Resume Urban Women Heart To Heart ‘Dimanakah Kebahagiaanku?


Monday, 26 Aug 2019


Urbanesse, seru sekali pada hari Sabtu (24/8) lalu, kami kembali mengadakan pertemuan Urban Women Heart to Heart dengan tema  ‘Dimanakah Kebahagiaanku?’, pertemuan tersebut kami adakandi Sinou Kaffee & Eatery, Panglima Polim V No. 26 Jakarta Selatan tempat yang nyaman untuk kami dapat  berdiskusi dan saling berbagi cerita hidup masing-masing tanpa saling menghakimi dan menggurui pengalaman dalam memaknai kebahagiaan masing-masing.  Di hadiri oleh 6 peserta Maya, Risa, Nisa, Naya, Sita dan Erna yang saling berbagi dan mendengar kisah tentang bagaimana cara masing-masing dari kami memaknai kebahagiaan berdasarkan pengalaman yang pernah di hadapi.

Hadir sebagai Narasumber tamu di sessi pertemuan kali ini Maya dan Risa, menceritakan bagaimana mereka menjalani kehidupan yang dulu juga pernah berada di titik kecewa & sedih hingga depresi. Maya bercerita, bagaimana dulu saat masih remaja pernah mengalami tekanan dalam memilih sekolah dan jurusan kuliah yang ingin di tempuhnya, yang menjadikan ia merasa terbebani setiap hari di rasakan oleh Maya. Saat itu dirinya belum memiliki keberanian dan pengetahuan untuk bersikap & bersuara menyampaikan pendapatnya sesuai dengan kebutuhan serta keinginannya. Saat itu semua ia jalani di tengah rasa keterpaksaan sampai ia mengalami depresi. “Dulu saya pikir saya nggak punya kemampuan apa-apa, tapi sekarang saya tahu bahwa yang saya anggap lemah ternyata disitu adalah kelebihan saya, tidak banyak orang yang memiliki kelembutan di dirinya, lembut ternyata bukan berarti lemah ketika saya tahu cara menggunakannya. Saya terus melatih diri untuk tidak menghindari/menolak kelemahan saya ini, saya rasakan sendiri bahwa ketika saya berdamai dan menerima diri saya dengan segala kekurangannya, saya malah lebih merasa kuat dan percaya diri bahwa saya mampu. Hati yang lembut saya pakai untuk membantu orang lain (teman-teman dekat saya dan teman grup penyintas depresi) yang memiliki pengalaman yang sama dengan diri saya agar mereka bisa lebih baik menjalani hidupnya daripada saya yang dulu” ungkap Maya.

Kini dirinya mengaku bahwa kehidupannya dulu dan sekarang jauh lebih bahagia ia rasakan karena selain kini ia juga sudah berkarir sesuai dengan passionnya di bidang sosial ia juga mendirikan grup penyintas pejuang depresi. Bahkan kalau di suruh memilih ingin menjadi siapa jika di lahirkan kembali ke Bumi, Saya akan menjawab saya ingin tetap menjadi Maya. Kebahagaiaan menurut saya adalah ketika saya dapat melakukan hal yang sederhana buat diri sendiri tanpa lagi harus merasa terbebani dan mikirin orang lain ngomong apa. Karena hidup yang dijalani adalah cara saya untuk membahagiakan diri” terangnya sambil tersenyum.

Risa juga menceritakan pengalamannya bagaimana ia dulu pernah mengalami tekanan di dalam kehidupannya, “Dulu saya pernah merasa tertekan, tekanan tersebut saya dapatkan dari sekitar saya dimana masyarakat saat itu kerap mempertanyakan ‘kapan punya anak, kok belum hamil-hamil’ dan sebagainya bahkan hingga ada penghakiman yang menyebut bahwa saya terlalu keras bekerja sampai sulit memiliki anak’ ungkapnya. Karena masih awal dan minim pengetahuan dan belum tahu tentang kegiatan positif, alhasil dirinya mengaku sempat terpengaruh apa kata orang. Puncaknya adalah ketika dirinya pernah mengalami keguguran, ia semakin merasa terbebabni dan tidak mau bertemu orang hingga hampir mengalami depresi dan keputusasaan dalam hidupnya.

“Ada mendung pasti akan ada pelangi, diri saya sendirilah yang sejatinya menciptakan pelangi tersebut di hidup saya. Meskipun banyak orang lain yang masih mendukung, memberi masukan positif namun jika hati kita masih keras, berprasangka negatif pada hidup kita dan tidak percaya kuasa Tuhan, maka kita sulit menerimanya. Saat itulah saya ada dalam kondisi dimana sadar, sabar, menerima dan berserah pada Tuhan atas semua usaha yang sudah saya lakukan untuk mendapatkan buah hati.

