Resume Pertemuan Urban Women Heart to Heart Tema "Sadarkah bahwa diri kita malas?"


Tuesday, 01 Oct 2019


Hai Urbanesse pada hari Sabtu (28/9) lalu kami kembali mengadakan pertemuan urban women Heart to Heart, bertempat di The Gade Coffee & Gold, Melawai Jakarta Selatan, kali ini kami mendiskusikan tema “Sadarkah bahwa diri kita malas ?”, Di hadiri oleh 7 orang peserta  Citra, Anne, Wira, Priska, Loli, Meiyora dan Nita masing-masing kami saling sharing berkaitan dengan pengalaman menghadapi rasa malas. Citra Narasumber tamu untuk tema kali ini menceritakan tentang bagaimana dirinya yang berprofesi sebagai seorang Lawyer pun juga mengalami rasa malas. Malas yang di hadapinya lebih kepada perasaan enggan untuk mengerjakan tugas akhir disertasinya. Dirinya mengaku jika datang rasa malas semua yang harusnya dikerjakan bisa benar-benar tidak dikerjakannya. Berdasarkan pengalamannya rasa malas yang pernah di alaminya adalah dengan  mengingat kembali tujuan awal dirinya dalam menjalani kehidupan dan juga mengingat kembali tanggung jawabnya, dengan cara menyelesaikan tanggung jawab tersebut sampai selesai.

Bahkan ketika bekerja pun ada saat dimana dirinya malas untuk berangkat ke kantor, namun menurut Citra jika itu sedang terjadi ia lebih memilih untuk tidak datang ke kantor dulu dan mengerjakan pekerjaanya di tempat lain di rumah atau cafe, menurut Citra ia tetap bekerja hanya saja pindah posisi dan suasananya. “Kalau saya lagi datang malasnya saya bisa memilih dulu untuk tidak datang ke kantor, tapi bukan berarti saya nggak bekerja & melupakan tanggung jawab. Saya tetap bekerja mengurus client, mengerjakan tugas yang belum selesai dan memantau pekerjaan lainnya di luar kantor. Karena saya percaya malas yang biasa terjadi pada saya itu bisa di sebabkan karena rasa jenuh, saya butuh menetralkan pikiran sejenak dengan berpindah suasana dan tempat untuk bekerja kemudian esok atau lusanya saya bisa kembali bersemangat lagi” ungkapnya.

Sama halnya seperti saat dirinya sedang menyusun tugas akhir program disertasinya, ia pun kerap di landa rasa malas, solusinya Citra lebih bersemangat ketika ia beri satu waktu dulu otaknya rehat sejenak 1-3 hari dari rutinitas dengan melakukan hal-hal yang membawa ketenangan atau bisa dengan pergi ke tempat-tempat yang mampu  merecharge otaknya, seperti pergi ke puncak atau ke tempat-tempat yang sejuk yang tidak terlalu jauh dari jakarta “Intinya otak saya itu 5-6 hari bekerja dengan peran yang berbeda-beda yang pasti menguras energi, tenaga dan waktu, jadi ada masa nya otak juga perlu recovery atau penyegaran. Karena kemalasan yang akhirnya berakibat kebuntuan bisa terjadi salah satunya ketika saya merasa ada kebosanan/kejenuhan. “Kita bayangkan saja CPU saja bisa nge-hank jika tidak pernah di refresh, sama halnya dengan otak manusia juga butuh cara-cara khusus untuk melawan kebuntuan yang ditimbulkan dari rasa malas yang terjadi” tuturnya.

Di pertemuan kali ini Anne salah satu member Urban Women pun juga sharing pengalamannya mengatasi rasa malas yang pernah ia rasakan. “Rasa malas pasti siapapun pernah mengalaminya, cuma memang yang membedakannya adalah kadar dan kemampuan masing – masing kita menghadapinya ada yang lebih menuruti rasa malasnya sampai merasa nyaman dengan kemalasannya ada juga yang tahu bahwa ketika dirinya malas akan berakibat buruk atau kesulitan sendiri nantinya. Kalau saya sendiri lebih kepada merasa malas, sesekali saya turuti tetapi nggak terus menerus saya ikutin kemalasan tersebut, cara saya adalah dengan menggerakan dan memotivasi semangat pada diri saya sendiri, sambil melihat keadaan sekitar bahwa yang malas akan menjadi seperti ini dan itu akibatnya, yang rajin dan mau menjalani prosesnya akan menjadi kaya begini dan begitu akibatnya, mengingat lagi bahwa saya masih banyak tanggungan hidup jadi kalau saya malas apa jadinya. Itu yang jadi bahan pengingat dan memacu saya jadi up dan semangat lagi” Ungkap Anne.

