Menjadi Wanita Bekerja Yang Bahagia, Apa Bisa ?


Wednesday, 14 Aug 2019


Sahabatku pernah nyeletuk padaku ketika kita ngopi bareng, saat itu saya sampai di cafe dengan dua tas. Satu tas hitam yang saya bawa beraktifitas, satu lagi tas laptop dengan tempat makan bekal saya. Lalu sahabat saya melihat saya dari ujung rambut hingga ujung kaki, “Da, setiap hari bawa tas dua?” kujawab iya. Ya ampun buat apa? Ku jawab lagi buat profesionalitas hahaha.

Temanku menjawab lagi, Da, jangan kerja terus, ini hangout aja kalau tidak dadakan ga mungkin ketemu nih kita. Mungkin kah mereka melihat aku sangat work a hollic? yang nggak ada waktu buat  ngasih self reward ke diriku atau sekedar me time, karena mungkin mereka melihat agenda aktivitasku yang memang padat, Setiap hari Senin sampai Minggu aku keluar rumah.

Aku bekerja sebagai produser di RRI Jakarta sejak jam 5 pagi, lalu siang hari aku mengajar di kampus, ada beberapa hari harus sampai malam karena ada kelas eksekutif atau karyawan. Aku mengajar di dua kampus, rencananya tahun ini tambah satu kampus lagi. Aaamiin. Oh iya pekerja di bidang kreatif, entah di media, periklanan, tempat pelayanan publik dan lainnya, adalah bidang yang hari liburnya beda. Mungkin yang lain bisa, libur dan saya bekerja di hari libur orang lain, saya libur orang lain bekerja pada hari libur saya.

Aku juga menjalani aktifitas lain menjadi moderator, mc, dosen pembimbing terbang bagi mahasiswa yang bimbingannya kurang. Sahabatku juga mengajakku bergabung membangun sebuah perusahaan, aku memulai bisnis kecil-kecilan. Aku mau bergabung walaupun aku tidak menginvestasikan finansial, namun menginvestasikan isi otakku yang bisa kutumpahkan sebagian di sana. Karena aku menemukan nilai serta visi yang sama. Aku sadar saat kita memiliki perusahaan atau bisnis itu artinya kita punya kesempatan untuk bisa memakmurkan orang banyak. 

Mereka pikir aku tidak memiliki waktu untuk diriku sendiri ? untuk ini mereka keliru, aku malah sangat memprioritaskan waktu saat libur atau off bekerja untuk mencintai diriku sendiri dan kadang kasih self reward yang bisa bikin aku bahagia dari hal-hal sederhana saja, hanya dengan membeli lipstik warna favoritku, kadang aku pergi makan siang sendiri hanya untuk menikmati menu favorit incaranku, keliling Bogor atau sekedar tamasya singkat ke luar kota bersama tim kerjaku. Lagi-lagi melibatkan orang lain, Karena aku rasa jika mereka rileks maka kinerja mereka akan lebih baik lagi.

Disinilah Kebahagiaan Versiku.

Sejujurnya dengan banyak aktivitas ini bukan malah membuatku stres, melainkan di sinilah kebahagiaanku. Karena ketika aku tidak mengerjakan apa-apa aku malah tidak merasa bahagia.

Sebagai seorang Dosen di bidang Ilmu Komunikasi pada Mahasiswa Mahasiswi yang mengikuti kelas mata kuliahku, aku bersyukur jika dari ilmu yang aku bagikan bisa membawa manfaat bagi mereka di kehidupan mereka nantinya. Bagiku angka-angka atau nilai yang mereka dapat adalah bentuk tanggung jawab.

Aku pikir orang pintar banyak tapi menjadi orang jujur tidak ada sekolahnya, tidak ada sertifikatnya. Bagaimana mereka punya personal branding sendiri, ilmu hidup, bagaimana menyikapi kegagalan, dst. Itulah yang kuajarkan di semua mata kuliahku. Yes, ilmu hidup, ilmu menghadapi dunia yang sesungguhnya. Dan ilmu adalah salah satu bekal untuk bisa menjalani hidup lebih baik.

Sejatinya aku yang belajar, bukan mereka. Karena mengajar itu bisa dilakukan siapapun, tetapi mendidik belum tentu. Aku belum menikah, belum punya anak biologis. Tapi di kampus, aku punya anak-anak ideologis. Kadang aku di usia yang sudah kepala tiga sering dikira bukan dosen, saat aku naik taxi sehabis selesai mengajar sering ditanya oleh driver taxi "semester berapa kak kuliahnya". Lalu aku jawab, bukan pak, saya mengajar. Lalu drivernya menjawab lagi "wah maaf y bu, saya tidak tahu, wah dosennya muda sekali mahasiswanya pasti bahagia nih, banyak ditaksir mahasiswa ga bu?. Kalau punya dosen kaya gini masih malas kuliah keterlaluan mahasiswanya" Lalu tertawalah kami berdua di dalam taxi.

