Sempat Merasa Iri Pada Pasangan Sendiri


Friday, 28 Jun 2019


Hai Urbanesse, kali ini dalam rubrik Pandangan Pria (From His Eyes) Urban Women kembali melakukan wawancara dengan seorang Pria bernama Anthony (35th) seorang Karyawan Swasta. Berdasarkan ceritanya dulu ia ternyata sempat merasa iri hati pada pasangannya namun dari pengalamannya tersebut  pada akhirnya ia dan dan pasangannya mendapat pembelajaran, apa saja pembelajaran yang ia dapatkan untuk menggerus perasaan iri hati dan minder pada pasangannya ? berikut petikan wawancara kami dengan Toni, biasa ia di panggil.

Apa pendapat kamu mengenai tema Urban Women kali ini tentang menyikapi rasa iri hati ?

Tema yang diangkat cukup menarik ya hahahaaa....:) tetapi mungkin sedikit laki-laki maupun perempuan ya yang mau jujur kalau mereka pernah memiliki juga perasaan iri hati ke orang lain maupun pasangannya, selebihnya paling akan membuka dirinya menjadi korban orang lain yang pernah merasa iri hati pada diri mereka. Haahaaa...karena saya juga demikian. Tetapi kali ini karena saya juga pernah punya pengalaman seputar tema ini, saya akan coba berbagi untuk teman-teman di Urban Women, berharap cerita saya ini bisa menjadi alternatif buat teman-teman yang pria maupun wanita agar sama-sama bijaksana ketika melihat kesuksesan orang lain.

Benar nggak sih pendapat yang menyebut kalau sikap iri hati identik dengan perempuan ?

Nggak selalu perempuan sih kalau menurut saya, cowok kaya saya juga pernah punya juga perasaan iri hati, namun mungkin bedanya dengan perempuan, kalau laki-laki lebih nggak di perlihatkan alias tetap tenang walau sebenernya hatinya berkecamuk haaa.haaahaaa...

Apakah kamu pernah memiliki pengalaman seputar rasa iri hati ?

Pernah, merasa iri dengan apa yang di raih pasangan sendiri. Saat itu saya dan si dia masih pacaran. Kebetulan pasangan saya bisa di bilang dari segi pendidikan dan pekerjaanya jauh lebih baik dari saya. Waktu awal pacaran saya nggak kepikiran bahwa saya akan merasa iri padanya, malah sebaliknya saya senang mendapat kekasih yang cerdas dan posisi dia dari segi pendidikan dan karir bagus jadi saya nggak perlu repot  buat mengarahkan dia. Tetapi semakin bertambahnya waktu menjalin hubungan dengannya, saya merasakan nggak terlalu senang seperti dulu karena yaa..itu ia cerdas dan berturut-turut selalu mendapatkan segala yang ia cita-citakan. Selama pacaran kami berpacaran setiap tahun saya mendengar ia mendapatkan promosi dan kenaikan gaj. Bahkan setelah dia resigne kerja dari kantornya yang lama, ia bisa dengan mudahnya mendapatkan pekerjaan kembali dengan gaji yang lagi-lagi jauh di atas saya. Belum lagi ia yang bergelar S1 coba mengikuti ujian masuk beasiswa untuk melanjutkan kuliah S2nya, dan sekali lagi ia membuat saya saat itu bukan hanya iri tetapi minder dengan gelar S2nya.

Meski demikian, ia selalu meminta pendapat saya sebagai pacarnya ketika ingin mengambil peluang-peluang tersebut. Saya yang saat itu berpikir demi kebaikannya dan hal itu memang impiannya jadi saya izinkan meski jujur ya saya iri dan minder. Pasangan saya itu sebenrnya peduli pada saya ia selalu memotivasi saya juga agar saya bisa melanjutkan kuliah lagi, bahkan ia berinisiatif mengumpulkan uang bersama untuk biaya kuliah saya nanti, tetapi karena saat itu saya  sedang merasa iri dan minder jadi saya tolak.

