21 Hari Menjadi Sabar


Monday, 30 Nov -0001


Halo, Urbanesse! Ketemu lagi di sharing bulan Mei yang judulnya "Kesabaran". Jiper ya bo, hehe..at least buat aku, karena aku bukan termasuk seseorang yang by nature "manut" (nurut) atau alon alon kelakon.

Beberapa minggu yang lalu, kesabaranku benar-benar diuji. Karena papa dan mama sedang berlibur, aku ditugaskan untuk pulang ke kampung halaman untuk membantu bisnis mereka selama 3 minggu. Bagi seorang lajang yang tinggal di kota besar dan amat sangat CINTA kebebasan, rasanya 3 minggu di kota kecil ini bagai 3 tahun lamanya. Lebay? Let's see this thing from my perspective.

  1. 5 tahun yang lalu, aku kabur dari rumah, karena tidak tahan dengan culture hometown dan keluarga aku, yang sangat controlling dan judgemental. Ini pertama kalinya aku pulang kembali dalam kurun waktu yang cukup lama dalam konteks hidup bekerja, bukan liburan, singkat.
  2. Selama 3 minggu itu, setiap hari aku juggling tanggung jawab antara urusan dapur dan pembantu drama queen yang tidak jujur, toko yang buka sampai malam setiap hari, masih memakai sistem tradisional dan tidak ada cctv jadi selalu harus mengawasi pegawai dan pembeli, serta deadline kerjaan desain yang masih ongoing sebelum aku pulang ke hometown. I was burn out.
  3. Selama proses juggling ini, tidak ada like-minded friends. Tidak ada hiburan. Tidak ada hal inspiratif. No fun, no inspiration, all responsibilities.
  4. The judgemental people are still there, and they become more judgemental when they see my age yang dianggap tua untuk standard mereka. (I am 28 yo btw) Misalnya, saat berkunjung ke rumah nenek. Aku dihadapkan dengan pertanyaan yang bukan bertujuan menggali, tetapi menyudutkan, terutama masalah pernikahan. Berkali-kali aku ditanya kenapa aku tidak mau menikah, dibilang picky, bodoh karena melepaskan beberapa pria yang dianggapnya sangat bagus, dan berusaha membuat aku takut, dengan memberikan contoh perempuan tetangganya yang sudah berumur tetapi tidak menikah, tidak memiliki pekerjaan dan tinggal sendiri. (Jujur, aku meragukan kebenarannya. Kalau tinggal sendiri, bagaimana dia bisa hidup tanpa bekerja?) Tetapi, sebagai cucu yang baik, aku memilih untuk diam.

Masalah di atas memang klasik, so I think I am strong enough to face them. But, unfortunately I am not. Dengan tingkat kedewasaan yang jauh lebih tinggi dari 5 tahun yang lalu pun, aku jadi benar-benar merasakan lagi secara nyata mengapa dulu aku sampai kabur. I lost my appetite, I lost interest to socialize with people. I was draining to the bone sampai-sampai ke gereja pada hari Minggu yang kadang merupakan rutinitas, kini menjadi kesegaran yang luar biasa!

Di sini aku sadar, ada beberapa kunci penting dalam menumbuhkan kesabaran:

1.       Energy Management

  • Penting untuk menyadari kapan kita burn out, karena pada saat burn out, kita menjadi very anxious dan overexaggerate the bad things and stretch them to the next level.
  • Tahu bagaimana cara relaks dan recharge yang kita suka. Begitu sampai di Jakarta, saya menghabiskan weekend dengan cocktail night bersama teman-teman dekat yang terpercaya, dan akhirnya tangisan pecah. Kadang, menangis itu penting!

2.       Emotional Management

  • Know our hot button well, karena seringkali kesabaran bisa hilang pada saat our hot button is being pushed (in this case, aku merasa I lost my freedom) Penting untuk feel the feeling, but don't feed it so it becomes a monster who masters your soul.
  • See the bright side. Selama di hometown, saya bisa mengalami haus untuk ke gereja, bermain bersama keponakan yang lucu-lucu, finansial tercukupi, ipar yang baik dan sabar dalam menangani urusan toko, pembantu dan pegawai yang memudahkan pekerjaan, beer time that was full of silly laughter dengan teman yang baik dan sabar mendengarkan curhat, dan super yummy crab night with my beloved daddy one day before I went back to Jakarta.

3.       Spiritual Management

  • Seek wisdom everyday, jaga hubungan dengan Sang Pencipta. Karena kalau pakai kekuatan sendiri, jujur aku tidak sanggup.

Do I love my family? Yes. Do I love their values? Yes, dalam hal kejujuran dan tanggung jawab. No, dalam hal semua orang harus melakukan hal yang sama dengan cara yang sama dan mindset yang sama. Banyak jalan menuju Roma.

Patience isn't saying yes to everything. Patience is a matter of right priorities.

Patience isn't a weakness. Patience is a gentle yet firm self control.

Patience isn't ignorance or self denial. Patience is a conscious self-reflection to pick the good fight and let go the bad fight.

Semangat ya Urbanesse! We can do this together! :)



Unknown

No Comments Yet.