9 Hal Dari Dalam Diri Kita


Monday, 30 Nov -0001


 

KASIH

Sifat kasih harus senantiasa dipupuk dalam diri seorang wanita, karena melalui sifat kasih-lah seorang wanita berfungsi utuh dalam mengemban kewajibannya hidup di dunia ini. Keluarga banyak berharap pada kasih sayang yang bisa kita bagi dimanapun & dalam kondisi apapun. Tantangan terberat bagi kita dalam mempertahankan sifat kasih adalah keinginan berbalas mendapatkan kasih yang sepadan. Padahal, keikhlasan baru dikatakan murni, manakala pujian maupun caci maki dari sesama, dirasakan tiada beda, kita meresponnya harus tetap dengan rasa terima kasih. Dulu saya berharap kasih berbalas, kini setelah belajar banyak tentang kepasrahan & keikhlasan, maka cukuplah kasih sayang Sang Maha Pengasih & Maha Penyayang yang jadi pengharapan saya.

 

SUKACITA

Dalam merespon segala kondisi yang kurang menguntungkan, saya usahakan selalu dalam suasana suka cita. Hal ini penting karena rasa suka cita itu menularkan energi positif bagi sekeliling saya terutama saya tidak ingin anak-anak & keluarga menjadi larut dalam masalah yang sudah pasti cepat ataupun lambat akan berlalu. Awalnya pasti sulit, namun dengan pembiasaan yang intens, hal tersebut relatif menjadi lebih mudah. Caranya? Misalnya dengan mengingat saat-saat menyenangkan & menenangkan di beberapa momen kehidupan kami, kelucuan masa kecil anak-anak, hal-hal konyol memalukan yang pernah terjadi yang menyemangati kami untuk memperbaiki diri, kebersamaan yang berkualitas, dll.

 

KEDAMAIAN BAGI SESAMA

Saya sangat beruntung mendampingi seorang lelaki tangguh yang cenderung tidak ingin berkonflik dengan lingkungan sekitarnya, baik dalam hal bertetangga maupun berkarir di kantor, bersosialisasi dengan teman maupun kaum kerabat, sanak saudara. Bagi kami, tiada yang lebih berharga di dunia ini selain rasa aman & nyaman yang kami rasakan & bisa kami tebarkan dengan lingkungan sekitar. Adapun tantangan yang biasanya muncul adalah rasa iri hati/dengki orang yang melihatnya, mungkin mereka berpikir kami sudah mapan dengan tuntutan kebutuhan sehingga tidak pernah berhadapan dengan kesulitan ekonomi. Suami saya berprinsip, jika saya memasak hingga menimbulkan aroma yang tercium hingga tetangga sekitar kami, maka wajib berbagi walaupun tidak mencukupi semua anggota keluarganya. Kami berusaha mencoba mendekati siapapun dia, sekuat tenaga, kami yakinkan bahwa kami sama sekali bukanlah ancaman bagi dirinya. Dengan demikian kami merasa tak ada yang perlu ditutupi, inilah apa adanya kami, ketulusan kami menjalin tali persaudaraan dengan sesama. Ini melahirkan ketenangan yang luar biasa, kepercayaan diri & penerimaan dari lingkungan.

 

PENGUASAAN DIRI

Dalam beberapa hal, karakter penguasaan diri merupakan barometer kedewasaan seseorang. Jika kita dapat berpikir lebih panjang dalam menyikapi ketidaksetujuan, ketidaknyamanan, penolakan, disanalah kedewasaan seseorang teruji. Waktu muda, saya adalah tipe wanita yang masih belum dapat menguasai diri ketika mendapat kritikan yang tajam menyangkut intelektual, kemampuan, pendapat & cara pandang. Namun seiring perkembangan usia, saya mulai dapat belajar untuk menguasai diri, memikirkan dengan cepat kemungkinan negatif yang akan saya dapat jika bersikeras memikirkan rasa ketersinggungan saat itu terjadi. Alhasil saya lebih tenang saat ini ketika mendapat kritik/opini yang mencemooh sekalipun. Bagi saya, diri saya sendirilah yang tahu akan kemampuan & kemauan saya…. orang lain hanya bisa menilai tapi tak punya keahlian dalam mengukur. Saya mengingat, bahwa ‘nilai’ bersifat subyektif, sedangkan ‘ukuran’ bersifat eksakta/obyektif.

