Pasanganku Sulit Berkomitmen


Wednesday, 17 Jul 2019


Pasanganku Sulit Berkomitmen

Saya pernah berulang kali menjalin hubungan dengan pria yang sulit sekali berkomitmen aku menyebutnya kala itu bad boy yang karena berdasarkan pengalaman, mereka sulit setia dan berkomitmen tapi pandai membuat saya merasa nyaman banget. Beberapa pria yang sempat dekat dengan saya rata-rata semua sikap dan perilakunya sama persis.  Saya 3 kali berhubungan dengan model cowok seperti ini. Cara mereka memperlakukan saya dengan gaya yang sama, yang saya rasakan mereka pandai dalam memperlakukan perempuan dan pria-pria yang pernah dekat dengan saya tersebut  tahu kalau diri saya ini orangnya mudah terbawa perasaan, mudah tersentuh & gampang merasa bersalah. Dulu saya nggak tahu kelemahan saya ini, sampai beberapa kali tempaan pembelajaran yang akhirnya saya dapatkan setelah menjalin hubungan dengan mereka.

Hubungan pertama saya dengan seorang pria sebut saja namanya Rudi (bukan nama sebenarnya) saya menjalin hubungan dengan Rudi kurang lebih 1 tahun setengah, selama masa pacaran tersebut Rudi benar-benar bisa membuat saya percaya kalau dia akan menjadi jodoh saya. Rudi orangnya romantis, pembawaan dan gayanya memang sangat santai, kerensecara penampilan sebagai laki-laki (kalau kata teman-teman saya) tampilan luarnya memang sedikit kaya rebel (nakal) tetapi saat itu dia benar-benar membuat saya merasa menjadi perempuan satu-satunya yang bahagia. Saya merasa dia juga sangat perhatian lho, waktu saya sempat jatuh sakit Rudi lah yang menemani saya selama di rawat di rumah sakit. Pokoknya saat itu saya merasa Rudi pasangan tepat buat saya, gayanya yang sedikit selengean saya anggap hanya pembawaanya saja, toh suatu hari bisa berubah (semoga) namun ternyata di balik perangainya yang membuat saya jatuh hati.

Saya benar-benar merasa takut kehilangan dia, sampailah pada titik dimana saya rela memberikan segalanya pada Rudi, yaaa...karena saya suda percaya dan merasa mantap kalau dia lah jodoh saya. Masa iya sih sudah seperhatian begitu dia akan meninggalkan saya, masa iya sih ketika saya sudah mau di ajak tidur bareng sama dia, dia nggak akan bertanggung jawab dan menikahi saya (pikiran saya saat itu kalau diingat lagi sangat naif) karena saat itu yang saya tahu kalau saya sudah memberikan segalanya, itu berarti bakalan jadi nikahnya sama Rudia, bukan sama yang lain. Singkat cerita,  semua saya rasakan berubah Rudi mulai sering  menghilang tanpa kabar (tiba-tiba hpnya rusak katanya, tiba-tibaorangtuanya katanya nyuruh dia pindah tempat kos dan sellau ada saja lasan lainnya) lalu bisa tiba-tiba muncul kembali dengan merayu saya, membuat hati saya yang tadinya sempat marah bisa jadi luluh, dia kadang muncul hanya untuk melakukan hubungan seksual. Saat itu saya merasa bodoh, lemah dan nggak bisa tegas. Yang saya pikirkan hanya takut kehilangan Rudi karena dia sudah membuat saya nyaman dan dia juga cowok pertama yang sudah tidur dengan saya. Jadi, saya memaklumi perbuatannya yang kerap hilang-hilangan (nggak apa-apa deh dia seperti ini semoga suatu hari berubah) pikiran itulah yang membuat saya semakin hari bukan semakin baik malah semakin buruk batin saya.

Saya selalu negatif thingking sama diri sendiri, Selama menjalin hubungan, saya hanya ada perasaan takut (takut kalau Rudi memutuskan hubungan dengan sayalalu saya akan seperti apa hidupnya, takut nggak ada yang mau lagi sama saya karena saya sudah tidak perawan, takut nggak ada lagi cowok yang bisa bikin saya senyaman bersama Rudi dan rasa takut lainnya). Perasaan ini saya rasakan bukan hanya saat menjalin hubungan dnegan Rudi, melainkan setiap kali saya pacaran, pikiran-pikiran inilah yang selalu menyelimuti diri saya. Jujur saat itu saya merasa capek banget rasanya. Tanpa saya sadari hubungan dengan Rudi sangat membuang energi saya tapi saya terus jalani dengan harapan ia berubah.

