Tema Artikel Bulan November 2019 "Apakah Cintaku Tulus atau Hanya Obsesi?"


Wednesday, 23 Oct 2019


Ladies, jatuh cinta itu sungguh indah ya. Anugrah perasaan dari Tuhan yang mampu membuat segalanya terasa begitu menyenangkan. Perasaan yang semakin hari semakin dalam membuat kita terus memikirkan dia, apalagi jika ternyata cinta berbalas. Sungguh hal yang sangat diharapkan. Tapi, apakah kamu menyadari bahwa ada 2 hal yang terjadi ketika kita mulai jatuh cinta atau memulai hubungan dengan sesorang? Kita mungkin pernah mengalami bingung ketika harus diperhadapkan dengan pertanyaan “Apakah kamu Cinta dengan tulus atau hanya sekedar Obsesi? Dan justru kita tidak bisa membedakannya dan kita tetap menjalaninya seolah kita tau jawaban yang benar. Ini biasa terjadi ketika tidak bisa jauh dari orang tersebut.

Jika kita merasakan cinta yang tulus, maka akan didasari oleh Ikhlas. Menjalani dengan tidak berat hati, menyukai segala aspek pasangan dan tidak hanya berfokus pada satu kelebihannya saja. Kita juga pasti akan memikirkan kenyamanan bersama yaitu pasangan dan kita. Mengapa memikirkan kenyamanan dua belah pihak? Karena jika kita tulus, maka kita akan dengan sendirinya mengetahui apa yang pasangan kita rasakan dan butuhkan. Tidak memaksakan keadaan dan bijak dalam mengambil keputusan bersama. Cinta yang tulus adalah cinta yang penuh dengan penerimaan. Misalnya ketika orang yang kita sayangi tiba-tiba harus pergi meninggalkan kita, jika kita murni dalam mencintainya maka kita akan menerima karena cinta tidak harus memiliki. Jika kita senang melihat orang tersebut menemukan kebahagiaannya maka kita pun sendirinya akan senang. Mengagumi dan mencintai tanpa menuntut balasan dari orang tersebut, dan ketika kita tenang dengan jawaban tersebut maka kita sudah memasuki fase Cinta yang tulus. Tidak perlu berlebihan karena jatuh cinta yang sesungguhnya adalah perasaan yang tak peduli ia akan memiliki orang yang dicintainya atau tidak.

Lalu bagaimana dengan obsesi? Ini yang seringkali tidak kita sadari. Jika kita hanya obsesi, maka kita akan egois. Egois dalam hal kebahagiaan, karena kita hanya memikirkan kebahagiaan dia atau kebahagiaan diri kita tanpa memikirkan satu sama lain. Obsesi membuat kita mengukur segala hal pasangan kita, dan cenderung menuntut. Kita akan berlebihan dalam menyikapi permasalahan dalam hubungan, seperti cemburu yang berujung dengan terlalu posesif dan membuat pasangan kita tidak nyaman. Obsesi merupakan perasaan berbahaya yang dapat menyakiti perasaan orang lain dan diri kita sendiri. Contoh dari menyakiti perasaan orang lain atau pasangan sendiri, yaitu ketika kita terlalu ikut campur atas keputusan dalam hidupnya atau kita terus memaksa dia menghubungi kita dan terus-menerus meminta banyak hal dari dirinya tanpa memperdulikan situasi dan tidak melihat kondisinya. Obsesi juga sering terjadi dalam proses pendekatan, yaitu terlalu berlebihan menyukai sesorang sehingga membuat diri kita melakukan hal-hal yang diluar nalar dan tidak perduli apapun juga karena yang terpenting kita harus terus dekat dengan dia. Perasaan ini yang memicu banyak orang mengalami banyak kekecewaan karena tidak sesuai ekspetasinya dan dapat menyakiti dirinya sendiri. Ketika kita diperhadapkan dengan situasi cinta tak berbalas, jika kita hanya obsesi maka kita bisa dendam terhadap dia atau kita bisa melakukan suatu hal yang membahayakan diri kita sendiri. “Pokoknya dia harus jadi pacar gue!” “Gue harus nikah sama dia” begitulah contoh dari Obsesi, karena dia tidak memperhatikan proses melainkan berfokus pada hasil akhir.

Masih banyak yang salah mengartikan pengertian Cinta Tulus dengan Obsesi. Justru kita harus menyadarkan diri kita sendiri dan pasangan kita. Apakah kita mau hanya terus berada dalam fase tersebut atau kita mau bangkit dan merubah kebiasaan kita sehingga menciptakan kenyamanan. Berikut adalah beberapa pertanyaan yang mungkin dapat membuat kita berfikir sejenak mengenai perasaan yang kita alami

  1. Apakah kita sudah mampu memberikan dia ruang untuk menjadi dirinya sendiri? Atau selama ini kita hanya memikirkan keinginan saja sehingga dia tidak memiliki waktu untuk dirinya sendiri dan kebutuhannya? Karena cinta yang tulus adalah cinta yang selalu memberi kebebasan untuk memilih, dan itu berlaku juga untuk diri kita sendiri. Apakah kita sudah merasa bebas dan memiliki ruang untuk melakukan hal apapun yang kita pilih dan sukai?
  2. Apakah pasangan dan diri kita sendiri masih takut dalam mengambil keputusan? Takut ditinggalkan, takut dia bersama orang lain, takut depresi, takut tidak ada yang bisa menerima kita kembali, takut dia menyakiti secara fisik. Jika kita masih dalam perasaan tersebut, berarti kita ada di tahap obsesi dan kita membiarkan hal tersebut menguasai fikiran dan hati kita sehingga dapat membuat kita bertindak tidak wajar.
  3. Jika kita sadar memiliki perasaan obsesi tersebut, bagaimana kita keluar dari hal tersebut? Bagaimana membangun hubungan yang sehat baik dengan orang lain maupun dengan diri kita sendiri, sehingga menciptakan kenyamanan.
  4. Bagaimana cara kita melatih dan meningkatkan diri kita agar memiliki perasaan Cinta yang tulus bukan sekedar obsesi agar tidak mengulangi pengalaman yang sebelumnya?

Ceritakan pengalamanmu seputar tema bulan November ini melalui website : www.urbanwomen.org (Berbagi Cerita) atau dapat mengirimkan melalui email ke : urbanwomenministry@gmail.com

Batas waktu pengiriman yaitu tanggal 03 November 2019 ya Ladies.

Yuk, kita sisihkan waktu kita untuk menulis dan bercerita melalui pengalaman kita agar mampu memberi dampak bagi perempuan lainnya.



Unknown

No Comments Yet.