Obsesi Dalam Bekerja. Positif atau Negatif ya?


Wednesday, 13 Nov 2019


Awalnya saya ragu untuk mengirimkan pengalaman saya ke Urban Women, sempat maju mundur karena saya berpikir bahwa Tema ini hanya berkaitan dengan hubungan. Tetapi tidak ada salahnya untuk melihat dengan sudut pandang yang lain, betul ngga Ladies? Saya juga baru kali ini mengirimkan cerita ke suatu komunitas seperti ini, tapi saya harap akan menginspirasi banyak perempuan diluar sana yang membaca.

Dari dulu saya memang terbiasa dengan target yang diri saya sendiri buat dari waktu sekolah dan memiliki ambisi harus sesuai dengan target tersebut. Dengan ambisi tersebut saya merasa bahwa hidup saya lebih terstruktur dan jelas arahnya. Walaupun ada rintangan yang menghalangi, saya akan tetap pada target dan berupaya untuk sesuai jalur. Karena hal tersebut, lingkungan pertemanan saya tidak terlalu besar dan saya merasa tidak apa-apa karena menurut saya yang terpenting adalah diri saya sendiri dan pencapaian saya. Lalu ketika memasuki dunia pekerjaan, saya pun berupaya dengan persaingan sehat untuk mencapai posisi seperti sekarang ini. Saya memulai pekerjaan saya diwaktu lulus kuliah. Waktu yang saya habiskan sebagian besar berada dikantor, jika dirumah pun saya sibuk mengerjakan tugas kantor. Tidak banyak waktu memang untuk kepentingan orang lain bahkan untuk kepentingan diri saya sendiri, dan saya tidak masalah akan hal itu karena saya senang dalam bekerja.
Suatu waktu ketika sedang berkumpul dengan teman SMP atau dapat saya sebut sahabat-sahabat saya, mereka menceritakan kedekatan mereka dengan pria. Saya melamun sambil berpikir kedengarannya sangat menarik bisa menceritakan hal baru ketika bertemu, namun saya mengingat kembali pencapaian saya dan seketika ambisi itu datang kembali. Saya jarang merasakan iri, tetapi jika membahas mengenai pria saya merasa ada yang janggal. Mereka berkali-kali mengatakan ingin menjodohkan saya dengan beberapa teman pria mereka, tetap saya selalu menolaknya hingga akhirnya saya pun menyetujuinya. Singkat cerita kami pun bertemu, berkenalan dan lumayan cocok dari segi pemikiran dan obrolan. Memang perkenalan dan proses pendekatan kami masih seumur jagung, namun saya merasa nyaman dan mungkin juga karena saya belum pernah merasakan ini sebelumnya. Lalu kami memutuskan untuk berpacaran. Tapi ketika sudah memasuki tahap pacaran, saya kembali lagi menjadi diri yang obsesi terhadap pekerjaan. Saya beberapa kali menolak ajakannya bertemu, lalu saya suka mengabaikan pesannya. Pria tersebut tetap sabar terhadap saya dan kita berjalan seperti biasa. Lalu saya sering memarahi dia jika mencoba menjemput saya dikantor atau menelepon saya. Saya sampai pernah berhari-hari tidak berkomunikasi dengan dia, tetapi dia tetap menjadi dirinya yang selalu mengabari saya. Namun ada perasaan tidak wajar dari dalam diri seperti senang melihat ada seseorang yang mengagumi dan mengejar saya. Kemudian setelah 5 bulan kami menjalin hubungan, ia mengatakan bahwa ia mulai jenuh karena saya tidak bisa memberikan waktu saya, disitu saya kesal dan mengatakan hal yang menyakiti hatinya hingga akhirnya dia memutuskan saya.

Tetapi perasaan saya saat itu masih diselimuti amarah sehingga saya tidak merasa bersalah terhadap dia. Namun tanpa diduga karena hal tersebut, saya jadi susah fokus bekerja. Itu adalah hal yang tidak mungkin terjadi dalam diri saya, nyatanya saya mencintai dia dan menyianyiakan dia. Lalu saya hanya marah tehadap diri saya sendiri. Saya merasa bersalah belakangan setelah dia pergi, saya terlalu obsesi dalam bekerja dan memberikan ruang hanya untuk saya sendiri tanpa memikirkan orang lain. Keluarga saya pun merasakan hal yang sama dan awalnya saya tidak perduli namun seketika saya langsung memikirkan semua omongan tersebut. Saya sadar bahwa sekitar saya menaruh perhatian terhadap saya, tetapi saya terlalu obsesi dengan kerjaan saya dan diri saya sendiri sehingga orang lain tidak nyaman apalagi dalam hubungan karena saya tidak melakukan timbal balik dan tidak memperlakukan pasangan dengan baik. Karena obsesi saya terhadap pekerjaan, saya kehilangan diri saya sendiri, pasangan dan keluarga saya. Maka saya tidak mau mengulangi hal yang sama.

Saya mempelajari banyak hal yang sudah saya lakukan dan berhasil bagi saya :

  1. Saya belajar untuk tidak remeh terhadap sekitar, jangan hanya karena saya mencintai diri saya sendiri lalu saya berlaku tidak menyenangkan terhadap pasangan saya. Justru cinta yang tulus itu tau kapan waktunya memberi dan diberi, tau kapan komunikasi dan memberi waktu/ruang. Saya mau menghargai dan menerima
  2. Saya belajar untuk tidak membohongi perasaan saya, tidak berpusat hanya mementingkan apa yang menurut saya benar. Bekerja memang penting, namun bukan berarti saya tidak memerlukan cinta dan kasih sayang. Menyadari bahwa cinta dan tulus bukan hanya dari kita untuk diri kita sendiri namun dari kita untuk orang lain serta dari orang lain untuk kita.
  3. Obsesi hanya akan membawa saya tidak menikmati proses karena maunya hasil akhir saja dan saya menyadari bahwa jadi tidak belajar apa-apa kalau hanya memikirkan hasil akhir. Proses lah yang membentuk diri kita, dan ketika saya menghargai proses maka saya tidak mau lagi terjebak dalam obsesi terhadap hal apapun terutama bekerja.

Sekarang saya menikmati diri saya, tidak obsesi dalam pekerjaan. Saya lebih menikmati hidup dan belajar memberi perhatian serta peka terhadap sekitar, dan itu mengubah diri saya. Lebih damai sejahtera, lebih tenang, lebih teratur emosinya dan koneksi lebih baik terhadap orang lain. Tulus menjalani segalanya akan mempermudah diri kita sendiri, sekarang aku membuka diri aku terhadap pasangan dengan hati-hati dan menerima prosesnya.

Urbannesse ayo kita merubah mindset kita untuk tidak terlalu obsesi terhadap satu hal!

Be Happy Ladies!



Bianca Gabriella

No Comments Yet.