Tetapi apa yang terjadi, Rudi benar-benar meninggalkan saya, ia pamit pada saya katanya akan pergi bekerjadi daerah Kalimantan. Saat itu saya meminta dia untuk menikahi saya seadanya, karena saya pikir dia akan bekerja jauh dari saya dan saya masih ingin hubungan ini terus berlanjut. Namun, ia tetap bersikeras berangkat ke kalimantan tanpa jadi menikahi saya dnegan alasan uangnya belum cukup, kelak suatu hari nanti saya katanya akan ia nikahi tetapi nggak sekarang. Saat itu saya hanya bisa nurut, meski sebenarnya hati saya kacau sekali. Rudi pun pergi ke Kalimantan kami pacaran long distance dan jujur bukannya semakin baik hubungan ini saya rasakan semakin buruk. Saya merasa ketakutan, saya cemburu pokoknya semua perasaan negatif ada di diri saya saat itu.

Mungkin jengah, Rudi memutuskan hubungan dengan saya lewat telepon. Tanpa berpikir panjang saya cuti dari kantor dan memanfaatkan tabungan saya untuk pergi menyusulnya ke Kalimantan berharap hubungan tersebut tidak harus sampai berkahir. Sesampainya di mess (tempat tinggal rumah Rudi) saya berhasil menemuinya dan ternyata Rudi telah menikah dengan perempuan di daerah situ, ternyata itu sudah berlangsung 2 bulan yang lalu, yang notabene ia masih sering menghubungi saya. Saya tidak bisa berkata-kata lagi di sana, saya merasa diri saya hancur sehancurnya. Saya empat mengalami depresi berat cukup lama nggak mau bertemu dengan orang luar. Saya lebih senang tingga di rumah.

Singkat cerita saya pun move on dari Rudi, sempat kembali berpacaran sebut saja pacar kedua dan ketiga saya namanya Dito dan Leo (bukan nama sebenarnya). Menjalin hubungan dengan mereka nggak lama hanya berlangsung 5-8 bulanan. Saat jalani hubungan dengan mereka, bukannya saya belajar dari pengalaman dengan Rudi, saya malah  lagi yang ceritanya sama. Awalnya membuat saya nyaman, mereka bisa membawa diri saya benar-benar menjadi sosok yang percaya diri lagi, bahkan Dito sempat membelikan saya cincin untuk meyakinkan kalau ia serius. Namun, bulan berlalu saya terjebak kembali dengan hubungan yang tidak sehat. Saya tidak peka dengan kode-kode alam yang sebnarnya menunjukkan kalau mereka nggak benar-benar serius sama saya. Misalnya ketika mereka saya ajak bertemu ke rumah orangtua saya, selalu menolak dengan beragam alasan yang akhirnya membuat saya nggak enak untuk mengajaknya lagi dan takut menanyakan keseriusan hubungan dengan meerka. Takut mereka keburu kabur/hilang  ujung-ujungnya beneran menghilang ketika saya ajak Leo membicarakan tentang keseriusan hubungan, Leo malah mengatakan belum ada keinginan untuk menikah lalu setelah itu ia berubah dan sulit sekali di hubungi kemudian hilang begitu saja ganti nomor dan saya juga nggak tahu tempat tinggalnya.

Rudi, Dito dan Leo 3 orang ini akhirnya membawa saya pada usaha untuk berkaca diri, setiap pulang kerja saya masuk kamar saya banyak bercermin di kaca sambil berbicara sendiri. Saya bertanya pada diri sendiri, kenapa sih kamu begini banget kisah cintanya. Lihat Sahabat kamu Dea dan Mila mereka bisa dnegan lancarnya pacaran lama tetapi di nikahin dan cowokya bener, kenapa kamu kok bisa kaya begini ? ucapan itu berulang saya tanyakan ke diri saya setiap kali saya pulang kerja dan masuk kamar. Kalau orang mungkin melihat saya begini dianggapya saya ada gangguan mental, tetapi saat itu setiap kali saya tanya ke cermin, saya bisa jawab dengan lugas ‘yaa, saya berbeda dengan  Dea & Mila, saya memang begini adanya. Tetapi apakah dengan saya begini saya salah? Memang nggak salah, hanya saja saya terlalu berlebihan ketika mendapatkan sesuatu. Baru pacaran, saya sudah memberikan hati saya sepenuhnya, kalau di persentase hampir 90 persen kepada laki-laki. Padahal mereka belum tentu sebesar itu hatinya buat saya.

Lalu, baru saja pacaran saya sudah rela memberikan segalanya tanpa memikirkan dampaknya malah meninggikan ekspektasi pada pria-pria tersebut. Saya sadar semakin tinggi ekspektasi/harapan saya pada mereka maka semakin besar kemungkin ketika mereka mengecewakan, akan membuat saya sangat terpuruk karena fokus saya masih seputar pacaran.

