Tetap Berbahagia Di Tengah Masalah


Tuesday, 20 Aug 2019


Dulu saat masih single saya sering bingung kebahagiaan itu seperti apa, kapan ya saya bisa bahagia seperti beberapa teman saya yang punya pasangan. Beberapa kali saya mengalami kekecewaan & kegagalan dalam menjalani hubungan percintaan yang bertahun-tahun saya jalani.

Selepas itu saya mencari kebahagiaan saya sendiri dengan membeli segala barang yang saya butuhkan, membeli makan & minuman  yang menjadi favorite saya,  traveling guna mencari kebahagiaan diri. 

Yup, secara tampilan luar saya berbahagia, namun, setiap kali kembali ke rumah dan masuk kamar, saya merasa sepi dan kosong. Dimana kebahagiaanku? itu pertanyaan saya kala itu, padahal di luar saya bisa tertawa seolah berbahagia tetapi hampa di hati.

Saya tanyakan lagi ke diri saya sebenarnya apa yang membuat saya merasa sepi & kosong padahal saya memiliki segalanya ? Saya bekerja, penghasilan saya juga bisa mencukupi kebutuhan saya dan keluarga, memiliki orangtua saya sehat, masih lengkap dan mendukung apapun yang saya kerjakan. Sempat terpikir apakah yang kurang karena saya belum memiliki pasanga?  saya rasa bukan itu karena ketika saya punya pasangan pun saya merasa belum menemukan kebahagiaan versi saya sendiri.

Saya melihat teman-teman saya bisa nampak berbahagia dengan kehidupannya, mengapa saya tidak merasakan hal tersebut di hidup saya ?

Sampai saya bertemu seorang teman lama, ia bercerita tentang permasalahan yang terjadi di hidupnya dari mulai di kejar-kejar debt collector karena hutang mantan pacarnya atas nama teman saya, hingga kegagalan dia untuk menikah dengan pacarnya tersebut. Belum lagi orangtuanya yang sedang sakit dan membutuhkan biaya yang tidak sedikit dan saat saya bertemu dengan teman saya itu, dia sedang tidak memiliki pekerjaan tetap sembari  berjualan.

Apa yang terjadi ? Dia mampu bertahan & ia bilang meski banyak masalah yang dialaminya ia masih bersyukur, karena masih di beri kesehatan oleh Tuhan sehingga dapat terus berusaha melanjutkan kehidupannya. Hutang-hutang mantan pacarnya dengan ikhlas telah di lunasinya, ia bisa mengobati Ibunya yang sakit dan kini telah sembuh. Kebahagiaan terbesar buat dirinya kini adalah masih bisa mengabdi & menjadi manfaat untuk orangtuanya. Teman saya merasa bersyukur di tengah banyak rekan kami yang orangtuanya sudah meninggal namun mereka belum sempat membuat orangtuanya berbahagia, ia bersyukur bahwa dirinya masih memiliki keluarga yang lengkap, sehat dan masih di beri kesempatan untuk bisa menjadi manfaat bagi keluarganya.

Pertemuan dengan temanku itulah yang akhirnya menyadarkanku, bahwa selama ini saya salah dari dulu mencari kebahagiaan hingga ke puncak gunung, ke pantai di dalam dan luar negeri,  padahal kebahagiaan itu ada di diriku, diriku lah yang bisa merasakannya sendiri, menciptakannya seperti kata temanku "selalu melihat sisi baik segala hal di diri kita dari yang kita anggap sepele, dengan rasa syukur maka hati akan berbahagia".  Itulah caraku hingga  hari ini berbahagia & bisa berdamai dengan diriku sendiri. Kini standar kebahagiaan buatku ada di dalam diriku sendiri bukan di suatu tempat, orang ataupun barang mahal dan mewah melainkan ia ada di dalam batinku yang kudapat melalui melalui rasa syukurku.

