Artikel Komnas Perempuan: Kekerasan Dalam Pacaran


Monday, 30 Nov -0001


Halo Urbanesse!
Kali ini kita mau bagikan artikel dari Komnas Perempuan yang berbicara tentang Kekerasan dalam Pacaran (KDP). Mereka menyampaikan materi ini di Semiloka yang diadakan oleh Yayasan Pulih di Fakultas Psikologi Universitas Indonesia. Kekerasan dalam Pacaran bisa menjadi bibit dari Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) dan sangat perlu kita ketahui. Untuk lebih lengkapnya, urbanesse bisa langsung baca artikel ini yang terbagi menjadi 2 bagian.
Berikut adalah bagian I.
Kekerasan dalam Pacaran: Penyalahgunaan Kekuasaan terhadap Pasangan
Oleh: Mariana Amiruddin (Komisioner Komnas Perempuan) 

 

Kekerasan dalam Pacaran, Persoalan Serius

 

Pada tanggal 25 Maret 2015, Yayasan Pulih mengadakan Semiloka tentang “Kekerasan dalam Pacaran” di Fakultas Psikologi Universitas Indonesia. Dalam Semiloka ini, Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan (Komnas Perempuan) menjadi salah satu narasumber untuk memaparkan tentang mengenali bagaimana kekerasan dalam pacaran terjadi, dan apa yang perlu dilakukan.

Pada remaja ataupun pada orang dewasa muda, bukan hal aneh untuk melakukan hubungan spesial dengan seseorang, yang biasanya disebut sebagai hubungan pacaran. Memiliki seorang kekasih konon dapat membangkitkan semangat hidup seseorang, merasa tidak sendirian, dan merasa menemukan jiwa yang sama yang diidam-idamkan (soulmate). Tetapi tahukah anda bahwa tidak sedikit dari setiap dari kita, pernah mengalami kekerasan dalam pacaran. Apakah sebagai pelaku, ataupun sebagai korban. Baik pelaku maupun korban sering tidak pernah merasa bahwa hubungan mereka sudah tidak sehat, hubungan mereka penuh dengan kepedihan, ketakutan, rasa tidak aman, saling menyakiti, dan bahkan tidak jarang yang berakhir dengan pembunuhan, atas nama kecemburuan dan lain sebagainya. Kekerasan dalam pacaran dalam hal ini adalah hal yang serius. Komnas Perempuan dalam Catatan Tahunan (Catahu) di tahun 2014 yang telah diluncurkan di tahun 2015, telah menemukan sebanyak 21% kekerasan dalam pacaran dari seluruh temuan kekerasan terhadap perempuan yang ada. Kekerasan dalam pacaran merupakan kedua terbesar setelah kekerasan dalam perkawinan (Kekerasan dalam Rumah Tangga/KdRT).

Celakanya, kekerasan dalam pacaran dapat mengakibatkan perubahan hidup seseorang, seperti: perubahan mental yang buruk, ketidakpercayaan diri, ketakutan, trauma bahkan bunuh diri atau dibunuh. Kehidupan yang buruk seperti ini patut diperhatikan, dan bukan lagi dapat kita atas namakan sebagai cinta atau kasih sayang dalam pasangan. Tidak mudah mengenal kekerasan dalam pacaran saat kita sedang menjalaninya, karena itu untuk memudahkan, mari kita kenali tanda-tanda umum terkini yang bisa kita ketahui sebagai kekerasan dalam pacaran.

 

Tanda-tanda Kekerasan dalam Pacaran

Supaya anda mampu membedakan antara hubungan yang sehat, tidak sehat atau hubungan yang kasar, dan saat anda sedang berpacaran, tentu itu akan lebih sulit daripada apa yang anda pikirkan, sebab dalam sebuah hubungan tidak pernah ada yang sama, apalagi dengan atas nama cinta. Cinta dalam sebuah hubungan apapun seharusnya adalah saling menghargai (respect), bukan menguasai. Oleh karena itu anda perlu melihat tanda-tanda berikut untuk memperhatikan bagaimana sebuah hubungan pacaran itu disalahgunakan apakah oleh anda, pasangan anda, atau apa yang terjadi pada teman anda:

 

1. Memeriksa ponsel, email atau jaringan sosial tanpa izin

2. Cemburu ekstrim atau membuat situasi tidak aman

3. Sering meremehkan atau mengejek

4. Marah yang meledak-ledak

5. Diisolasi dari keluarga dan teman-teman

6. Membuat tuduhan palsu

7. Perubahan suasana hati tak menentu

8. Secara fisik menimbulkan rasa sakit atau terluka dengan cara apapun

9. Posesif

10. Menentukan sepihak pada pasangan tentang apa yang harus dilakukan

11. Berulang kali menekan pasangan untuk melakukan hubungan seks

 

Jika anda atau seseorang yang anda kenal melihat tanda-tanda peringatan dalam hubungan mereka, katakanlah pada mereka bahwa itu bukan hubungan pacaran yang sehat. Katakanlah, bahwa di saat-saat seperti itu, pola-pola kekerasan di atas bukanlah bentuk perhatian, melainkan kekerasan. Beritahukanlah bahwa itu bukan hubungan asmara yang diidamkan, bukan cinta yang kita kenal, itu adalah kekerasan. Katakanlah bahwa ketika hubungan semakin tidak sehat, siapkan mental untuk berani keluar dari lingkaran kekerasan, untuk berani membuat keputusan untuk meninggalkan pasangan, dan sayangilah terlebih dahulu dirimu sendiri sebelum terlambat. Hal lainnya, korban biasanya dalam posisi yang tidak punya power, atau tidak berdaya. Karena itu korban perlu memperlihatkan dirinya kuat, sehingga pelaku dapat menyadari bahwa perilakunya merugikan pasangannya, pelaku tidak dapat berbuat seenaknya. Keberanian untuk menghadapi situasi tersebut sangat penting, terutama bila pasangan sebagai pelaku masih bisa diajak diskusi, atau masih dalam kondisi yang aman.

