Menjadi Wanita Yang Idealis. Apakah Itu Salah?


Friday, 22 Nov 2019


Urbannesse pernah kepikiran ngga untuk cari tau sebenarnya kita itu dalam hubungan cinta yang tulus atau hanya sekedar obsesi? Kali ini saya berkesempatan ingin menceritakan kisah saya dengan mantan tunangan saya. Saya merupakan salah satu perempuan yang beruntung karena dibesarkan dengan keluarga yang harmonis. Menurut saya cerminan saya berumah tangga adalah kedua orangtua saya. Saya menjadikan orang tua saya sebagai patokan dan pedoman, karena saya merasa hubungan ayah dan ibu saya adalah yang paling sehat. Ayah saya merupakan sosok pria yang saya idam-idamkan. Dia baik, peduli, romantis, tau cara mengatasi ibu saya, perhatian, tidak kasar, sopan, tidak genit pokoknya apapun yang terbaik pasti saya temukan dalam dirinya. Ibu saya pun demikian, apapun yang terjadi dalam rumah tangga mereka, tidak pernah sedikitpun saya melihat ayah dan ibu saya berpisah melainkan semakin erat dan terasa cintanya. Singkat cerita saya bertemu dengan pria di tempat kerja saya, kami berbeda divisi. Tutur katanya santun, tingkah lakunya sopan dan juga cocok saat diajak ngobrol. Kami berpacaran selama 1 tahun hingga akhirnya memutuskan untuk bertunangan. Selama 1 tahun bahkan hingga bertunangan, kami sering memperdebatkan banyak hal. Karena latar belakang keluarga saya tersebut, saya sering menuntut yang tidak saya dapatkan didirinya. Saya sering membandingkan ayah saya dengan pasangan saya.

Dahulu, saya adalah anak yang sangat diperhatikan oleh ayah saya maka ketika saya berhubungan, saya sering membahas hal itu kepada pasangan saya. Divisi pasangan saya memang sangat sibuk, namun menurut saya bekerja itu tidak 24 jam. Disaat sudah susah berkomunikasi, saya akan marah dan mengatakan bahwa dia tidak sayang saya dan saya tidak pernah merasa menyesal mengatakan pernyataan tersebut. Saya merasa itu bukan kesalahan saya, dan akhirnya dia yang meminta maaf dan memperbaikinya. Ketika pasangan saya emosi dengan lingkungan kerjanya maka saya biasanya ikut terkena efeknya yaitu moodnya berubah, namun menurut saya itu salah. Pasangan saya harusnya professional mengenai hubungan dan kerjaan, karena ayah saya adalah tipe yang jika sudah sampai rumah maka ia tidak melampiaskan kekesalannya kepada ibu saya. Masalah yang sering saya komplen dari pasangan saya juga mengenai romantis, dia tidak menunjukkan dan tidak seperti ayah saya yang selalu aktif memanggil ibu saya “sayang” atau memegang tangan saya ketika sedang jalan. Itu yang saya tegor dari dia dan alasan dia selalu “malu diliat orang, lagian kan aku sering gituin kamu” dan menurut saya itu yang menjadi kelemahannya yaitu terlalu menggampangkan. Lalu hal yang menurut saya fatal adalah dia bersahabat dengan perempuan yang dikatakannya berteman sejak kecil, dan mereka dalam satu bulan wajib bertemu 1 atau 2 kali yang menurut saya tidak penting. Hal itu juga yang saya tidak suka, dia tidak menghargai perasaan saya bahwa saya tidak suka. Saya selalu bilang bahwa perempuan itu blablabla tetapi dia hanya diam dan berkata “maaf”.