Dari perenungan demi perenungan setiap hari di depan cermin (walau agak aneh sih bicara dengan diri sendiri di depan cermin heehee..) tetapi jujur ini sangat membantu saya menjawab tanya yang ada di pikiran saya. Sendiri.

  1. Saya belajar menjalin hubungan dengan kepekaan tinggi.

Dulu itu saya sempat bingung kenapa ya kok saya di pertemukan melulu dengan pria yang modelnya Bad Boys. Ternyata setelah saya lihat lagi saya belum bisa memperlakukan diri saya dengan baik sehingga para cowok-cowok tersebut bisa dengan mudahnya mengaduk-aduk perasaan saya. Dari sinilah say belajar peka, jadi ketika menjalin hubunagn kembali dnegan cowok yang saya sudah tahu arah awalnya seperti Rudi, Dito dan Leo yang hanya mau kesenangan sesaat saja tanpa mempunya rasa tanggu jawab buat diri mereka sendiri, saya lebih memilih untuk menunda dulu bahkan mending nggak melanjutkan hubungan kalau sudah tahu arahnya akan seperti cerita mantan pacar saya.

 

  1. Mengenal lebih dalam kelemahan diri, saya catat apa kekurangan saya saat dulu berpacaran dengan Rudi, Dito dan Leo dan nggak lupa saya catat juga kelebihan yang saya miliki ketika menjalin hubungan dnegan mereka, untuk memotivasi saya.

Saya sadari dulu saya tahu kelemahan di diri saya tetapi tidak berani menyuarakannya karena di penuhi dengan ketakutan sendiri. Dalam artian, saya tahu bahwa saat saya merasa takut kehilangan mereka hingga rela memberikan segalanya di awal hubungan, mereka para pria yang jadi pacar saya juga sudah membaca sikap lemah saya ini makanya bisa dengan mudahnya datang dan pergi, menghilang tanpa kabar lalu bisa tiba-tiba muncul lagi dengan merayu dan membuat saya iba dan luluh karena mereka tahu kelemahan saya mudah terbawa perasaan.

 

  1. Saya belajar dari teman saya Dea, ia bisa menunda untuk tidak melakukan hubungan seksual saat masih berstatus pacaran. Dea bisa, aku pun yakin bisa. Aku tidak menerima diriku dengan masa laluku yang dulu. Dari titik perenungan ini aku belajar untuk tidak lagi mengulangi kekeliruan seperti awal hubunganku dengan mantan-mantan pacarku teredahulu. Lebih baik menunggu sambil terus memantaskan diri dan menunda untuk tidak lagi memberikan segalanya ketika masih berstatus pacaran apapun itu baik seks, uang maupun perhatian lebih. Karena dari pengalaman yang lalu aku belajar lebih baik yang cukup aja nggak usah berlebihan dulu.

Singkatnya, Puji Tuhan hubunganku berikutnya berjalan jauh lebih baik dari hubungan-hubunganku sebelumnya setelah aku menerapkan cara-cara di atas. Ternyata benar ketika saya  tidak terlalu fokus berlebihan pada hubungan yang masih sebatas pacaran, reaksi positif malah saya dapatkan dari pasangan saya. Dulu itu saya selalu merasa takut kehilangan, tetapi hubungan kali ini saya lebih berani bersikap, Misalnya ketika pacar saya sudah mulai ngasih gelagat yang saya tahu nantiya malah bakal membuat saya baper, saya coba untuk tetap tenang & memilih melakukan aktivitas lain yang bermanfaat buat diri saya daripada hanya fokus padasi dia. Jujur, hubungan kali ini malah lebih penuh letupan, latihan dan usaha bukan hanya diri saya saja, tetapi dia pun bisa belajar juga menjadi pribadi yang bertanggung jawab  atas hubungan ini. Dulu hanya saya yang terus berjuangpara pria sedang mereka santai-santai. Tidak demikian dengan pasangan saya kali ini, ia benar-benar mau sama-sama di bentuk pribadinya. Kami berdua terus belajar untuk mau menurunkan ego ketika emosi, saling memaafkan jika salah satu salah, tidak mudah terpancing emosi dan saling mengingatkan ketika yang lainnya sedang tidak stabil satu lagi terbuka terhadap segala hal unek-unek apapun, itu yang saya sepakati dengannya. 

Dia sudah melamar saya bulan Mei lalu, awal Agustus nanti kami akan menikah semoga Tuhan memberkati pernikahan kami nanti. Bagi saya pernikahan bukan akhir tetapi itu bentuk senyata-nyatanya diri saya dan pasangan.yang harus saya terima dengan kelebihan dan kekurangannya. Semoga saya dan dia masih bisa terus belajar untuk menjadi pribadi yang lebih baik.

 



Mia

No Comments Yet.