"Menyakiti" Diri Sendiri Karena Cinta


Wednesday, 20 Nov 2019


Halo Ladies salam kenal namaku Dian (Nama Samaran). Berbicara tentang Cinta yang tulus atau obsesi membawaku berpikir akan hubungan yang dulu sempat aku lewati. Mungkin beberapa dari kita pernah merasakan hal ini dan aku hanya mau sharing seperti apa hubungan yang kulalui. Aku saat itu menginjak usia 23 tahun, lulusan baru dan sedang pusing-pusingnya mencari kerja. Kemudian, nasib baik datang kepadaku dan aku bekerja disalah satu e-commerce besar. Waktu itu jabatanku hanya sebagai anak magang dengan bagian Event Promotion. Sudah tidak asing lagi jika kebanyakan karyawan yang bekerja di event adalah pria. Lalu setelah 6 bulan aku disitu, perusahaan tersebut menjadikanku karyawan tetap. Merupakan suatu kebanggaan karena banyak orang yang memimpikan posisi di perusahaan tempatku tersebut. Setelah aku menetap ternyata pekerjaanku jauh lebih susah, tetapi aku mendapatkan lingkungan yang menyenangkan jadi tidak masalah bagiku. Setelah 3 bulan menyandang karyawan tetap, salah satu temanku berkata bahwa ada dari divisi lain yang ingin berkenalan dan karena waktu itu aku berstatus jomblo alias sendiri, maka aku mengiyakan perkenalan tersebut. Namanya adalah Gema, aku tidak takut untuk mengatakan nama aslinya lho hihihi intinya perkenalan tersebut berjalan lancar. Saat itu perasaanku masih biasa saja, dan jujur tidak begitu tertarik karena perawakannya yang tidak seperti tipeku. Lalu kami sering ngobrol karena saat itu aku tidak bertugas di lapangan, kami sering berbincang di pantry dan makan siang bersama. Dan saat itu yang membuatku tiba-tiba sangat tertarik adalah dia bercerita mengenai keluarganya dan dia adalah tipe pria yang familyman. Aku sungguh tidak bisa menahan kagum melihat pria yang sangat amat menyayangi keluarganya, menurut aku itu sangat gentleman.

Akhirnya kami memutuskan berpacaran dengan proses yang cukup lama karena aku masih bingung akan perasaanku. Setelah berpacaran ternyata dia sangat baik dan memperlakukanku sopan, aku sungguh berpikir bahwa itu hanya terjadi disaat pendekatan saja ternyata masih tetap sama dan lebih baik lagi. Aku merasa beruntung. Lalu dia sangat royal terhadapku, tidak perhitungan. Saat bertemu Ayah dan Ibuku dia juga sangat sopan dan santun, orang tua ku jarang menyukai teman dekatku tetapi ketika dengan dia orang tua ku mengatakan setuju. Dia tidak pernah marah terhadapku, hanya tegas dengan hal-hal yang sudah kita sepakati berdua. Setelah beberapa bulan kita berpacaran, divisi pekerjaanku diberikan tugas untuk membuat salah satu event besar diluar kota dan itu sangat menyita waktuku. Aku jarang komunikasi, aku juga tidak bertemu untuk satu bulan namun dia tetap sabar tetapi aku melupakan bahwa dia hanyalah manusia biasa yang bisa saja marah dan meluapkan emosinya. Dia mengatakan bahwa merindukanku namun aku tidak sama sekali tidak bisa sedikitpun menyempatkan waktu dan karena kejadian tersebut kami berdebat dan sempat benar-benar tidak komunikasi selama satu minggu. Dia mencoba menghubungiku setelah itu namun aku belum meresponnya hingga pekerjaanku selesai. Lalu setelah itu aku berbicara melalui telepon dengan temanku dan aku menceritakan hubunganku dengannya dan akhirnya dia menyampaikan bahwa Gema seperti itu karena ada salah satu pria yang menyukaiku ada didalam satu divisi denganku. Setelah itu aku mulai penasaran dengan orang yang disebutkan dengan temanku yang menyukaiku, aku mencari tau dan ternyata terlihat dari gerak-geriknya serta tatapannya. Dan muncul dalam pikiranku untuk “iseng” dengan pria ini, entah apa yang ada dipikiranku hingga aku berusaha mendekatinya dan mencari tau tentang dia. Secara fisik dia memang tipeku dan ditambah setelah berbincang-bincang ternyata seleraku sama. Semua terjadi begitu saja karena aku jauh dengan pasanganku dan pria ini seperti memujaku. Hingga saat sudah benar-benar selesai pekerjaanku, kami merayakannya dengan pergi ke sebuah club. Di malam itu aku tidak sadar bahwa aku menciumnya, aku mengetahui ini dari teman-temanku dan keesokan paginya aku sungguh panik menangis dan tidak mengerti apa yang harus kukatakan kepada Gema. Dan benar saja, berita tersebut tersebar dan akupun tak bisa menjelaskan apa-apa kepada Gema sehingga ketika dia mengatakan putus, aku tidak bisa merubahnya. Dia mengatakan kepadaku bahwa aku jahat dan licik serta tidak bisa dipercaya. Aku sungguh menyesal dengan perbuatanku, aku menangis kecewa dan menutup diriku. Aku mengajukan surat resign dari kantorku karena aku benar-benar tidak bisa melupakan Gema. Bahkan aku melakukan hal yang sangat menyakiti diriku, yaitu meminum obat penyeri rasa sakit dengan jumlah banyak serta menyayat tanganku dengan silet hingga aku dilarikan kerumah sakit. Ayah dan Ibuku sempat frustasi dengan tindakanku dan memutuskan untuk membayar therapist dan psikiater karena kondisi mentalku. Aku merasa gagal, hubunganku berimbas kepada pekerjaanku dimana aku masih bisa melebarkan sayap tetapi tindakanku ceroboh. Aku seperti itu karena menyesal menyakiti Gema, orang yang tulus mencintaiku namun karena keisenganku dan obsesiku dipuja banyak pria lalu aku kehilangannya. Aku masih terbayang senyumannya, cara dia memperlakukanku, cara dia perhatian denganku dan aku merasa tidak rela melepaskan itu semua dan sangat menyesal.

