Rasa Malas Dekat Dengan Kemiskinan


Tuesday, 24 Sep 2019


Bukan hanya miskin harta, yang lebih parah adalah miskin ilmu, batin dan jiwa pun kosong, jauh dari kata bahagia yang sebenarnya.

Sebelum mulai bercerita tentang cerita saya, saya akan ceritakan dahulu asal muasal kemalasan orang zaman sekarang. Malas itu terjadi sebenarnya karena gaya hidup, membicarakan gaya hidup bukan hal tabu, cuma memang belum waktunya...

Dalam gaya hidup itulah, mereka bertemu dengan laki-laki yang bisa mereka ajak menyesuaikan harapan akan gaya hidup, padahal laki-laki mereka itu, belum sesuai untuk membiayai gaya hidup itu. Akhirnya, jikapun mereka menikah, mereka menikah dengan tanpa mengerti, tanpa memahami bagaimana menghidupi kehidupan mereka.

Yang paling sedih, anak-anak  mereka menjadi korban luka batin. Mereka bisa jadi bercerai, anak mereka dididik mama mereka, kemudian mereka berprilaku seperti layaknya gadis dan anak mereka seperti menjadi anak mamanya.

Sedih sih lihat anak sekarang..

Karenanya, anakku, ku didik memahami kehidupan ini...

Gaya hidup mewah, boleh = sesuai kemampuan.

Gaya hidup mewah = jika masih muda, belum punya uang cukup,belum punya tabungan, rumah, mobil, kemampuan membayar tagihan = belum waktunya

Gaya hidup mewah = jadi motivasi berjuang (tanpa harus jadi strees)/ menjadi bahan bakar sesuai kebutuhan, seperti mobil dg pertalite

Gaya hidup mewah = boleh sesekali, agar mengerti hidup dengan gaya wah itu keren, agar termotivasi TAPI BUKAN KESEHARIAN karena realita, belum mampu.

Mencari pria  yang tujuan hidupnya jelas : Sudah mau memikirkan tentang tabungan, rumah, mobil dan kemampuan membayar biaya hidup, karena di dalam niat itu, ada diri kita yang menjalani yang ikut merasakan.

Berhenti mencari laki-laki yang tidak bicara soal : Tabungan masa depan, karena jika ia tidak berpikir tentang masa depannya sendiri, bagaimana dirinya mengerti memikirkan masa depan kita, masa depan anak kita nanti.

Semua gaya hidup mewah dengan barang branded adalah wujud penghargaan dunia kepada orang yang sukses/ berduit, apakah kita sudah di level itu? Jika belum, kerja keras seperti orang-orang yang memang pantas membelinya.

Jika salah mencari pasangan, penderitaannya adalah selama bersamanya.

Ditukar juga /putus dengan laki-laki yang satu, bertemu dengan laki-laki lain yang sejenis, tetap saja hasilnya sama. Wanita BUKAN korban laki-laki, karena wanita sekarang adalah wanita BEBAS yang boleh memilih bersama laki-laki manapun.

Ini cerita saya dalam mengelola kemalasan

Dalam kaitannya dengan tema Urban Women kali ini tentang kesadaran diri dengan rasa malas. Sejujurnya dulu ketika saya belum menikah, orangtua saya mendidik saya untuk tidak menuruti kemalasan. Orangtua saya mendidik saya tentang bagaimana dalam hidup itu diri saya sudah di ajak berinvestasi.

Seperti investasi kesehatan saya di libatkan orangtua untuk bergabung di asuransi kesehatan, jadi ini bekal saya ketika saya sakit saya sudah memiliki asuransi.

Dalam hal Investasi keuangan dan karir orangtua membiayai saya untuk kuliah dan sekolah pada jurusan yang memang saya minati, jadi menjalaninya saya enjoy tidak merasa terbebani karena orangtua mempercayakannya dan saya menjalaninya tepat waktu. Lulus kuliah saya bekerja dengan orang lain selama beberapa tahun sebagai bentuk investasi untuk menambah pengalaman saya. Kemudian di tahun-tahun berikutnya saya di percaya untuk menjalankan bisnis keluarga hingga hari ini (mungkin kalau saya malas, saya nggak akan mau mengerjakan ini semua. Karena saya sudah di didik orangtua untuk rajin mengikuti segala investasi tersebut saya jadi semangat terusdan menikmati mengerjakannya).

Investasi lainnya yang saya ikuti dari dulu adalah mengikuti kegiatan di luar jam kantor seperti Mengikuti club kesehatan (senam aerobic, yoga dan zumba), berkomunitas, mengikuti kegiatan bakti sosial dengan teman-teman perkumpulan spritual, mengikuti workshop/seminar dalam membangun love relationship, workshop pra nikah. Intinya saya dari dulu di ajarkan rajin oleh orangtua untuk berinvestasi dalam hidup.

Hasilnya terasa sekali hingga hari ini saya pun menerapkannya pada anak-anak dan pasangan saya. Saya sadari bahwa kemalasan adalah penghambat segala hal jika bukan kita yang menghindarinya siapa lagi. Jadi, ketika ada teman-teman saya yang belum selesai dengan permasalahan dalam hidupnya baik permasalahan dengan laki-laki atau karir/bisnisnya yang jalan di tempat saya selalu mengatakan pada mereka ‘tanyakan ke diri sendiri adakah rasa malas yang juga hinggap di diri mereka tanpa di sadari’ Karena kemalasan paling fatal adalah rasa malas yang tidak di sadari.

Nah, bagaimana menyadarinya? Selalu tanyakan berkali-kali ke diri sendiri apa sebenarnya tujuan dan prioritas utama kita hidup ? Kalau saya sejujurnya tujuan saya adalah bisa menjalankan bisnis saya dengan sekaligus membangun keluarga dan anak-anak saya sambil terus menjalankan investasi hidup untuk mereka. Yang nantinya bisa mereka terapkan juga pada anak-anak & karyawan mereka jika sudah memiliki bisnis sendiri, Seperti yang telah di ajarkan orangtua. Saya menerapkan cara orangtua (Mama saya) karena cara dia mendidik benar-benar membuat kami anak-anaknya disiplin & rajin untuk sedia payung sebelum hujan.

Jadi Urbanesse mau memilih tetap malas atau memilih bersemangat mengajalaninya ? Pilihan di tangan kita Ladies. Pilih sesuai dengan tujuan dan prioritas utamamu.



Muina Englo

Seorang pengusaha otomotif Sumatra Barat yang senang menulis tentang Mentalitas Karyawan.

No Comments Yet.