 

KEBAIKAN

Saya punya keyakinan bahwa kebaikan yang kita berikan, akan memunculkan kebaikan pada orang-orang yang kita kasihi melalui jalur yang tak disangka-sangka… Ini yang disebut alam semesta pun mendukung. Biarkan orang lain yang berlaku buruk pada kita, janganlah membalas dengan keburukan juga, karena hal ini adalah urusan saya dengan Pencipta saya yang maha Baik. Saya percaya, akan datang hari di mana mulut kita terkunci dan hanya tangan kita yang akan berbicara, mempertanggungjawabkan: dipergunakan untuk apa selama ini, kaki dipergunakan untuk melangkah ke mana… Pikiran dimanfaatkan untuk apa & seberapa sumbangsihnya bagi sesama. Dengan demikian, saya hanya berusaha bertanggung jawab pada tujuan saya hidup di dunia ini, membawa kebermanfaatan bagi sesama. Menabur kebaikan yang pasti akan memanen kebaikan juga dari sumber yang tak disangka-sangka.

 

KEMURAHAN SIKAP DALAM MENGHADAPI SESAMA

Kami sering diuji kemurahan sikap & hati (legowo) pada saat menghadapi Asisten Rumah Tangga, mulai dari proses rekrutasinya, mengajarinya dalam membantu kami, memberitahu aturan dalam rumah, dll. Jujur kami sudah memiliki banyak black list Yayasan ART/PRT, sehubungan dengan track record mereka dalam melayani pengaduan kami ketika bermasalah dengan  pekerja yang mereka berikan. Namun sesaat rasa kecewa, jengkel, marah, sinis, dll yang awalnya kami tunjukkan pada para pengelola Yayasan ART tsb, berganti menjadi lebih pada kewaspadaan kami untuk tidak lagi berhubungan dengan mereka. Kami pikir, kalau mereka memiliki cukup pengetahuan agama dan ekonomi yang tak berkekurangan, tentunya tidak memilih pekerjaan tsb. Mereka pasti akan berpikir seribu kali untuk membohongi kami client-nya, karena jelas pertanggungjawaban kita semua akan diminta saat tiba masanya nanti. Saya pun selalu mencoba untuk menenangkan diri dengan tidak menuntut mereka seperti yang kami harapkan. Bahkan kepada para ART yang dikendalikan oleh Yayasan tak bertanggungjawab tsb, kami cenderung mengasihaninya, memaafkannya, bahkan untuk jangka waktu yang lama kami membekali mereka ketrampilan agar dapat meningkatkan taraf kehidupan maupun sosialnya.

 

KELEMAHLEMBUTAN

Seberapa penting sikap lemahlembut yang harus kita punyai ? Saya terkesan dengan perkataan anak kami suatu ketika pada saat malam kami mengantarkan mereka tidur. Saya sempatkan untuk membelainya sambil menanyakan harapan & keinginannya besok di hari ulang tahunnya, jawaban dia sangat sederhana, “Aku ingin bunda lembut sama aku, tidak sering memaksa aku mandi tepat waktu, makan dihabiskan, belajar sendiri di kamar ga boleh sambil nonton TV, main game hanya sabtu & minggu saja…. Aku pengen bunda sama ayah bicaranya seperti mama-mama temenku yang lain… tidak pernah marah… pokoknya aku pengen ayah sama bunda ga usah takut aku ga ngelakuin yang diminta… jangan diulang-ulang terus.” Sejak itulah kami putuskan, cara mengkomunikasikan DISIPLIN adalah dengan contoh yang benar & kata-kata ajakan/himbauan yang lemah lembut. Saya tidak ingin anak-anak tumbuh dalam ketakutan, dalam tekanan…. Mereka bukan anjing peliharaan yang diajarkan ketrampilan duduk/mengambil koran/mengejar lemparan piring, dll. Mereka adalah prototype kita saat kecil dulu. Kami harus berkaca banyak pada diri sejati mereka. Dulu istilah pendisiplinan yang pernah kami adopsi adalah: perlakukan anak kita 5 tahun pertama sebagai Raja, 5 tahun berikutnya sebagai tawanan, dan sisa tahun selanjutnya sebagai sahabat. Kini kami sudah mulai menyadari, bahwa tawanan yang dimaksud di sini adalah memperlakukan mereka dengan kelemahlembutan dalam pengawasan, agar mereka lebih terbuka memberikan informasi yang kita butuhkan untuk proses membesarkan mereka.

