3 Kisah Bijak Tentang Berbagi


Monday, 30 Nov -0001


Hai urbanesse kali ini kita akan membahas tentang “mengapa berbagi itu sulit?. Saya pun merasakan demikian. Namun ada baiknya kita tengok dari 3 kisah bijak berikut sebelum saya menceritakan “the power of to share”.

1.  
Sendok Panjang

Pada suatu hari, seorang manusia meminta kepada Tuhan agar bisa menunjukan gambaran tentang bagaimana surga dan neraka. Dia memintanya agar bisa menambah imannya. Tuhan pun kemudian mengirim seorang malaikat untuk mengabulkan doanya. Jadi, malaikat itu mengantar manusia itu untuk melihat surga dan neraka.

Sang malaikat lalu mengajak manusia ke dalam sebuah ruangan besar. Di tengah ruangan itu, ada sebuah panci besar dengan masakan yang terlihat lezat di dalamnya. Panci itu masih terletak di atas perapian.

Di sekitar panci, ada beberapa orang berkumpul. Mereka semuanya memegang sendok panjang. Berkali – kali mereka berusaha mengambil masakan dalam panci, lalu memasukannya ke mulut mereka. Tapi sendoknya begitu panjang sampai mereka tidak bisa memasukkannya ke mulut mereka. Orang – orang itu tampak pucat, kurus dan susah. Ada keheningan yang mencekam di dalam ruangan itu.

Lalu si manusia bertanya kepada malaikat, “Ruangan apa ini?” “itu lah neraka”, jawab malaikat.

Kemudian, sang malaikat mengajak si manusia ke sebuah ruangan lain. Ruangan itu persis sekali dengan ruangan sebelumnya. Lengkap dengan perapian, panci dalam perapian, dan beberapa orang yang mengelilinginya. Sendoknya juga sepanjang ruangan pertama.

Yang terlihat berbeda adalah orang – orang di ruangan ini terlihat riang, lebih berisi, dan bisa bersenda gurau. Benar – benar sangat berbeda dengan ruangan sebelumnya.


Si manusia melihat ke arah malaikat, “kenapa mereka memiliki karakter tempat yg sama, tapi semuanya terlihat berbeda?” 
“ini adalah surga. Orang – orang di ruangan ini tidaklah berusaha untuk makan sendiri, tetapi mereka saling menolong dengan menyuapi satu dengan lainnya sehingga mereka dapat menikmati masakan di panci tersebut.” jawab malaikat.
“ah, jadi seperti ini lah surga.” Kata manusia.

 

2.   Roti Lapis Untuk Makan Malam

Ada seorang pria yang memiliki jabatan tinggi, mobil dan rumah mewah. Dia juga mengambil keputusan – keputusan penting dalam banyak hal. Sekali dia menandatangani sebuah kontrak maka nilainya sangat besar dan kekayaan pun akan terus bertambah.

Pria ini selalu bertemu dengan orang – orang penting dan kaya. Karena itu, dia sering mengalihkan mereka dari pemandangan tak sedap seperti pengemis dan gelandangan di kotanya.

Suatu malam, ia ingin segera pulang setelah bekerja seharian hingga lelah. Tepat ketika hendak beranjak dari ruangannya, dia melihat sebuah roti lapis kecil yang berada di mejanya. Rotinya sudah hampir basi, jadi dia berpikir untuk tidak memakannya. Dia mengambilnya, memasukkannya ke kantong, dan berniat memberikannya kepada pengemis. Toh, roti kecil dan hampir basi lagi. Lalu, lalu dia memberikannya kepada pengemis pertama yang dia temui. “ini teman,” katanya “untuk makan malam.”

Malam harinya begitu sampai rumah, dia tertidur dan bermimpi mengadakan perjalanan bisnis. Dalam perjalanan bisnis itu, ia dan rekan – rekannya kemudia pergi makan ke restoran termewah di sana untuk mempererat jalinan kerja. Semua orang memesan makanan dan duduk berbincang sambil menunggu pesanan mereka datang.

Beberapa saat kemudian, pesanan pun datang satu per satu. Ada yang memesan daging rusa, daging domba, kaviar, dan lain sebagainya. Semuanya terasa lezat. Kebetulan pesanan yang paling terakhir adalah milik pria itu. Pelayan meletakan sebuah piring kecil di depannya. Begitu dibuka penutupnya, pria itu kaget bukan kepalang. Isinya roti hanya roti lapis kecil yang hampir basi.

“Restoran macam apa ini?!” teriaknya “ini kan restoran termewah, mengapa bisa menyediakan roti basi semacam ini? Lagipula pesananku bukan ini!” “oh, pak…” kata pelayan itu “Anda salah. Ini bukan restoran. Ini surga. Kami hanya menghidangkan apa yang Anda kirim dulu ketika masih hidup. Kami minta maaf, Pak. Kami sudah melihat daftar Anda, dan satu – satunya roti kecil ini yang bisa kami hidangkan untuk Anda”.

 

3.   Pria, Serigala dan Beruang

Suatu hari, seorang pria ingin menikmati alam sehingga memutuskan untuk pergi ke hutan selama beberapa hari. Ia berkemah, menjauh dari keheningan, merenung, dan menikmati kedamaian.

