Obsesiku Terhadap Pernikahan


Monday, 04 Nov 2019


Kalau berbicara tentang Obsesi atau Cinta yang tulus itu memang sangat bertolak belakang ya aku yakin temen-temen semua juga berpikiran hal yang sama. Menurut aku pribadi, tema bulan lalu mengenai kegagalan berkaitan dengan tema bulan ini yaitu Obsesi atau Cinta yang tulus. Penyebab kegagalan itu bisa berasal dari Obsesi kita sendiri. Aku mau berbagi cerita hubunganku yang gagal karena obsesiku, iya aku obsesi tapi terhadap status. Bagi beberapa perempuan, status itu penting termasuk bagiku. Aku beberapa tahun yang lalu itu sangat terobsesi dengan kata Menikah atau Pernikahan. Karena itu aku sempat tidak menganggap penting perasaanku, alhasil aku terus berganti pasangan. Aku memutuskan bahwa jika aku menjalin hubungan pacaran, maka aku harus sampai ke jenjang pernikahan. Itu memang tujuan yang baik dan di dalam agama pun diharuskan, tetapi justru aku melupakan beberapa poin. Orang tua ku pun turut ikut mengambil keputusan dalam setiap hubunganku, jika mereka tidak menyetujuinya maka akupun akan mengakhirinya.

Aku menjalin hubungan dengan salah satu pria, dan aku menyatakan perasaanku bahwa aku ingin ke jenjang lebih lanjut. Lalu ia mengatakan siap untuk kearah sana. Maka kami berdua menyampaikan niat baik itu kepada kedua orangtua kami, dan mereka menyetujuinya. Perjuangan kami sangatlah tidak mudah, untuk Ladies yang sudah menikah atau sedang mempersiapkan mungkin bisa lebih paham rasanya. Saat itu aku merasa cukup puas dengan hubunganku karena merasa akan berganti status. Kenapa sih itu sangat penting bagiku? Karena teman-temanku sudah berkeluarga dari beberapa tahun sebelumnya dan itu cukup memberikan aku tekanan. Orang tua ku pun sudah semakin tua, dan selalu mengatakan bahwa ingin cepat-cepat memiliki cucu. Belum lagi beberapa teman lain yang selalu mengejekku karena berganti pasangan namun tidak kunjung menikah. Itulah penyebab mengapa aku terus  mengejar status tersebut. Aku sangat terobsesi dengan hal tersebut, semua ku kejar mulai dari vendor dan perintilan lainnya yang dibutuhkan. Setiap aku bertemu dengan pasanganku, maka yang kami bahas pun mengenai persiapan kami. Karena kami berdua sama-sama bekerja, maka kami pun harus memanfaatkan waktu dan tenaga yang kami punya untuk hal ini. Bersyukurnya kepada Tuhan semua berjalan lancar.

Suatu ketika disaat kami bertemu untuk membahas pernikahan, tiba-tiba dia mengatakan bahwa tidak ingin melanjutkan ini kembali. Saya kaget dan panik tentunya, saya tanya kenapa dan ternyata dia menjawab bahwa sebenarnya dia belum siap. Saya kecewa tentunya dan sempat terpuruk saat itu untuk beberapa lama dan sempat takut untuk memulai lagi dengan yang lain. Lalu ketika saya memulai lagi hubungan, selalu berakhir bukan dengan pernikahan. Ada salah satu pria juga mengatakan bahwa tidak mau terlalu cepat. Itu sempat membuat saya merasa tidak percaya diri.

Aku Menemukan Diriku Sendiri..

Lalu setelah kejadian tersebut aku sadar bahwa aku hanya terobsesi dengan pernikahan itu namun aku tidak memperhatikan perasaan pasanganku. Aku terlalu menggebu-gebu, tidak perduli apakah hubungan ini nyaman atau tidak. Aku keras kepala dan menginginkan hubungan ini sesuai dengan apa yang kumau, aku kurang memperdulikan lagi soal rasa dan apa yang pasanganku butuhkan dalam hubungan. Egois dan hanya memikirkan hasil akhir. Bahkan aku tidak tau apa yang kubutuhkan selain hanya Menikah. Sampai aku sadar kenapa aku harus begini? Aku merasa bodoh karena tidak mempertimbangkan hal lain. Aku berpikir mungkin aku terlalu memaksakan sesuatu yang belum waktunya, atau malah aku yang ternyata belum siap. Karena hubungan yang benar harus didasari dengan ikhlas dan tulus dalam menjalaninya. Ketika kita merasakan ada didalam hubungan yang benar maka kita akan menjalani rutinitas positif walaupun dengan cara dan jalannya masing-masing, itu tidak jadi masalah karena sudah tahu peran masing-masing. Namun dalam hubunganku jelas bahwa ini obsesi yang terjadi. Menikah adalah hal penting, tetapi untuk mengetahui apa itu menikah dan bagaimana menjalaninya serta komitmen itu yang susah bukan hanya sekedar mengganti status.

Karena aku sadar perbuatan ku sendiri salah dan tujuan aku menjalin hubungan terlalu memaksakan, akhirnya aku menemukan diriku sendiri. Yaitu aku tau seperti apa pria yang aku butuh, aku lebih hati-hati dengan sikapku memperlakukan pasangan. Lalu ada beberapa hal yang aku pelajari :

  1. Aku belajar untuk tidak gegabah, karena menikah berbicara soal seumur hidup maka aku tidak mau terburu-buru hanya karena deadline dan lingkungan sekitar. Aku juga belajar untuk lebih positif dalam berpikir dan menguatkan hatiku bahwa Tuhan akan kirimkan pasangan yang memang sesuai untukku, tetapi tugasku adalah memilih dengan hati-hati.
  2. Aku belajar jika ada beberapa hal yang tidak bisa dipaksakan dalam diri Laki-laki dan Perempuan, yaitu soal waktu. Tidak semua hal harus sesuai dengan yang kita mau, aku mungkin tidak membiarkan ruang untuk dia berpikir jernih.
  3. Aku belajar bahwa bahagiaku bukan hanya dengan kata Menikah dan bergantung kepada orang lain. Aku menemukan kebahagiaan untuk diriku sendiri, sehingga ketika waktunya tepat pasanganku akan melengkapi saja bukan menjadi penentunya.
  4. Aku belajar bahwa aku harus Tulus dan Ikhlas menjalani hubungan, jangan karena ada maunya saja. Aku belajar untuk menerima proses dan tidak berfokus hanya kepada satu hal didalam diri pasanganku saja.

Setelah aku belajar hal tersebut, aku menemukan pasangan yang sekarang menjadi teman hidupku sesuai dengan apa yang aku butuhkan bukan hanya obsesiku dan dia pun dapat merasakan cinta yang tulus dari ku yang sudah berubah dan belajar ini. Aku tidak lagi bersikap egois dan terbukti dari pelajaran pahit tersebut aku dapat memulai hubungan yang dilandasi dengan tulus untuk membangun rumah tangga. Nikmati prosesnya ya Ladies, ayo kita belajar untuk membuat diri kita nyaman dan pasangan kita nyaman agar tercipta hubungan yang sehat.

Nah Ladies, aku berharap pengalamanku ini menginspirasi kita semua sehingga kita bisa membangun hubungan yang tulus dan nyaman.

Stay Happy Urbannesse!



Admin

No Comments Yet.