Anak sulung, Tulang Punggung Kedua Keluarga


Monday, 30 Nov -0001


Aku terlahir sebagai anak sulung dari 4 bersaudara, adik-adikku masih duduk di bangku sekolah dasar, sekolah menengah pertama, dan adik kedua ku baru menyelesaikan bangku sekolah menengah atas.
 

Keluargaku bukan termasuk keluarga yang kaya, hingga setelah lulus sekolah menengah atas kami tidak bisa langsung melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi karena takut membebani orangtua. Sebagai anak pertama, setelah lulus sekolah menengah atas aku memutuskan untuk merantau dan mengikuti pamanku di Ibukota untuk mengadu nasib. Sebelum merantau, aku memutuskan untuk bekerja di kota kelahiranku. Walaupun waktu itu hanya menjadi pramuniaga musiman yang hanya dipekerjakan untuk bulan Ramadhan di sebuah toko baju. Tetapi hasil yang didapat ternyata belum cukup memenuhi kebutuhan aku sendiri, hingga akhirnya meskipun atasanku meminta aku tetap bekerja disitu aku memutuskan untuk berhenti.


Di Jakarta, aku bekerja di perusahaan pamanku.. Walaupun perusahan kecil, tetapi perusahaan beliau mampu mempekerjakan sampai 10 karyawan. Aku dipekerjakan sebagai admin di sana. 1 sampai 2 bulan bekerja, tidak ada masalah yang  berarti di sana. Hingga sampai 3 bulan aku bekerja, atasan-atasanku mengundurkan diri karrena alasan perusahaan sedang turun dan untuk mengurangi biaya gaji karyawan. Awalnya aku enjoy dan menikmati pekerjaanku itu sampai hampir setahun. Sampai akhirnya aku memutuskan untuk kuliah, mengambil kelas karyawan untuk meneruskan pendidikanku.
 

Bulan-bulan pertama aku kuliah, aku sangat menikmati, Karena memang aku berasa menjadi “aku” yang sebenarnya. Bertemu dengan teman sebaya, curhat, dll. Tetapi, lama-kelamaan masalah finansial mulai menyerang..
 

Sistem pembayaran yang diterapkan dikampus bisa dicicil per bulan agar tidak terlalu berat dan membebankan jika memasuki semester baru. Bulan pertama dan kedua, tidak ada masalah dalam pembayaran kuliah. Karena memang aku tidak memikirkan biaya hidup harian seperti kontrakan, makan, dll. Tetapi, memasuki bulan berikutnya, aku mulai mengalami keterlambatan pembayaran kuliah, karena pada saat itu bertepatan dengan waktu ujian adikku yang kedua. Adikku ini sekolah di sekolah menengah kejuruan swasta yang memang membutuhkan biaya lebih besar dari sekolah negeri di kota ku. Orang tua ku tidak memiliki biaya yang cukup untuk itu, akhirnya mau tidak mau tabunganku untuk kuliah kubayarkan untuk keperluan ujian adikku. Di bulan berikutnya, ketika aku mulai menabung kembali untuk kuliah, adikku yang nomor tiga akan memasuki bangku sekolah menengah pertama. Karena adikku yang nomor tiga ini memilki bakat khusus, jadi dia meminta untuk didaftarkan di sekolah yang memang bagus di kota ku. Tentu dengan biaya yang tidak sedikit, meskipun SMP memiliki DANA BOS, namun tidak menjamin biaya pendaftarannya menjadi gratis. Okee.. aku mengalah kembali.. tabunganku yang baru seuprit itu aku pakai untuk biaya pendaftaran adikku yang nomor tiga.
 

Sampai akhirnya aku berpikir, ternyata memang gajiku pada saat itu benar-benar minim dan tidak mencukupi biaya kuliah+tabunganku. Akhirnya aku pun memutuskan untuk mencari pekerjaan lain yang memang lebih baik, dan pengalaman yang lain pula. Hingga akhirnya aku diterima di perusahaan yang lebih baik, lebih besar, dan lebih professional. Gajiku pun lebih baik di sini, hehehe.
 

Namun meskipun gajiku lebih besar dari sebelumnya, aku sekarang dituntut untuk membayar biaya kontrakan, makan, dll. Karena aku memutuskan untuk mandiri dan keluar dari rumah pamanku dulu.
 

Ternyata tetap saja, aku dituntut untuk mencukupi kebutuhan adik-adikku juga.. hingga akhirnya sering aku mengalami kewalahan dalam finansial. Setiap bulannya aku selalu disuguhi tagihan-tagihan bulanan seperti kontrakan, tagihan pulsa, dll. Belum sms-sms adik untuk meminta kekuranganyang orang tua ku tidak bisa penuhi.. Stress terkadang..


Akhirnya aku pun memutuskan untuk cuti kuliah, sampai tabunganku kembali seperti dulu..

Setelah aku memutuskan untuk cuti kuliah, yang aku rasa beban finansial ku mulai berkurang. Aku mulai bisa menabung kembali, meskipun menunggu sisa-sisa biaya hidup bulananku, hehehe..

Ternyata memang tabungan itu perlu, dan sangat diperlukan.. setelah yang kurasa naik turunnya keuangan, terlebih jika mendadak ditengah bulan ada adik yang mengeluh harus bayar ini-itu, atau ujian yang harus membayar uang kuliah, atau kesehatanku yang tiba-tiba menurun. Tanpa tabungan, apalagi seperti aku seorang perantau, apa yang akan dilakukan? Karena orang lain belum tentu bisa diandalkan dan dapat membantu. Meskipun kita sebelumnya pernah mebantu dan dapat diandalkan oleh mereka.
 

Aku ingin menjadi seorang wanita yang benar-benar mandiri dalam hal keuangan, terlebih aku adalah anak sulung.. yang selalu menjadi andalan untuk keluarga dan adik-adik..

 



Herda Ayudiana

No Comments Yet.