Saya berhenti untuk ekspektasi tinggi pada keinginan saya dan percaya bahwa ini semua terjadi atas kuasa Tuhan, saya pikir saya hanya seorang hamba yang bertugas untuk tetap beribadah, usaha, sabar danperbanyak rasa syukur atas berkat yang sebenarnya saya sudah dapatkan, lalu di pikir-pikir lagi buat apa juga saya merasa tertekan pada hidup sedangkan rezeki mendapat suami yang sangat baik, pengertian dan penyayang, orangtua dan keluarga besar yang selalu sayang dan mendukung, sahabat terdekat yang selalu ada di suka dan duka. Hidup cuma sekali sangat rugi jika saya tidak menikmati hidup dengan rasa syukur bahagia atas semua berkat/rezeki ini. Namanya hidup ada senang pun juga ada sedih dan akan berulang seperti itu seterusnya. Kini kebahagiaan saya temukan maknanya di dalam iman saya, ketika saya memiliki masalah, ketika saya bisa berusaha sambil berserah di saat itu juga saya menemukan kebahagiaan dari Tuhan lewat rasa tenang dan damai di hati. Saya masih memiliki Tuhan, disitulah kebahagiaan saya” Ungkap Risa.

Hal tersebut di amini oleh Naia salah satu peserta yang juga sharing pengalaman hidupnya. Ia menceritakan bagaimana dulu ia pernah merasa tidak mendapatkan porsi kasih sayang dari orangtuanya karena kesibukan orangtuanya bekerja. “Sampai ada satu titik dimana setiap saya lagi makan misalnya di restaurant saya lihat sebuah keluarga utuh, saya bisa mengeluarkan airmata, menangis sedih mengingat kok orang lain bahagia & hangat ya orangtuanya bisa bersama-sama mereka sedangkan orangtua saya sibuk. Saya rasanya pingin banget di peluk sama orangtua. Pokonya mengisi kebutuhan emosi saya saat itu sebagai remaja harusnya diisi oleh kehangatan dari mereka tetapi saya nggak mendapatkannya . Namanya orangtuanya sibuk ya mungkin tahunya saya sudah cukup di kasih hal-hal yang sifatnya materi, dianggapnya sudah beres, padahal nggak seperti itu yang saya butuhkan. Perasaan itu akhirnya membawa saya untuk healing, saya ikutan konseling karena memang sempat mengalami ketidaknyamanan pikiran.

Naia mengaku kini dirinya sudah sangat jauh lebih bahagia ketimbang dahulu. “karena memang setelah saya rutin konseling, mulai introspeksi diri dengan banyak melihat kelebihan yang saya miliki, sesuai saran dari psikolog, saya jadi lebih senang menulis jurnal saya sehari-hari ini 'efektif sekali' sebagai therapy kebahagiaan, mulai membiasakan juga untuk lebih mencintai diri saya sendiri dengan tidak terpaku meletakkan kebahagiaan dari orang lain (keluarga, pasangan) karena sewaktu-waktu mereka mengecewakan, saya tidak merasa sangat terpuruk. Saya juga melibatkan Tuhan di dalam proses penyembuhan diri, belajar menerima bahwa kesedihan dalam hidup sudah pasti ada selaras dengan kebahagiaan karena dia berputar seperti roda. Aku belajar bersedih secukupnya lanjut berbahagia, berbahagia juga secukupnya di bentengi rasa syukur dan iman agar selalu mengingat bahwa kebahagiaan bisa saya rasakan atas izin Tuhan jadi tidak perlu berlebihan memandang segala sesuai baik rasa bahagia maupun rasa sedih. Dulu saya bingung memaknai kebahagiaan karena letaknya saja saya masih terpaku bahwa saya bisa bahagia karena keluarga saya, tetapi kini kebahagiaan buat saya adalah perjalanan menerima kenyataan yang sebenarnya kita nggak mau terima pada akhirnya itulah sebuah kebahagiaan karena disitu saya banyak menemukan pembelajaran dan pengetahuan akan diri saya” terang Naia.