Sampai pada suatu hari ada seorang rekan saya di kantor beliau atasan saya sebut saja namanya Pak Deddy (bukan nama sebenarnya) di sela jam makan siang ia bercerita tentang perjalanan pernikahan ia bersama istrinya. Ternyata Pak Deddy teman saya ini menikah dengan atasan kerjanya di kantor ia terdahulu, Pak Deddy cerita kalau dulu itu ia hanyalah seorang supir pribadi perusahaan asing namun karena ia ingin membantu orangtuanya agar kehidupannya bisa lebih baik, ia mengumpulkan uang untuk berkuliah sambil bekerja di Jakarta dengan mengambil kampus yang biayanya tidak terlalu mahal tetapi setidaknya pendidikan bisa dia enyam hingga ia mendapat gelar sarjana tingkat 1. Saat itu pekerjaan ia pun lebih baik dari sebelumnya, ia bekerja kantoran dan dsitulah ia bertemu perempuan yang merupakan atasannya, akhirnya ia dekat lalu menikah dengan wanita tersebut yang kini menjadi istrinya, pernikahan Pak Deddy sudah masuk tahun ke-19 katanya dengan di karuniai 4 orang anak.

Yang membuat saya kagum dan akhirnya sadar serta belajar dari kisah pak Deddy adalah istrinya tersebut bergelar S3 dengan jabatan yang cukup mumpuni di kantornya. Pak Deddy sempat merasa minder namun tidak merasa iri, kenapa bisa ? karena kata pak Deddy, “buat apa merasa iri dengan pasangan sendiri, dari awal pacaran juga kan sudah tahu status pendidikan, sosial, kebutuhan dan cita-cita pasangannya seperti apa, jadi saya sebagai pasangannya memiliki kewajiban mendukung segala pendidikan dan karirnya. Minder iya tetapi pasangan saya meyakinkan saya bahwa dirinya tetap perempuan yang tahu perannya saat ia di luar ia memposisikan menjadi diri dia sesuai dengan perannya tetapi sebagai seorang istri/pasangan ia tahu harus memposisikan dirinya seperti apa di rumah sebagai seorang istri & ibu untuk keluarga (dia sudah sangat memahami itu dan jujur saya malah bangga dengan cara berpikirnya yang dewasa tersebut)” terang Pak Deddy.

Peluang baik yang di dapatkan pasangannya tidak membuatnya merasa takut pasangannya akan menginjak dirinya dan mudah meninggalkannya, malah sebaliknya pasangan Pak Deddy sangat setia, lembut, hormat, memahami tanggung jawabnya sebagai seorang istri& Ibu serta baik dalam memperlakukan Pak Deddy dan anak-anak, karena apa ? bukan hanya karena istrinya yang memang dewasa, tetapi juga karena Pak Deddy yang bijakasana mengawali pikiran dan perasaan dalam hubungannya tersebut dengan tidak menanamkan rasa iri hati, menghormati pada pasangannya,  minder ia alami juga, menurutnya manusiawi, namun ia rasa minder tersebut sebagai pecut yang memotivasi diri dia bukan untuk berkompetisi negatif/menjatuhkan pasangan melainkan kata beliau ia dan pasangannya lebih memilih sama-sama berjalan beriringan tanpa meninggikan ego masing-masing (ketika pak Deddy lemah istrinya yang sabar dan menguatkan begitupun sebaliknya).

Saya jadi teringat kata-kata bapak saya juga, selayaknya perempuan dan laki-laki (suami istri berjalan beriringan) karena ketika ada pria dan wanitanya sukses ketika berjalan beriringan (dalam hal ini sukses dalam menempuh apapun itu baik karir, pendidikan, kehidupan, spritualitas dan mental) itulah kesuksesan sejati dalam sebuah hubungan yang bahagianya tiada tara. Karena Ayah dan Ibu saya pun memiliki kisah yang sama seperti Pak Deddy dan yang pernah saya alami juga.

 Apa pembelajaran yang kamu dan pasanganmu dari pengalaman tersebut ?

