Aku Selalu Curiga Pada Pasanganku


Monday, 30 Nov -0001


Memiliki pasangan yang emosinya labil memang memusingkan, seperti cerita teman saya ini Sebut saja namanya Sopi.  Dia adalah seorang wanita muda yang sudah memiliki pasangan dengan jarak 7 tahun lebih tua darinya. Hubungan mereka baru menginjak tahun pertama ketika itu, seperti halnya pacaran anak muda pada umumnya, hubungan mereka selalu diwarnai dengan cekcok karena masalah kecil.

Hal tersebut terjadi karena Sopi adalah tipe wanita yang selalu curiga pada pasanganya dan merasa takut untuk kehilangan yang berlebihan terhadap pasangannya. Karena sifatnya itulah dia selalu tidak mempercayai apa yang dilakukan oleh pasangannya.Setiap pertemuan mereka, teman saya itu selalu mengecek handphone pasangannya, berikut semua inbox yang ada pada setiap sosmed milik pasangannya. Jika menurutnya ada sesuatu yang janggal, maka dia akan mengungkapkan kemarahannya. Sehingga selalu terjadi cekcok antara mereka. Meskipun demikian, pasangannya tetap menerima sifat Sopi yang demikian karena dianggap teman saya terlalu mencintainya.
 

Tetapi keadaan tersebut tidak berlangsung lama. Sopi dikhianati oleh pasangannya. Itu terbukti karena pada pertemuan mereka, seperti biasa temanku katanya sering meng’audit’ handphone pasangannya, dan menemukan inbox dari nomor tanpa nama dengan kata kata mesra khas orang pacaran pada umumnya. Tanpa bertanya pada pasangannya, kawanku itu diam – diam mencari tahu siapa pemilik nomor tersebut, dia mencari tahu ada apa antara pemilik nomor tersebut dengan pasangannya. Hingga akhirnya terbukti, bahwa pemilik nomor tersebut adalah mantan kekasih pasangannya yang memang sedang dekat kembali. Hal tersebut terbukti, dengan kiriman – kiriman kata kata mesra dari pasangannya terhadap wanita tersebut.

Tentu saja hal itu membuat temanku Sopi sakit, terlebih ketika itu Sopi dalam keadaan mengandung anak dari pasangannya. Akhirnya temanku memberanikan diri bertanya kepada pasangannya dan timbullah cekcok diantara mereka. Pasangannya berkata, hal tersebut terjadi karena dirinya terlalu jenuh dengan sikap temanku yang selalu menaruh curiga terhadapnya dan selalu memperlakukan dia sebagai ‘milik’ nya seutuhnya.

Lagi-lagi temanku Sopi tetap tidak terima, dia menjadikan dirinya sebagai ‘korban’ dalam hubungan itu. Terlebih dengan keadaan dia yang kala itu tengah mengandung. Hingga akhirnya, meskipun dia sedang mengandung mereka memutuskan untuk berpisah. Meskipun berpisah, pasangannya tetap bertanggung jawab dengan membiayai kebutuhan dia selama mengandung. Namun karena faktor stress dll, kandungan Sopi pun bermasalah di usia kandungan ke 5. Sehingga bayi yang dikandungnya meninggal dan harus dilahirkan segera.
 

Hal itu tentu membuat temanku makin down, dan putus asa. Setelah kejadian tersebut, dia lebih intropeksi diri. Dia mereka ulang kejadian-kejadian yang menimpa dirinya selama ini. Sehingga dirinya menyadari, bahwa ternyata sifat dirinya selama ini jika memiliki hubungan dengan seseorang adalah salah. Meskipun dirinya dikhianati, kesalahan tidak sepenuhnya ada pada pasangannya. Karena memang betul, jika temanku itu selalu menaruh rasa curiga terhadap pasangannya, jadinya pasangannya berpikirlebih baik saya melakukan hal tersebut. Daripada hanya dicurigai, lebih baik benar-benar melakukan apa yang dicurigai. Kemudian sifat temanku Sopi yang selalu memperlakukan pasangan seolah-olah hanya ‘miliknya’ ternyata salah. Selama ini dia menginginkan semua waktu dari pasangannya hanya untuk dia, padahal jelas-jelas pasangannya memiliki waktu lain untuk hobby nya, untuk keluarganya, dan untuk teman-temannya.  Sopi bilang ke saya setelah dirinya mengakui hal-hal yang salah, dia tidak merasa sebagai ‘korban’.

 

Akhirnya dia memutuskan untuk bangkit dan memperbaiki diri. Hingga memutuskan untuk membuang sifat-sifat buruk yang sebelumnya ada pada dirinya itu. Hubungan temanku tersebut dengan mantan pasangannya dulu kini membaik dan mereka memutuskan untuk memulai kembali dari awal. Namun, tentunya dengan perubahan dari diri Sopi yang kini mampu menjadi wanita lebih bijaksana dalam mengontrol emosinya tidak lagi gampang ngambek, menangis, mengeluh, bisa  mengurangi sifat curiga yang berlebihan dan rasa ingin tahu yang kelewat batas. Akhirnya kini Sopi dan pasangannya telah meresmikan hubungannyadalam sebuah ikatan pernikahan. Sekarang Mereka nampak menjadi keluarga muda romantis, kompak, dan saling support dalam masing-masing pekerjaan walau kata Sopi rintangan dalam Pernikahan malah akan lebih banyak dari sebelumnya namun temanku itu percaya bahwa tanpa emosi dan saling percaya “Love will always find a way.



Anonim

No Comments Yet.