Aku Tersadar..

Sampai akhirnya Gema menemuiku di rumah, mengatakan bahwa ia khawatir dengan keadaanku dan menyampaikan dengan bahasa yang sederhana bahwa kita sudah tidak bisa sama-sama tetapi jangan sampai membuat diri sendiri tersiksa. Aku minta maaf dan mengatakan bahwa aku mencintainya namun dia memberikan aku satu kalimat yang membuat aku tersadar, yaitu “Kalau kamu benar-benar mencintaiku, kamu tidak akan melakukan hal itu. Sekarang aku sudah memaafkanmu dan kamu harus memaafkan dirimu sendiri. Ayo jangan seperti ini, kamu masih punya waktu untuk melakukan hal apapun dan menjalin hubungan dengan siapapun. Kamu hanya perlu menghargai dengan tulus dan melepaskan ego obsesimu.” Aku sontak kaget. Lalu setelah pertemuan itu aku melihat kedua orang tuaku, aku membayangkan bahwa betapa cerobohnya tindakanku saat itu hanya karena cinta. Aku yang salah maka aku harus terima resikonya dan berani untuk berubah. Aku belajar bahwa :

  1. Jangan menilai remeh Cinta Masa Muda, karena aku harus bersikap dewasa jika berhubungan dengan cinta. Aku belajar bahwa setiap orang berbeda, maka aku harus menghargai setiap bentuk Cinta Yang Tulus yang diberikan kepadaku.
  2. Aku juga banyak belajar mengenai diriku sendiri. Aku tidak mau memulai suatu hubungan, jika aku masih berpikiran main-main. Aku harus dewasa atas segala tindakanku.
  3. Aku belajar lebih dekat dengan Tuhan supaya aku siap menerima hubungan, tidak main-main dan tidak ceroboh dalam bertindak. Lebih tepatnya aku benar-benar mau menerima proses, bukan harus melakukan segala sesuatu untuk dapat melampiaskan emosiku.

Sekarang aku berubah setelah perjuangan panjang selama satu tahun. Aku tau kisah hubunganku pahit tapi aku tidak mau jatuh lagi dan terbukti sekarang aku lebih mencintai orang dengan tulus dan tidak ceroboh dalam berbuat. Kisah masa mudaku yang tidak bisa menilai cinta yang tulus tersebut akan aku jadikan pelajaran, dan sekarang aku sudah menikmati hidupku dengan suamiku dan 1 anakku. Selalu ada ruang untuk belajar dan berkembang dengan cinta. Semoga kisahku dapat menginspirasi Urbannesse ya supaya tidak menggunakan cinta dengan cara yang salah.

Have a great day Urbannesse!



Unknown

No Comments Yet.