saya bertanya tentang kenapa dia berselingkuh, kenapa dia tidak mau mengajak saya ketika belajar di luar negeri, kenapa tidak mau memboyong saya ketika dia di tugaskan menjadi dokter anak di Bali. Jawabannya selalu marah-marah dan mengancam saya untuk bercerai. Lalu terungkaplah ternyata suamiku telah menikah siri dengan selingkuhannya awal tahun 2014 saya drop sekali tidak dapat menerima kenyataan ini. Selama 3 bulan saya hanya berpegangan pada Tuhan dan selalu berdoa berusaha mendekatkan diri pada Tuhan agar iman saya tetap dan tidak membuat orang tua saya bersedih, karena ketika saya drop mereka juga hancur setelah mendengar apa yang selama bertahun tahun saya alami dengan suami saya. Di dalam hati saya “biarlah dia berbuat seperti itu pada saya, saya ikhlas. Kehidupannya adalah miliknya, keluarganya adalah keluarganya”

 

Jalan hidupku masih panjang, saya bisa bangkit dan membenahi hidup. Ketika kita ikhlas Tuhan akan menujukkan jalannya untuk kita. Saya sekarang merasa hidup, merasa lega tidak ada beban tidak ada kesakitan, saya bisa melihat dunia itu lebih berwarna. Sekarang saya bekerja di pusat kota jakarta, ketika saya menikah tidak terfikir akan bekerja di jakarta. Menjadi single membuat saya lebih dekat dengan keluarga, ibadah ku menjadi lebih lancar.dan saya menjadi punya tujuan hidup yang jelas untuk saya dan orang tua saya.

 

Teman – teman ketika kita jatuh terpuruk, harus cepat – cepat bangkit. Jangan selalu melihat ke belakang lihat masa depan kita yang lebih baik dan membahagiakan. Walaupun kita single tidak membuat kita jadi tidak mewarnai hidup atau melihat dunia. Kita bisa melakukan apa saja tanpa harus ada pasangan.

 



Anonim

No Comments Yet.