Peserta lainnya Sita, yang dulu mengalami kegalauan karena pernah juga gagal menikah, “gagal nikah yaa karena memang saya tipe yang mengakumulasi kebaikan dan keburukan hubungan tersebut jika sekiranya terus di lanjutkan atau tidak(ada hal-hal yang memang kami pertimbangkan dan nggak menemukan jalan keluarnya). Saya sih mikirnya ketika kami berdua sepakat untuk batal membawa hubungan ini ke jenjang yang lebih serius, yaa..berarti memang kita berdua nggak cocok dan tidak di takdirkan buat bersama sebagai pasangan, karena kalau di paksakan saya yakin ini hasilnya nggak akan baik. Selesainya baik-baik namun memang saya sempat galau, bukan karena perpisahannya melainkan karena kadang tekanan dan reaksi yang kurang baik ketika mendengar perpisahan dan kegagalan saya menjalin hubungan dengan pria tersebut.

Namanya manusia pasti ada masa di mana saya terpengaruh dengan apa kata orang, dibilang begini dan begitu. Supaya saya lebih tenang saya pun konsultasi dengan psikolog , karena saya nggak mau rasa ketidakbahagiaan ini berlarut-larut yang pada akhirnya nanti malah membuat saya sakit” kata Sita. Hingga hari ini sita akhirnya mampu menemukan kebahagiaan dengan lebih fokus pada karirnya saat ini sebagai seorang Arsitek, fokus dalam karir yang dibangunnya, melanjutkan pendidikan ke jenjang selanjutnya kini membuat hidupnya jauh lebih baik dan bahagia. Bahkan beberapa rekan belajar untuk melakukan apa yang di lakukannya. “Single bukan berarti nggak bisa bahagia, berkarir dan nambah ilmu dengan sekolah lagi itu juga bagian dari aktualisasi diri. Saya kini memilih untuk single nggak apa-apa sambil terus belajar, banyak mendengar pengalaman teman-teman dekat dalam pernikahan mereka dan memantaskan diri serta mencintai diri sendiri di dahulukan dengan hidup saya (ikut komunitas, ikut kelas-kelas yang positif buat pengembangan diri dan kajian spritual keagamaan agar batin lebih bahagia dan damai). Kebahagiaan saya kini adalah ketika saya merasa cukup dengan pekerjaan saya & tidak lagi melihat standar/memusingkan apa kata orang lain” ungkap Sita.

Nisa  peserta lainnya juga mengungkapkan bahwa ia menemukan kebahagiaan batin versinya ketika dirinya bisa melakukan hal-hal sederhana yang kalau mau melakukannya tuh pake perjuanganbuat seorang ibu. “Karena memang saya seorang Ibu rumah tangga jadi hal-hal yang biasanya sulit saya lakukan buat diri saya kaya makan bakso sendiri, beli es cream, jalan-jalan nonton ke bioskop, akhirnya bisa saya lakukan di tengah banyak pekerjaan rumah tangga, nah disitu tuh saya bisa merasa bahagia banget.” Ujarnya.

Peserta terakhir yang sharing pengalaman adalah Erna dia mengungkapkan bahwa kini dirinya sedang melatih dirinya untuk menjadi perempuan yang lebih kuat dalam mengahadapi ujian kehidupan. Dirinya mengaku bahwa saat ini sedang mengalami ketidaknyaman batin karena gagal membawa hubungan ke jenjang yang lebih serius (pernikahan). Saat ini dirinya memang sedang mengalami kekecewaan. Dirinya mengaku sbeleumnya ragu untuk ikut pertemuan UW heart to Heart, namun setelah sessi sharing dengan member lain, ia merasa kini jauh lebih baik dan lega karena bisa berbagi, saling mendukung serta memberi masukan yang positif pada dirinya. Karena memang itu yang ia butuhkan saat ini “awalnya saya ragu mau ikut pertemuan kali ini, namun karena memang temanya kayanya pas seperti yang sedang saya rasakan ‘dimanakah kebahagiaanku? Maka saya ikut serta. Benar-benar pertemuan ini membuka mata, pikira, pengetahuan dan hati saya bahwa banyak yang mengalami seperti saya, bukan hanya saya sendiri.

Dari pertemuan ini yang pertama akan saya lakukan adalah  belajar untuk menerima kenyataan yang ada meskipun pahit. Ya benar, menyadari bahwa perasaan sedih, kecewa dan bahagia itu sifatnya sementara. Jadi saya belajar untuk menerima dulu proses bertumbuh, kepedihan dan kecewa ini, namun saya akan bangkit dengan mengikuti berbagai kegiatan komunitas seperti Urban Women ini rutin, melakukan self love lebih dari sebelumnya, daftar kelas meditasi yang memang sudah saya rencanakan, lebih dekat dengan Tuhan itu yang utama dan ikut kursus kepribadian (karena memang saya pingin banget bisa menjadi orang yang bisa tampil percaya diri ketika ngobrol dengan orang lain). Sejujurnya kebahagiaan saya saat ini, bisa bertemu dengan teman-teman baru di Urban Women yang benar-benar ramah dan memberi masukan yang positif & yang saya suka adalah pengalaman nyata, karena ternyata masukannya dari pengalaman teman-teman sendiri dan saya merasa nggak di hakimi. Terimakasih ya” ungkapnya.