Aku Belajar banyak hal tentang bagaimana memantik kebahagiaan meski sedang mengalami banyak masalah :

  1. Selalu menjalani hariku dengan rasa syukur

Kini setiap hal kecil yang dulu kuanggap sepele, aku syukuri dan sejujurnya dari hal kecil itulah aku merasakan letupan rasa bahagia di hati yang sulit di jelaskan dengan uangkapan kata-kata. Seperti misalnya mungkin menurut sebagian orang bisa makan mie ayam di pinggir jalan saja merupakan hal yang biasa bahkan nggak akan terpikirkan kalau itu bis amenjadi sebuah kebahagiaan bagi orang-orang seperti aku dan sahabat-sahabatku.

Aku merasa bahagia masih bisa makan mie ayam di pinggir jalan bareng sahabatku yang mana kita ketemuannya sangat jarang sekali, karena beberapa dari sahabatku tinggalnya sudah di luar kota dan luar negeri jadi sekalinya kita ketemuan, kita bukan bertemu di tempat yang mahal dan mewah melainkan cukup makan mie ayam di depan kampus kenangan jaman kita kuliah dulu itu sangat membuat aku dan sahabat-sahabatku menemukan kebahagiaan batin tersendiri. Kami bersyukur karena masih bisa bersua dalam keadaan sehat dengan cerita yang beragam hingga kami bisa saling menguatkan.

Contoh kebahagiaan lainnya yang mungkin menurut sebagian orang ‘apa sih cuma bisa membantu teman nganter berobat ke dokter aja bisa membuat batin bahagia? Tentu saja, karena teman yang aku bantu ini tidak memiliki sanak keluarga di Jakarta, ia sangat bahagia ketika aku mengantarnya ke dokter karena pada saat dia sakit, jam sudah menunjukkan tengah malam. Aku berkaca ke diriku seandainya aku yang ada di posisinya pun aku akan sangat bahagia ada yang mau mengantarku berobat ke dokter lagi-lagi ini salah satu hal yang membuatku bisa berbahagia dan bersyukur pastinya aku masih di beri Tuhan kesehatan dan bisa mengantar temanku tersebut.

  1. Menetapkan standar kebahagiaanku sendiri & tidak memaksa orang lain mengikuti standar kebahagiaan versiku

Dulu aku sering memaksa orang lain untuk mengikuti standar bahagia versi ku, padahal harusnya aku sadari bahwa aku dan orang lain tidak memiliki standar kebahagiaan yang sama. Aku tidak bisa memaksa orang lain mengikuti standar bahagiaku begitupun sebaliknya. Juga kerap mempertanyakan dan tidak jarang suka menghakimi orang misalnya ada temanku yang menikah di usia muda dengan pria yang lebih tua, atau ada temanku lainnya yang menikah dengan pria yang usianya lebih muda padahal temanku itu sudah settle dengan hidupnya hingga aku langsung menghakimi pilihan mereka itu, bahwa pasangan mereka tersebut menikah untuk mengeruk harta mereka saja, bahkan aku bisa dengan mudahnya berasumsi negatif kalau pernikahan mereka tidak akan bahagia dan berlangsung lama.

Ternyata ucapanku salah, teman-temanku hingga hari ini mampu menjalani rumah tangganya dengan langgeng dan baik-baik saja, dari situ aku belajar untuk tidak mudah menghakimi kebahagiaan orang lain karena standar kebahagiaan setiap orang berbeda termasuk standarku.

  1. Tidak lagi membandingkan hidupku dengan orang lain

Semakin aku banyak melihat dan menginginkan bahkan ikut-ikutan orang lain, semakin aku merasakan ketidakbahagiaan di hidupku, bahkan sampai aku dulu pernah di satu titik dimana aku merasa bahwa diriku, perempuan yang tidak pernah di beri kebahagiaan.

Semoga cerita pengalamanku ini dapat menjadi inspirasi untuk Urbanesse yang masih belum tahu cara menciptakan dan menemukan kebahagiaan diri sendiri.



FIKA

No Comments Yet.