Saya belajar ini,

Dari cerita Pak Deddy dan petuah Ayah yang akhirnya menyadarkan saya untuk belajar berpikir lagi, ‘nggak perlu lah saya sebagai laki-laki iri sama pasangan sendiri, apalagi kenalnya memang saat dia sudah lebih dulu sukses, pun pasangan saya pasti juga memiliki perjuangan yang sama untuk menyeibangkan dirinya dengan saya belum lagi pasti ada juga mulut orang lain yang mungkin menggggangunya, yang membuatnya nggak nyaman. Tetapi ia bisa though dan memperjuangkan saya. Masa iya hanya karena iri dan minder yang terpendam saya musti bersaing dengan pasangan sendiri ? nggak sehat dong dan nggak ada untung apa-apa juga yang ada belum apa-apa hubungan bisa kandas hanya karena iri dan menangin/memuaskan ego saya sendiri.

Sejak saat itu hingga hari ini, akhirnya saya menikahi pasangan saya tersebut. Sudah nggak ada lagi rasa iri apalagi minder pada istri saya itu yang ada saya bangga karena kami bisa berjalan beriringan dengan pekerjaan masing-masing yang di miliki. Intinya sih yang penting kita berdua tahu tanggung jawab yang sudah kita sepakati bersama ketika kami memutuskan menikah. Jadi nggak merasa terbebani dan nggak ada yang merasa paling tinggi. Pasangan saya pun tahu tanggung jawabnya sebagai seorang Istri dan Ibu serta peran dia yang di kerjakan di luar rumah.

Memang pernikahan kami masih seumur jagung belum seperti Pak Deddy dan Ayah saya, pernikahan kami baru masuk tahun ke-7 semoga kami bisa terus belajar dan memperbaiki kekeliruan dalam menjalani hubungan pernikahan ini serta mampu belajar terus dari dari pengalaman di masa lalu untuk tidak menumbuhkan rasa iri hati pada pasangan sendiri.

Apa pesan untuk Urbanesse untuk tema menyikapi rasa iri hati kali ini ?

Untuk laki-laki yang saat ini mungkin sedang mengalami hal yang sama seperti yang pernah saya alami, daripada iri hati dan minder sama pasangan sendiri yang hanya membuat hati nggak damai dan ketakutan lebih baik komunikasikan dengan pasangan isi hati enak nggak enaknya yang di pikirkan dan di rasakan (nggak usah gengsi dan malu) berpikirlah pasangan kita itu adalah orang yang bijaksana ketika kita sudah jujur dengan perasaan kita lalu cari jalan keluarnya. Sejujurnya berjalan beriringan dnegan pasangan sendiri tanpa merasa tersaingi dan lebih tinggi atau rendah malah membuat hubungan kita lebih membawa manfaat, kelancaran dan kebaikan. Toh kalaupun nggak sampai berjodoh dengannya, setidaknya kita mendapatkan ilmu kepribadian yang membawa kebaikan buat hubungan kita selanjutnya.

Untuk Perempuan yang saat ini sedang menjalin hubungan dengan laki-laki yang mungkin pada saat ini sedang berada di bawah kamu atau mungkin di atas kamu. Sebagai perempuan bisa belajar untuk mau di ajak berjalan beriringan dengan pasangan, membuat kesepakatan bersama mengenai tanggung jawab dan peran kamu berdua dengan pasanganmu di rumah. Jika ada unek-unek lebih baik di bicarakan bukan di pendam dan selalu miliki kepekaan bahwa tidak semua laki-laki kuat dan sebaliknya perempuan dan laki-laki tercipta untuk berjalan bersama dan saling melengkapi lubang-lubang yang kosong yang pasti kita miliki. Pasangan saya hingga hari ini tidak pernah menutup mata/menyangkal bahwa ia butuh saya begitupun saya. Dan selalu ingat ; membibit rasa iri hati apalagi pada pasangan sendiritidak akan membawa diri & hubungan menjadi lebih baik. Awali niat yang baik tanpa di liputi penyakit hati pada calon/pasangan sendiri. 

Terimakasih, semoga pengalaman saya bisa menjadi pembelajaran & pembuka pikiran serta untuk melangkah lebih baik.

 



Mia

No Comments Yet.