Hari pertama dia sampai di sana, dia berjalan menjauh dari tenda untuk mencari udara segar dan dikejutkan oleh seorang serigala yang terseok – seok karena luka terkena panah pemburu. Pria itu merasa kasihan dengan serigala. Ia ingin menolong, tetapi  takut kalau serigala itu malah menyerangnya.

Dua jam kemudian, seekor beruang besar datang. Beruang itu menyeret bangkai binatang, kemudian memakannya dekat dengan serigala yang terluka. Sepertinya, beruang itu tidak tahu ada serigala di situ. Selesai makan, beruang itu pergi sambil menyisakan bangkai sisa makanannya di dekat tempat serigala bersembunyi. Serigala pun mendekat, lalu memakan bangkai itu dengan lahap.

Keesokan harinya, pria itu kembali ke tempat itu untuk melihat apakah serigalanya sudah pergi atau masih di situ. Ternyata, serigalanya masih di situ. Sepertinya dia masih terlalu sakit untuk pergi menjauh. Namun, sekali lagi, dia melihat beruang itu datang ke dekat serigala membawa binatang yang sudah mati, memakannya, lalu meninggalkan sisanya di dekat serigala. Dan, serigala itu memakan lagi bangkainya dengan lahap. 

Hal itu terus terjadi sampai hari keempat. Lalu pria itu teringat, salah satu tujuannya adalah merenung. Mungkin inilah jawabannya. Bahwa Tuhan selalu merawat makhlukNya. Serigala yang tidak pernah berdoa saja ditolong, apalagi saya. Pria itu benar – benar merasa mendapat pencerahan.

Kemudian, dia memutuskan pergi ke hutan paling dalam dan berdoa, “Tuhanku, Engkau telah menunjukan kuasaMu. Serigala itu telah menyadarkanku sesuatu yang luar biasa dan memberiku pencerahan. Aku memasrahkan diriku sepenuhnya. Aku percaya, Engkau akan mengurusku dengan sebaik – baiknya. “ Lalu, dia berbaring begitu saja dan menunggu Tuhan bertindak.

Sehari berlalu, dan tidak ada yang terjadi. Pria ini mulai merasa lapar. Dia masih bersabar. Dia keluar mencari dedaunan dan memakannya meskipun pahit. Lalu, dia menunggu lagi. Hari kedua, masih tidak terjadi apa – apa. Pria itu bingung.

Hari ketiga datang, dan pria itu mulai marah. “Tuhan! Serunya “Engkau lebih mencintai serigala itu daripada aku! Serigala itu selalu kamu beri makan, kenapa aku tidak? Padahal aku lebih mulia dari dia!?”

Pria itu tidak tahan lagi dan memutuskan untuk kembali ke kota. Di jalanan, ia melihat seorang anak yang kelaparan. Lagi – lagi, dia menuntut Tuhan dengan berkata, “kenapa Engkau tiak melakukan sesuatu?”

“Aku sudah melakukan sesuatu” jawab Tuhan. “Aku menciptakanmu, salah satunya untuk anak itu. Tetapi, kamu malah memilih bersikap seperti serigala daripada meneladani perbuatan beruang”.



Nah urbanesse, dari ketiga cerita di atas, salah satu penyebab mengapa kita sulit berbagi menurut saya adalah adalah ego yang terlalu besar. Ego yang mengalahkan rasa kemanusiaan. Padahal dengan berbagi kita dapat menciptakan surga kita sendiri. Belum pernah ada cerita dengan berbagi dapat membuat kita menjadi berkekurangan. Lihat saja para filantropis dunia seperti Bill Gates, Warren Buffet dan Oprah Winfrey. Bahkan dengan semakin banyak berbagi, mereka menarik berbagai kelimpahan dalam hidup.


Ada kutipan menarik dari Andy sukma Lubis tentang berbagi “Jangan pernah mengecilkan setitik kebaikan yang bisa kita lakukan. Jika kebaikan hanya bisa dilakukan melalui tulisan, mari kita bersama untuk saling menguatkan. Masing-masing kita bisa berbagi walau dengan sedikit bait kata. Berharap dunia akan semakin banyak dipenuhi nuansa cinta.”

Berbagi tidak selalu identik dengan harta, kita bahkan dapat berbagi dengan senyuman, tulisan, kebersamaan, kata – kata positif. Apa pun itu.

 

Itu juga yang saya lakukan di Urban Women, tidak banyak yang bisa saya berikan, namun semoga dengan tiap bulan bisa berbagi tulisan inspiring berdasarkan pengalaman pribadi saya kepada Urbanesse saya bisa menebar kebaikkan dan pelajaran untuk semua wanita diluar sana. Secara tidak langsung saya juga memiliki kawan-kawan baru di UW seperti mbak Wan tien, Lina dan Jane serta teman-teman Volunteer UW lainnya untuk sama-sama bertumbuh berbagi bait demi bait tulisan yang mampu menginspirasi dan menguatkan tiap wanita diluar sana. The more we share, the more we have. J

 


(Sumber Cerita : Buku “Lelaki, Gadis, & Kopi Campur Garam” Karya Ara)



Selvya Mulyani

Kelahiran 9 maret 1987 di Kalimantan Selatan. Bekerja sebagai analis laboratorium Kimia Fisika Gas di BBTKLPP Banjarbaru. Penggemar buku Dan Brown, Dewi Lestari, JK Rowling, dan novel serial Trio Detektif. On process, being better person, healthy, happy, lucky, peace and blessed. Remember the path, keep the faith, walk on track.

No Comments Yet.