SIAPA BILANG KERJA DARI RUMAH LEBIH SANTAI?


Wednesday, 25 Sep 2019


Memiliki bisnis sendiri yang bisa dijalankan dari rumah adalah impian saya sejak lama. Apalagi dengan bertumbuh nya anak-anak, mereka semakin membutuhkan perhatian penuh dari seorang ibu. Maka setelah begitu banyak pertimbangan dan diskusi dengan suami, 4 tahun lalu saya memutuskan untuk resign dari kantor dan memulai bisnis sendiri. Saya memulai bisnis di bidang fotografi, yang memang merupakan passion saya sejak di bangku kuliah. 

Setelah lebih dari 10 tahun bekerja di korporasi, akhirnya saya memutuskan untuk menjadi full time newborn photographer. Dengan pertimbangan bahwa bekerja sendiri tentu nya waktu saya menjadi lebih fleksibel dan terutama akan memiliki waktu lebih untuk mengurus rumah dan anak-anak.

Ternyata bayangan indah tersebut tidak sesuai dengan kenyataan yang dijalani. Setelah satu tahun berjalan, bisnis yang saya bangun mulai berkembang. Tren foto foto bayi mulai meningkat di Indonesia, dan masih sedikit fotografer yang memilih genre ini membuat daftar client saya semakin banyak setiap bulan nya. Saya semakin sibuk dengan pekerjaan ini, waktu untuk mengurus rumah dan anak-anak pun semakin sedikit. Bahkan kesibukan saya melebihi saat masih bekerja di kantor. 

Akhirnya ada titik di mana saya merasa kewalahan, rumah menjadi berantakan yang membuat saya menjadi tidak semangat untuk bekerja dari rumah. Mungkin karena sebenarnya saya tipe orang yang suka sekali bersih-bersih, rumah yang berantakan membuat saya malas untuk bekerja dan menjadi kurang kreatif. Deadline hasil foto client pun jadi selalu terlambat karena saya tidak semangat mengerjakan nya. 

Saat anak-anak mulai mengeluh saya tidak punya waktu bermain bersama mereka, saya jadi sadar bahwa keadaan seperti ini harus dirubah. Toh niat saya untuk bekerja dari rumah adalah demi anak-anak. 

Akhirnya saya mulai meng evaluasi keadaan saya saat itu, agar saya tahu harus mulai dari mana untuk memperbaiki situasi ini. Saya memutuskan untuk membagi batasan yang jelas antara pekerjaan dan rumah, walaupun saya bekerja dari rumah. Saya membuat waktu dan ruangan khusus dirumah dimana saya bisa mengerjakan pekerjaan fotografi. Jadi saya hanya bekerja saat anak-anak sekolah di ruang kerja saya. Selain itu saya juga mulai membatasi jumlah client yang saya terima dalam setiap bulan nya sesuai dengan kemampuan saya. Saya pun memulai hidup minimalis bersama anak-anak, mengurangi barang-barang yang tidak diperlukan dirumah, semakin sedikit barang tentu nya membuat saya lebih mudah membersihkan rumah sehingga lebih banyak waktu bersantai dan bermain dengan anak-anak. 

Disinilah saya Belajar Untuk Tidak Malas mengatur waktu bekerja di rumah

Hidup saya mulai menjadi seimbang yang membuat kualitas pekerjaan dan hidup meningkat. Walaupun membatasi jumlah client, bisnis yang saya jalani semakin berkembang karena saya dapat mencapai titik harga sesuai target yang saya tetapkan saat memulai bisnis ini. Sekarang di tahun ke 4 jadwal foto client selalu full sampai 6 bulan ke depan, saya sudah mulai mendapat penghargaan fotografi dan bekerjasama dengan salah satu brand kamera terbesar untuk menjadi mentor dalam workshop fotografi di beberapa kota di Indonesia. Saya juga mulai belajar mendelegasikan tugas dengan mempekerjakan asisten dan admin untuk mengatur jadwal dan kebutuhan pekerjaan fotografi saya, sehingga saya bisa memiliki waktu lebih untuk keluarga. Walaupun sekarang jadwal saya cukup padat, saya tetap selalu berusaha membuat hidup saya seimbang.

Pelajaran yang saya ambil dalam menjalani 4 tahun ini adalah :

1. Saya belajar bahwa kita harus tahu betul batasan kemampuan diri sendiri, karena mudah sekali untuk terjerumus dalam kehidupan yang tidak seimbang dan menjadi kewalahan.

2. Kita juga harus tahu prioritas dalam hidup kita sendiri, sehingga dapat membagi waktu dengan porsi yang tepat untuk setiap prioritas tersebut.

3. Belajar mendelegasikan tugas dan pekerjaan. Hal itu membuat saya mengerti bahwa tidak semua yang bisa dilakukan harus dilakukan sendiri. Kadang kita harus memberi waktu santai untuk diri sendiri dengan membiarkan orang lain membantu kita. Mendelegasikan tugas atau sekedar menerima bantuan dari orang lain bukan berarti kita malas atau lemah, tapi justru agar kita bisa lebih fokus ke hal-hal yang lebih penting yang menjadi prioritas utama kita. Saat hidup menjadi seimbang saya pun menjadi lebih produktif dan dapat menghasilkan karya yang lebih baik. 

Semoga dengan cerita pengalaman saya ini dapat menginspirasi Urbannesse yang lagi bingung untuk menentukan pilihan.. Keep our spirit, Ladies!

 

 



Rara

Mom of two adorable daughters. Love books, yoga and photography. Living life gratefully.

No Comments Yet.