Lain lagi dengan pengalaman rekan kami Loli, ia mengaku sangat beruntung karena orangtua terutama Ayahnya sudah mengajarkan tentang kedisiplinan hidup dan pandangan-pandangan yang menurut Loli cukup masuk akal, membuatnya juga jadi bisa berpikir kritis, tidak malas untuk terus mencari tahu sebab akibat ketika ingin mengambil keputusan apapun dan menurut Loli Ayahnya termasuk orangtua yang pandangannya memang jarang di miliki oleh orangtua pada umumnya. “Saya bersyukur di besarkan dari orangtua yang memiliki mindset yang logis dan modern, misalnya dulu saat saya memutuskan untuk menikah dengan pacar saya, Ayah malah memberikan pandangan-pandangan tentang keseriusan saya dan pasangan menikah bagaimana dengan kesiapan financial, mental psikis dan hal-hal lainnya, ia juga memberikan gambaran umum akibat-akibat yang akan terjadi jika pilihan saya untuk menikah karena faktor terburu-buru memutuskan menikah tanpa memikirkan dulu kehidupan jangka panjangnya atau karena status. Ayah malah belum mengizinkan  jika tujuannya itu.

Tapi syukurnya saya dan pasangan memang saat itu sudah siap menikah. Aku mengelola rasa malas dengan cara fokus dengan kebutuhanku sendiri dulu, di awali dengan mencintai dulu diri sendiri, ketika aku sudah mengenal, mencintai dan menerima diriku seutuhnya dengan kelebihan dan kekurangan itu malah jadi mudah banget akhirnya untuk mengetahui tujuan utama aku menjalani kehidupan ini. Saya juga termasuk orang yang nggak mau termakan mentah-mentah informasi yang saya temukan di sosial media. Saya selalu menggali, banyak membaca dan mencari tahu lebih dulu informasi yang saya  dapatkan di sosmed, jadi berusaha untuk nggak main asal menyebarkan. karena ketika kita main asal menyebarkan tanpa di baca dan di gali kebenarannya itu sama halnya kita menyebarkan kebodohan versi baru kepada pengguna sosmed yang lain” Ungkap Loli.

Wira salah satu peserta menambahkan, tentang cara yang dilakukannya dalam melawan rasa malas ketika setiap hari menjalani rutinitasnya sebagai seorang istri dan Ibu. “Saya tidak mau menutupi bahwa saya ini bukanya hanya malas tetapi lebih tepatnya saya ini pemalas. Saat pulang bekerja, dengan peran ganda sebagai pekerja di luar rumah lalu saya harus berperan sebagai seorang Ibu di rumah, ketika sedang melepas lelah beristirahat sehabis pulang bekerja, anak saya minta di buatin makanan, membantu ia menyelesaikan tugas sekolahnya, bermain bersamanya dan hal lainnya yang sering mereka minta pada saya. Sebenarnya kalau saya turutin ‘duh malas banget deh ngerjainnya’ itu malah jadi sering terbebani & nggak fokus jadinya, padahal pekerjaan rumahnya nggak seberapa tapi karena sudah merasa malas duluan berakibat jadi merasa beban ngerjainnya. Akhirnya saya mengingat lagi prioritas dan tanggung jawab peran saya di rumah sebagai Ibu, kalau malas lagi datang seperti itu saya tanya ke diri saya “kalau kamu malas anakmu nggak bakal makan, nggak bakal bisa mengerjakan tugas sekolahnya, mau anakmu gagal wir? Jadi dari situlah saya tepantik semangat dan mengesampingkan rasa malas tersebut” Terang Wira.

Priska peserta lainnya juga berpandangan bahwa saat ini dirnya juga sedang melatih diri untuk bisa membedakan rasa malas dengan rasa ingin nyaman-nyaman saja, “Karena sesekali suka bingung dengan bedanya rasa malas dan nyaman. Kalau saya sudah merasa nyaman, saya jadi sukanya malas untuk melakukan hal lebih dari kemampuan saya. Maka yang saya lakukan kalau lagi keadaan begini saya belajar berusaha memberi tantangan ke diri saya. Masa iya saya nggak bisa merencanakan metime/menyisihkan waktu buat liburan di tengah pekerjaan rutin saya mislanya. Jadi ketika saya coba ternyata nggak bisa berarti saya musti pakai cara yang lain. Intinya gimana caranya aja saya jadi tahu bahwa diri saya mampu atau nggaknya dengan cara mencoba dulu. Beresiko sih, tetapi kalau nggak seperti ini nggak akan tahu bukan” Ungkap Priska.

