Accept Yourself


Monday, 30 Nov -0001


Accept Yourself

Do I love myself enough? Baiknya pertanyaan ini sering-sering diajukan pada diri kita sendiri. She deserves to be loved! Pastikan pribadi kita menerima kasih yang cukup bahkan melimpah.

Saya punya pengalaman yang ingin saya share kepada Urbanesse, bagaimana saya belajar untuk mengasihi diri saya apa adanya. Dalam 1 tahun terakhir, berat badan saya mengalami kenaikan hampir 10 kilogram. Kondisi ini membuat saya betul-betul gak nyaman, apalagi kalau ada orang yang mulai bilang, "kamu gemukan ya?!".

Waktu itu saya betul-betul gak suka dengan penampilan saya. Sampai-sampai pernah juga punya perasaan enggan bercermin. Mungkin kedengarannya lebay yah alias berlebihan. Tapi, seriously! Ini yang saya rasakan. Saya merasa lebih jelek. Pipi saya lebih tembem, dan saya ingin yang lebih tirus. Urbanesse pasti paham maksud saya.

Saya berusaha kembali ke angka (timbangan) yang lama, tapi gagal total. Tiap kali mulai diet, selalu berujung dengan kompromi. Pun soal olah raga, timbul tenggelam. Alhasil, saya jadi tambah gak nyaman dengan diri saya. Syukurnya, apa yang saya alami ini gak berlangsung lama.

Suatu titik, perasaan saya yang galau gak jelas itu akhirnya berubah juga. Saya gak lagi enggan dengan tubuh saya yang mengalami bobot berlebih tersebut. Saya juga gak punya pikiran yang kusut lagi soal penampilan saya itu. Kenapa? Karena berat badan saya mulai turun. No! Saya hanya bergurau :D

Perasaan saya bisa berubah karena paradigma saya yang berubah. Saat itu berat badan saya masih sama. Tetapi pembaharuan pikiran yang saya alami membuat cara pandang saya jadi berubah.

Saya ingat. Malam itu saya berdoa, berkeluh kesah soal kegalauan saya pada Tuhan. Terus terang, hal ini adalah langkah terakhir saya waktu itu. Gak terpikir sama sekali untuk membawanya dalam doa. Setelah berminggu-minggu bergulat sendiri, akhirnya saya memutuskan untuk datang mengadu kepada Pencipta saya. "Tuhan, ada apa dengan tubuh saya. Rasanya dia terlalu sensitif. Mudah sekali untuk naik. Aku gak ngerti kenapa belakangan jadi begini....", begitu isi curahan hati saya. Dan awal pembicaraan tersebut rupanya berakhir dengan kelegaan. Berat badan saya belum berubah, tapi pandangan mata saya jadi berubah. Tiba-tiba, di depan cermin saya gak merasa jelek lagi seperti sebelumnya. Aneh yah! Ini yang dinamakan perubahan cara pandang. Di sana saya bisa menerima diri saya dan malahan tersenyum, punya hati yang bersyukur.

Ini pengalaman saya yang belum lama lewat. Sampai sekarang saya masih berusaha untuk hidup lebih sehat, dan mencapai berat badan yang semula. Bedanya sekarang, saya melakukannya dengan hati yang tulus pada diri sendiri. Saya gak justru kehilangan rasa kasih pada diri saya, pada tubuh saya, seperti yang sebelumnya. "Gapapa kalau kamu sekarang gemuk... Aku juga tetap sayang dan berterima kasih sama kamu... Ada waktunya yah sayang... kamu bisa kurusan!", ini yang seringkali saya gumamkan dalam hati. Lucu gak sih? Tapi beneran, it works! Ungkapan rasa sayang akan membuat kita jadi lebih menerima diri kita apa adanya.

Ada beberapa pengalaman lainnya juga yang seringkali buat saya jadi gak nyaman, gak sayang sama diri saya sendiri. Contohnya, waktu melihat orang tertentu lebih hebat dari saya. Jujur, saya jadi suka minder, dan rasanya ingin copy paste orang itu ke dalam diri saya. Tapi itu dulu. Sekarang kalau saya ketemu orang-orang itu tadi, saya bisa bilang (dalam hati) dengan Percaya Diri, "Yup, kelebihan dia di situ. Tapi gw juga punya kelebihan yang lain, yang dia gak punya". Kadang-kadang kita memang perlu ngebanggain diri kita sendiri (asal jangan berlebihan aja yah ;p).

Yuk kita renungkan, adakah hal-hal yang membuat kita secara gak sadar jadi gak sayang sama diri kita sendiri. Dari pengalaman-pengalaman yang saya alami, saya menemukan ada 3 hal yang perlu seorang perempuan lakukan untuk menjadi pribadi yang mengasihi dirinya dengan tulus.

1.       Jangan membandingkan diri

Kalau hidup ini diibaratkan puzzle, kita ini adalah potongan-potongan yang membentuk gambaran penuhnya. Saya dan Urbanesse masing-masing punya keunikannya sendiri. Cerita hidup kita berbeda karena dengan begitu kita bisa saling belajar dan melengkapi. Kalau tiba-tiba saya mulai membandingkan diri, ini yang selalu saya ingat, "Tuhan gak menciptakan 2 potong puzzle yang sama persis!".

2.      Menerima Kekurangan dan Menggali Kelebihran

Saya pernah berusaha menjadi si-A yang punya bakat dan kelebihan yang saya suka. Tapi ternyata.. Hehe, gak bisa! Dari situ saya belajar menerima kenyataan bahwa saya memang gak punya bakat di sana. Alhasil, saya jadi lebih menikmati menjadi diri saya. Seperti yang dialami teman saya itu, saya percaya bahwa pasti ada orang lain yang diam-diam juga melirik pada kelebihan yang saya miliki. (Hahaa, Percaya Diri ;p)

3.      Bersikap Lembut Pada Diri Sendiri

Saya adalah orang yang kalau melakukan kesalahan atau kegagalan, akan saya pikirkan terus menerus. Dan kalau cukup parah, saya bisa menyesal yang berlebihan dan gak sadar jadi terlalu menyalahkan diri. Sekarang saya menjadi pribadi yang belajar untuk lebih lembut pada diri sendiri. "Gak apa-apa.. Gak apa-apa kok.. Belajar yah dari sini!", dengan lembut ini yang saya ucapkan (sambil ngelus-ngelus lengan) pada diri sendiri kala sedang down. Belajar untuk menikmati proses kehidupan dengan bersikap lebih ramah kepada diri sendiri.Masing-masing kita pasti punya pemicu untuk mengalami saat-saat dimana kita gak bisa mengasihi diri kita. Urbanesse sendiri pasti punya cerita dan mungkin cara mengatasi yang berbeda.

Setiap perempuan ingin dikasihi, dimengerti dan diterima oleh orang-orang disekelilingnya. Pertanyaannya, apakah kita sudah cukup mengasihi, mengerti dan menerima diri kita sendiri dengan tulus? Urbanesse, love yourself!



Unknown

No Comments Yet.