Penyakit Hati, Akibat Memusingkan Postingan Sosmed Orang Lain


Thursday, 20 Jun 2019


Halo Urbanesse, saya ingin menceritakan pengalaman tentang rasa iri yang pernah saya alami. 6 tahun yang lalu, waktu zamannya ada aplikasi path sedang booming saya seorang Ibu rumah tangga yang sering melihat postingan orang lain. Semua postingan teman-teman saya menarik sekali rasanya, kalau di bayangkan. Seperti postingan teman yang belum menikah ada yang memposting foto-foto liburannya ke  luar negeri, ada yang naik gunung, yang sudah berkeluarga dan berpasangan pun memposting sedang makan romantis di restauran bersama pasangannya, sedang jalan-jalan ke mall dengan anak-anaknya, yang sedang melanjutkan kuliah lagi, yang memposting foto bareng dengan rekan kerjanya, yang memposting dapat kenaikan promosi, gaji, yang memposting undangan pernikahannya dan postingan lainnya yang jika dibayangkan sangat menyenangkan dan menarik sekali hidup mereka di banding hidup saya.

Sejujurnya punya sosial media saat itu bukan menghibur saya, tetapi membuat saya stress karena terbawa perasaan iri sendiri dan merasa nggak asik sendiri. Rasa tertekannya secara nggak langsung, tetapi hati dan pikiran yang bermain. Jadi setiap ada teman memposting hal menarik di sosmed yang berkaitan dengan hidup mereka hatiku selalu mengatakan hal negatif ‘ah belagu banget pake posting foto lebay begitu pre wedding, ih postingannya nggak mutu banget masa lagi bersihin anak pup aja pakai di posting di sosmed bikin saya jadi iri aja karena saya belum memiliki buah hati.

Sebenarnya bukan teman – teman saya yang salah dan lebay tetapi penyakit iri hati saya yang akut dan berusaha saya pupuk  sendiri sehingga setiap melihat postingan teman nggak pernah merasa senang dan selalu mikir negatif.  Saya malah berbalik membandingkannya dengan hidup saya ‘kok mereka enak banget ya hidupnya beda banget sama hidup saya, kok dia jalan-jalan melulu ya, kok dia bisa sukses begitu ya’.

Seharusnya sosmed nggak membuat saya menjadi sosok yang antagonis, seharusnya saya bisa lebih bijaksana melihat postingan orang lain dan nggak berusaha bandingin hidup saya dengan mereka. Karena yaa..sudah pasti berbeda, perjuangan mereka dengan perjuangan saya itu saja sudah berbeda mengapa saya sampai hati iri dengan hidup mereka yang notabene belum tentu juga hidup mereka itu sama seperti apa yang mereka posting. Jangan-jangan sebenarnya hidup saya yang lebih baik dari mereka hanya saja saya orangnya lebih mengutamakan rasa iri hati hingga kurang bersyukur dengan postingan orang lain ?

Jujur selama saya merasakan penyakit iri dan berpikiran negatif melihat postingan teman di sosmed, batin saya nggak pernah merasakan enak sampai pernah merasa muak lihat postingan teman di Path karena membuat saya jadi galau sendiri. Tetapi untungnya saya tidak sampai mengomentari nyinyir dan negatif setiap postingan mereka. Dalam hal ini saya hanya merasakan rasa iri sendiri, ngomong pun sama batin sendiri nggak sampai keluar dan bicara kasar di postingan mereka.

Tersadar bahwa sikap ini salah adalah ketika saya membaca sebuah quotes yang teman saya posting kurang lebih kalimatnya begini ‘terserah orang lain ingin memposting apapun karena itu akun sosmed milik mereka dan itu mungkin memang hidup mereka tidak perlu merasa iri dan terbawa perasaan sendiri, karena peyakit hati di mulai dengan mempermasalahkan postingan sosial media orang lain. Tidak suka tinggal unfollow/blocked karena hidup pun semudah itu kitalah pemegang kendali hati dan pikiran kita’ terangnya.