Nita peserta lainnya yang juga menceritakan pengalamannya untuk keluar dari rasa malas, dirinya mengaku & sadar bahwa selama ini dirinya masih enggan atau lebih tepatnya malas untuk membuka komunikasi atau banyak bertanya dan mencari tahu tentang kebutuhan dirinya maupun pasangannya. Ia sedang melatih diri untuk tidak malas membuka komunikasi dengan pasangan hidupnya. “Saya sadar semakin saya banyak memendam apa yang ingin saya utarakan karena faktor tidak enak untuk di bicarakan, maka ini bisa menjadi bom waktu nantinya. Saya tidak mau akibat buruk terjadi karena membela rasa malas bertanya dan menegur tersebut” Tutur Nita.

Peserta lainnya adalah Meiyora, menurutnya rasa malas bisa terkikis ketika kita memahami Agama dan memiliki Iman seutuhnya atau dengan pandangan yang benar.Karena semua agama mengajarkan kita untuk selalu giat berusaha untuk maju. “Nggak ada agama yang nyuruh kita bermalas-malasan, semua pasti memerintahkan kita untuk berusaha sesuai dengan jalan Tuhan, saya mengalami sendiri bagaimana semangat bisa datang dan pertolongan tiba tanpa di duga-duga ketika kita sudah berusaha keras dan berdoa Tuhan selalu kasih jalannya” ungkap Meiyora.

Dari pertemuan tersebut, kami sepakat bahwa rasa malas mau bagaimanapun bentuknya itu bisa di alami oleh siapapun, tetapi pastikan ketika rasa malas itu melanda, DIRI SENDIRI yang mengambil keputusan untuk memilih menghadapi, mengelola serta melawannya atau memilih untuk menurutinya yang akan berpengaruh buruk dan sulit pastinya dalam kehidupan kita kedepannya.

Berikut beberapa point pembelajaran ketika malas melanda ini yang kami lakukan untuk keluar dari kemalasan tersebut berdasarkan pengalaman peserta yang hadir :

  1. Mengingat kembali dan banyak bertanya pada diri sendiri tentang tujuan/prioritas utama kita dalam menjalani hidup ini. Misalnya seorang pegawai yang sedang di landa rasa malas diri dia lah yang harus melihat lagi apa tujuan utama dia bekerja, untuk apa dan siapa. List juga apa prioritas utama kita dalam menjalaninya (agar kita bisa fokus pada satu tujuan & prioritas yang akan mampu mendongkrak rasa malasnya nanti.
  2. Melawan rasa malas dengan mengingat lagi apa yang menjadi tanggung jawab kita dengan cara menyelesaikannya.
  3. Inisiatif sendiri untuk mengidentifikasi kita mala penyebab/masalahnya apa dan tidak malas untuk memikirkan solusinya.
  4. Tidak menyepelekan/mengentengkan kemalasan-kemalasan kecil seperti bangun pagi, tidur tepat waktu dan hal kecil lainnya. Karena kemalasan besar di awali dari hal yang dianggap sepele.
  5. Belajar mengatur waktu (membuat jadwal kerja/ prioritas) & penghargaan terhadap diri sendiri.
  6. Sering-sering memotivasi dan menyemangati diri sendiri dengan melihat akibat-akibat yang akan terjadi kalau kita menuruti kemlasan tersebut.
  7. Sesekali ketika rasa malas datang kita bisa memberi tantangan ke diri sendiri, jika belum mencobanya kita tidak akan pernah tahu kemampuan kita, jika misalnya kita gagal tidak putus asa tapi kita bisa menggunakan cara lain yang membuat kita terus tidak malas berusaha. Jika kita berhasil kita bisa memberi reward untuk diri sendiri, ini sangat berfungsi untuk memberi semangat ke diri kita agar keluar dari rasa malas tersebut.
  8. Banyak membaca, tidak malu/gengsi untuk bertanya dan mencari tahu segala hal yang memang belum kita kuasai, ini mampu mengasah kemalasan otak kita yang cenderung malas berpikir keras/lebih.
  9. Menerima masukan/kritik membangun dari orang lain & berkeinginan kuat untuk terus memperbaiki diri (tidak mudah menyerah)
  10. Mengubah inner circle/lingkungan pertemanan yang membawa kita semangat dan mampu memotivasi untuk mencapai tujuan.

Terimakasih kepada teman-teman yang sudah berpartisipasi pada pertemuan kali ini, sampai jumpa di pertemuan Urban Women Heart To Heart edisi berikutnya dengan tema yang menarik lainnya, daftar yuk jadi anggota Urban Women Heart to Heart ke nomor whatsapp 0815-172-52-504.



Admin

No Comments Yet.