 

Apa itu Kekerasan dalam Pacaran?

Kekerasan dalam pacaran adalah ditemukannya pola perilaku yang kasar - biasanya serangkaian perilaku kasar sebagaimana perjalanan waktu - yang digunakan untuk mengerahkan kekuasaan dan pengendalian terhadap pasangan. Inilah kata kuncinya: KEKUASAAN DAN KONTROL PADA PASANGAN. Bentuk-bentuk yang biasa terjadi adalah (lihat diagram dalam http://www.breakthecycle.org/learn-about-dating-violence) yaitu kekerasan secara fisik, seksual maupun psikis. Diantaranya adalah dengan menggunakan status sosial, menekan melalui kelompok teman sebaya, penyalahgunaan emosional, intimidasi, ancaman dan pemaksaan hubungan seksual. Lebih jelasnya adalah sebagai berikut:

1. Menggunakan Status Sosial:

(a). Dia atau anda memperlakukan anda seperti pembantu;

(b). Dia atau anda membuat semua keputusan;

(c). Dia atau anda bertindak seperti Tuan;

(d). Dia atau anda menentukan seperti apa peran laki-laki dan perempuan.

 

2. Menekan melalui Kelompok Teman Sebaya:

(a). Mengancam untuk mengekspos kelemahan atau menyebar rumor tentang Anda;

(b). Menciptakan kebohongan yang berbahaya tentang anda kepada rekan-rekan anda.

 

3. Kemarahan/Penyalahgunaan Emosional:  

(a). Menempatkan anda di bawah pasangan anda;

(b). Membuat anda merasa buruk tentang diri anda sendiri melalui nama panggilan;

(c). Membuat anda berpikir bahwa anda memang gila;

(d). Berdebat tidak henti menjadi semakin rumit;

(e). membuat anda merasa bersalah.

 

4. Intimidasi/Ancaman/Pemaksaan Seksual:

(a). Membuat anda takut ketika berpenampilan tertentu, bertindak, atau melakukan gerakan tertentu;

(b). Menghancurkan segala hal;

(c). Menghancurkan barang-barang anda;

(d). Menyiksa hewan peliharan anda bila anda memelihara hewan;

(e). Memamerkan senjata;

(f). Mengancam untuk menyakiti anda, mengancam untuk meninggalkan, bunuh diri, melaporkan anda kepada polisi, membuat uang anda habis, membuat anda melakukan hal-hal ilegal;

(g). Memanipulasi atau membuat ancaman untuk mendapatkan seks;

(h). Membuat anda mabuk atau membius anda untuk mendapatkan seks;

(i). Berulangkali memaksa tindakan seksual setelah anda mengatakan tidak.

 

Setiap remaja ataupun orang muda dapat mengalami kencan pelecehan atau perilaku hubungan yang tidak sehat, terlepas dari jenis kelamin, orientasi seksual, dalam status sosial ekonomi apapun, etnis, agama dan budaya. Hal itu tidak membedakan dan dapat terjadi pada siapa saja dalam hubungan apapun, apakah itu bentuk hubungan yang santai, jangka pendek, serius, atau bahkan dalam perkawinan.

Bila kita melihat tanda-tanda dan bentuk-bentuk tersebut, kita dapat membuat kategori kekerasan dalam pacaran dalam tema besar sebagai berikut:

 

1. Penyalahgunaan Fisik:

Setiap penggunaan kekuatan fisik dengan maksud untuk menimbulkan rasa takut atau cedera, seperti memukul, mendorong, menggigit, mencekik, menendang atau menggunakan senjata;

2. Verbal atau Emotional Abuse:

Perilaku non-fisik seperti ancaman, hinaan, sering memantau, merendahkan, intimidasi, isolasi atau menguntit.

3. Pelecehan Seksual:

Setiap tindakan yang berdampak kemampuan seseorang untuk mengontrol aktivitas seksual mereka atau keadaan di mana aktivitas seksual terjadi, termasuk pemerkosaan.

4. Penyalahgunaan Digital:

Penggunaan teknologi dan/atau jaringan media sosial untuk mengintimidasi, melecehkan atau mengancam pasangan saat ini atau mantan pacar seperti menuntut password, memeriksa ponsel, cyber bullying, sexting non-konsensual, berlebihan atau mengancam teks atau menguntit di media sosial.

5. Isolasi /Eksklusifitas:

Mengendalikan apa yang anda lakukan, yang anda lihat, dengan siapa anda berbicara, apa yang anda baca dan tonton, kemana anda pergi, membatasi keterlibatan anda dengan orang luar, menggunakan kecemburuan untuk membenarkan tindakan mereka (pelaku).

 

Tunggu bagian II besok ya Urbanesse... tentang Temuan Komnas Perempuan tentang KDP dan Bagaimana Menangani KDP.

 



Unknown

No Comments Yet.