Membaca postingan tersebut membuatku merasa tertampar, aku pikir benar juga. Untuk apa aku memusingkan postingan mereka toh itu hidup mereka, dan aku memiliki kehidupanku sendiri. Aku punya suami yang baik, aku tidak diperkenankan bekerja oleh suami dan memang aku juga memilih untuk off dulu karena selama 10 tahun aku bekerja kantoran jadi pas nikah aku memilih off dari pekerjaan dan mengurus rumah tanggaku, suamiku ingin aku tidak kelelahan juga karena bekerja dan fokus pada rencana kehamilan. Pekerjaan rumah pun aku di bantu oleh asisten rumah tangga karena suamiku tidak ingin memberatkanku selama di rumah, kebutuhanku di cukupi oleh suami. Rutinitasku kalau nggak nonton tv, baca buku, yoga dan pergi ke supermarket belanja. Aku memang kurang suka bergaul dengan tetangga komplek rumah, karena menghindari bergosip. Jadi kalaupun kumpul sama teman yaa..aku memilih pergi ke mall. Selebihnya aku memang lebih banyak memegang hp untuk melihat sosial media. Kalau di pikir-pikir lagi hidupku sebenarnya mungkin jauh lebih baik daripada postingan orang-orang di sosial media. Hanya saja yaa...itu aku sempat memiliki penyakit hati (rasa iri),  kurang bersyukur dan selalu melihat kebahagiaan dari orang lain.

Padahal aku sendiri pun memiliki kebahagiaan lebih sebenarnya, rasa terberat yang membuatku jadi merasa iri adalah ketika melihat temanku yang telah memiliki buah hati. Rasanya setiap ada yang memposting tentang anak aku selalu berpikiran negatif pada orangtuanya karena merasa ‘kok Tuhan belum juga memberiku buah hati’ itulah sebabnya aku tidak pernah berpikir positif pada setiap postingan temanku yang memamerkan buah hatinya di sosial media.

Tetapi aku ingat lagi bahwa hidup itu sudah ada jalannya masing-masing yang Tuhan sudah gariskan sekarang tugasku adalah bagaimana menyikapinya agar aku bisa lebih tenang, tidak iri dengan hidup orang lain dan bersyukur dengan apa yang sudah aku miliki.

Hingga kini aku masih tetap main sosmed heehee...tetapi kini jauh lebih bijak. Aku belajar untuk tidak lagi memusingkan postingan teman-temanku di sosmed karena :

  1. Tidak ada untungnya juga untuk diriku sendiri, mau itu postingan hoax atau benar ku merasa itu bukan urusanku. Sebagai temannya di sosial media aku cukup mengapresiasi dengan hal-hal yang baik-baik aja memberi love/like atau komentar yang baik jika pun aku nggak suka, bukan berarti aku harus menghakimi dan mencemooh serta berpikiran negatif pada postingannya karena ketika saya berpikir negatif makan hidup saya pun demikian dan sebaliknya. Jadi saya kini lebih baik memilih bereaksi yang baik dan positif aja terhadap postingan orang lain, nggak mau merasa iri karena hidup saya sudah jauh lebih baik dan saya syukuri karena orang lain belum tentu seberuntung saya memiliki suami yang baik dan pengertian, itu sudah lebih dari cukup. 
  1. Aku belajar untuk tidak lagi melihat taman milik orang lain dan tidak bersyukur dengan tamanku sendiri. Karena kadang taman orang lain yang ditampilkan di sosial media belum tentu pada kenyataanya semenarik postingannya di sosial media, karena ternyata kehidupan di dunia nyata milik saya sebenarnya jauh lebih baik daripada terus menghitung berkat orang lain hingga lupa bahwa berkat saya jauh lebih banyak pada kenyataanya.
  1. Menjadikan postingan orang lain sebagai penyemangat/pemacu diri untuk bisa melangkah lebih baik dari diri saya sebelumnya (namun tidak ngotot, tetapi lebih menerima hidup saya dengan cara pandang saya bukan dipatok dari cara pandang orang lain). 

Semoga cerita saya ini bermanfaat dan mampu menjadi penyemangat juga untuk urbanesse agar berhenti memusingkan postingan orang lain.  ‘envy is the art of counting the other fellow’s blessings instead of your own’ –Harold Coffin-

Saya setuju dengan quotes tersebut, mulailah menghitung berkat /kelebihan yang kita miliki meski secelumit karena dari situlah kita bisa menghindari dari rasa iri terhadap hidup orang lain, karena apa ? karena kita lebih banyak bersyukur daripada mengeluh dan membanding-bandingkan. 



Clara Marisa

No Comments Yet.