 

KESABARAN

Kesabaran menghadapi segala sesuatu yang tidak sesuai dengan keinginan/harapan kita adalah hal yang membutuhkan energi luar biasa bagi saya. Ketika di tempat kerja menghadapi anak buah yang tidak kompeten membantu pekerjaan kita, bekerja sama dengan rekan sejawat yang berbeda metode maupun cara berpola pikirnya, attitude yang tak terpuji, ataupun menghadapi atasan yang terlalu dinamis berubah strategi atas nama tuntutan bisnis, anak-anak di rumah yang mulai demanding karena merasa memiliki hak setelah seharian ditinggal kerja kantoran, ART yang tidak dapat diandalkan karena ketrampilan & pengetahuan yang terbatas, supir yang malas berinisiatif, dll yang semua itu seolah wajar untuk dijadikan bahan keluh kesah. Stop menyesali segala keruwetan itu, mulai mengambil langkah ke depan, apa yang bisa saya kerjakan saat ini yang lebih nyata memberikan efektifitas hasil & efisiensi resources saat melakukannya. Dulu saya selalu beranggapan bahwa kesabaran ada batasnya, kini saya beralih berprinsip bahwa kesabaran memicu kita untuk berpikir & bertindak lebih kreatif.

 

KESETIAAN

Menikah berarti siap lebih sering menjalin hubungan dengan pribadi-pribadi baru, yang akan mewarnai kehidupan kita selanjutnya. Kita tidak bisa memilih keluarga pasangan kita seperti apa yang kita mau/idamkan, disitulah letak kesetiaan diuji. Banyak sahabat saya yang sering curhat akan urusan dalam negerinya. Beruntunglah saya dapat bercermin dari masalah mereka. Menurut saya banyak hal yang sangat membutuhkan pengorbanan dari keegoisan diri, ketika kita memutuskan untuk menikah. Bisa jadi diantaranya, kita harus merelakan waktu yang biasanya leluasa untuk travelling bebas ke lokasi-lokasi menarik yang menjadi impian masa muda, karena harus berbagi anggaran dengan keluarga pasangan yang masih harus di-support, atau kita harus lebih toleran manakala rencana masa depan berubah setelah mendapati kenyataan tak seindah impian. Karena untuk bahagia itu harus kita putuskan segera dan pada saat ini juga. Saya memilih setia untuk dapat menciptakan kebahagiaan tersebut. Awalnya sulit, karena butuh waktu yang lama untuk penyesuaian diri, melepas angan-angan yang telah dibangun sejak muda, dst, namun seiring perkembangan kedewasaan, dan begitu banyak yang harus dipertimbangkan, dampak negatif, hanya demi mewujudkan egoism tsb, maka lambat laun kesadaran akan kesetiaan itu muncul & selanjutnya mengikat kuat dalam sanubari diri kita masing-masing.

Kasih, sukacita, kedamaian bagi sesama, kebaikan, kemurahan sikap dalam menghadapi sesama, kelemahlembutan, kesabaran dan kesetiaan merupakan 9 hal penting yang perlu ada dalam kehidupan sehari-hari kita. Jika dijalankan satu-persatu, mungkin terkesan lebih mudah untuk dijalankan, tapi sebenarnya ke-9 hal ini berhubungan satu sama lain, tanpa kita sadari.



Unknown

No Comments Yet.