Kami sepakat pembelajaran tentang memaknai dimana kebahagiaan diri kita dari pertemuan Heart to Heart kali ini berdasarkan pengalaman masing-masing peserta diantaranya dengan :

  1. Perbanyak rasa syukur dengan melibatkan selalu Tuhan di segala aktivitas/pengalamaan yang kita rasakan, karena hidup bukan hanya perkara urusan duniawi semata. Kebanyakan dari peserta merasakan kebahagiaan malah ketika mereka dengan kesadaran diri telah menerima/tidak menolak segala kekurangan, kecewa, kesedihan dan rasa sakit yang di alami, maka kedamaian & rasa tenang yang hanya terasa karena hidup kita adalah skenario Tuhan,
  2. Ketika rasa ketidakbahagiaan melanda, catat&hitung pencapaian-pencapaian kecil & sederhana dalam hidup yang sudah di terima/peroleh dari Tuhan. Beberapa peserta mengungkapkan bahwa dengan selalu mengatakan pernyataan positif ke diri sendiri itu bisa menggerakan dan mengingatkan diri untuk berbahagia dalam kehidupan baik suka maupun dalam duka dengan mengatakan pada diri sendiri bahwa “kita berharga, kita mampu berbahagia dan masalah yang saat ini terjadi lebih kecil daripada banyak hal yang baik yang sudah kita terima sepanjang usia kitahingga hari ini”.
  3. Mencintai diri sendiri & memprioritaskan kebahagiaan diri kita dulu sebelum orang lain.
  4. Tidak meletakkan kebahagiaan kita dari orang lain dan segala hal yang menjadi kebiasaan lingkungan sekitar kita (Pernikahan, keluarga/orangtua, anak, pasangan, harta, jabatan/kedudukan, status sosial). karena semua itu tidak ada yang abadi di dunia ini. Jika kita menaruh kebahagiaan diri di hal tersebut, maka suatu hari itu semua pasti akan pergi, hilang/berakhir maka kita akan sangat kecewa, sedih dan marah. Maka selalu ingatkan pada diri sendiri berbahagia dan sedih lah secukupnya karena kedua hal tersebut bersifat sementara.
  5. Selalu mau menerima kenyataan yang sebenarnya kita nggak mau terima. karena jika di sadari disitulah banyak pembelajaran kebahagiaan yang bisa kita dapatkan.
  6. Jauhi/jaga jarak dari segala hal perasaan toxic/racun, penyakit hati, pikiran negatif yang hanya akan menggerus kebahagiaan yang seharusnya bisa kita rasakan setiap harinya. Namun karena adanya perasaan/pikiran toxic kita jadi kesulitan menemukan/menciptakan kebahagiaan diri kita.
  7. Untuk yang masih single, berdasarkan pengalaman peserta. Menikmati dengan positif hidup yang di jalani, maksimalkan apa yang bisa dilakukan disaat single. Masa-masa ini adalah masa dimana seharusnya bisa berbahagia dengan diri kita secara puas sambil terus memantaskan diri, kurangi airmata dengan manjauhi hubungan toxic/tidak membawa kebaikan yang hanya akan menghambat kebahagiaan batin kita. Selalu ingat bahwa hidup sudah ada masanya masing-masing, nimati!. Karena ketika kita sudah bisa meng-set kebahagiaan kita sendiri maka aura kebahagiaan akan terpancar positif ke sekitarnya dan biasanya di titik kita sudah merasa cukup bahagia dengan hidup dan pencapaian kita, maka kita akan di dekatkan dengan seseorang yang memang sesuai dengan kebutuhan untuk menjadi pasangan kita.

Terimakasih untuk Maya, Risa, Nisa, Naia, Sita dan Erna sudah bergabung di tema kali ini. Sampai jumpa Ladies di pertemuan Heart to Heart bulan depan dengan tema yang berbeda lainnya, bagi Urbanesse yang ingin bergabung di pertemuan Urban Women Heart to Heart setiap bulannya dapat menghubungi nomor whatsapp 0815-172-52-504 (Lina).



Unknown

No Comments Yet.