Setelah bertunangan, justru kami lebih sering memperdebatkan hal tersebut hingga akhirnya kami memutuskan untuk berfikir jernih sebelum melangkah lebih jauh. Kami juga menyetujui bahwa kami tidak harus berkomunikasi aktif hanya bertukar pesan saat pagi dan malam hari saja. Setelah 2 minggu waktu berjalan, akhirnya kami bertemu. Lalu dia mengatakan bahwa ingin pisah, dan setelah itu dia mengatakan bahwa saya terlalu obsesi dengan ayah saya dan mengatakan bahwa saya terlalu sempurna tidak menerima apa adanya dan tidak menghargai proses dalam hubungan yang artinya terlalu banyak menuntut. Dari situ hubungan kita berakhir dan saat itu saya tidak menyesal melainkan sangat marah dan tidak menerima. “Loh memang salah gue kalo gue terlalu idealis supaya hidup gue ga disakitin dan harmonis kayak keluarga gue?” itu adalah pikir saya waktu itu. Dari kejadian tersebut, saya mencoba berpacaran dan dekat dengan banyak pria tapi tidak sedikitpun yang tahan dengan saya lebih dari 2 bulan. Teman saya mengatakan bahwa saya harus berubah tapi saya tidak mau, saya sangat keras kepala. Sampai akhirnya tidak terasa sudah satu tahun setengah saya menjadi lajang dan saya mendengar kabar bahwa mantan saya tersebut sudah berpacaran dengan orang lain dan merencanakan pertunangan.

Saya bertanya-tanya dalam diri saya, mengapa hal ini bisa terjadi. Apakah benar kalau saya terlalu obsesi? Lalu saya hanya bisa merenung dan menangis sampai akhirnya memutuskan untuk bercerita kepada ayah dan ibu. Mereka mengatakan bahwa “Hubungan yang tulus itu tidak mengharapkan pasangan menjadi seperti apa, tetapi saling berubah untuk mencari nyamannya masing-masing. Jika kamu dan pasangan kamu sudah menjadi pribadi yang lebih baik, maka rasa sayang, cinta, kepedulian, romantis dan semuanya akan datang serta dilakukan secara alami tanpa direncanakan. Ayah dan ibu sering berdebat, sering tidak sepaham tapi apakah karena hal tersebut kita tidak bisa bersama? Kamu sudah dewasa untuk tau bagaimana harus bersikap terhadap hubungan kamu.” Disitu saya terdiam dan tertampar dengan kata-kata ayah saya tersebut. Tiga bulan saya sibuk memperbaiki diri dan menyesal telah berbuat seperti itu terhadap “peluang hubungan” yang ada didalam hidup saya. Saya menutup diri saya dari hubungan dulu untuk memperbaiki diri, bermain dengan teman, berusaha memaafkan diri saya dan menerima bahwa saya salah hingga saya berpikir ini waktunya minta maaf terhadap pria-pria tersebut sampai ke mantan saya. Cukup berat memang untuk berusaha menurunkan ego saya namun setelah itu ada kelegaan yang besar. Saya jadi lebih santai dan tidak mudah kepikiran banyak hal, contohnya seperti obsesi terhadap pasangan yang sempurna, keinginan berlebih terhadap hubungan dan ekspetasi terhadap pernikahan pun tidak menganggu saya. Karena kejadian tersebut, banyak hal yang saya pelajari :

  1. Saya belajar mencintai orang dengan tulus. Ini penting karena banyak orang mengatakan bahwa ia tulus namun ternyata ada embel-embel. Saya belajar bahwa ketulusan itu berfungsi untuk jangka panjang dalam hal apapun.
  2. Saya juga belajar bahwa kesempurnaan itu tidak langsung ada, tetapi diciptakan. Berusaha untuk menerima proses dan bahagia dengan hubungan serta tidak menuntut apapun. Saya belajar bahwa ideal itu tidak instan.
  3. Nah ini yang saya sangat belajar mati-matian, yaitu menurunkan ego dan menjadi lebih baik. Karena ketika kita sudah berubah, egonya tidak seperti dulu maka semuanya akan terlihat santai dan tidak memberatkan hubungan. Aku belajar bahwa semua dapat dibicarakan baik-baik dan kenyamanan pasangan juga penting.

Memang persoalan seperti ini sering dianggap remeh, namun saya mau para ladies yang membaca dapat terinspirasi dan berusaha untuk menjalin hubungan yang sehat entah dengan diri sendiri maupun dengan orang lain. Kita pasti bisa ya Ladies!



Unknown

No Comments Yet.