Dalam kesempatan lain aku juga menjadi konsultan komunikasi, membantu orang lain menemukan solusi mereka dalam melakukan kerja-kerja Komunikasi, bidang komunikasi sangat luas sekali. Bahkan bukan sekali dua kali orang yang sama sekali tidak PEDE berbicara akhirnya mampu melakukan presentasi di depan publik, dan tidak hanya itu dengan skill komunikasi yang ia miliki sekarang ia mampu membuka bisnis dan memiliki karyawan. Bahkan pendapatan bisnisnya sehari mungkin lebih besar daripada yang saya dapatkan. Bukankah itu menjadi amalan tersendiri bagi saya? Investasi di akhirat. Itulah yang ada dalam keyakinanku, apa yang kita lakukan di dunia akan kita tuai di akhirat.

Beberapa orang teman pernah bertanya juga padaku apa nggak lelah dengan banyaknya aktivitas loe itu? Jadi orang jangan sibuk-sibuk banget Da, Lalu kujawab, aku bukan sibuk, tetapi aku ini produktif.

Menghasilkan karya dulu, bisa jadi manfaat dulu buat orang lain, finansial menyusul. Finansial belum menyusul pun pasti ada kenikmatan lain. Otak saya masih bisa terus berpikir dan memiliki ide-ide barupun juga suatu nikmat dari Tuhan bukan? Tidak semua orang dengan finansial yang baik mampu bermanfaat bagi orang lain. Tapi jika kita bermanfaat bagi orang lain yang punya finansial, kita telah berada satu level diatasnya.

Aku juga berkeinginan untuk melanjutkan kuliah lagi ke program doktor, tidak hanya tuntutan sebagai akademisi, namun keinginan untuk terus belajar dalam koridor keilmuwan sebagai bentuk aktualisasi diri. Secara profesionalpun cukuplah hingga doktor, bukan pada gelarnya, tapi aku rasa dengan itu kiprah dan manfaatku bisa lebih luas lagi.

Lalu muncul lagi pertanyaan. Kamu nggak takut laki-laki menjadi takut mendekatimu dengan segudang idealismemu itu Da? Aku jawab, loh perempuan berdaya kan untuk transformasi bukan untuk menyaingi laki-laki, tetapi berjalan beriringan dnegan mereka. Lalu temanku bertanya lagi, ya itukan katamu, laki-laki itu belum tentu. Dan kembali kujawab, kalau begitu bukan laki-laki itu mungkin yang tepat untukku.

Bukan satu atau dua kali ini aku dihadapkan pertanyaan tersebut. Bahkan temanku pernah terheran-heran ketika kita makan siang bersama di restoran seafood lalu saat makanan kami tiba dan dihidangkan di meja aku ikut merapihkan letak piring lauk yang kami pesan, aku memastikan apakah sendok garpunya tersedia, bahkan aku ikut melayani teman laki-lakiku itu makan. Dia berkata" aku pikir kamu merasa gengsi melayani laki-laki. Ternyata kita makan kamu malah melayaniku, kenapa Da?.

Sederhana aja mas, perempuan mandiri bukan berarti tidak butuh laki-laki. Bisa jadi mandiri, karena saya tahu tidak semua laki-laki bisa memanjakan saya terus. Bukannya laki-laki modern suka perempuan mandiri ya? Temanku pun hanya  tersenyumsaat itu.

Begitulah penilaian orang tentang perempuan mandiri. Tidak perlu semua orang setuju dengan yang kita jalankan. Kalau diri kita bahagia dan bertanggung jawab bukan hanya diri kita yang paham, namun juga memberikan nilai lain tentang definisi perempuan bahagia di mata orang sekitar. Bahagia bukan mematuhi penilaian versi mereka, tapi kita berhak punya definisi sendiri dari sekedar kata "bahagia".

Berdasarkan pengalaman tersebut, berikut aku rangkum caraku menciptakan dan menemukan kebahagiaan terhadap pekerjaan sendiri  :

  1. Kurangin mengeluh, memperbanyak rasa syukur, bekerja itu menghabiskan banyak waktu kita, menghabiskan seperempat bahkan mungkin separuh, setengah jatah usia kita di bumi. Jadi saya memilih mengejar kebahagiaan di bagian ini dulu, karena kita berhak untuk menjadi siapapun yang kita mau berdasarkan versi terbaik diri kita, salah satunya dengan karir. Ingat, karir itu Bukan sekedar bekerja, tetapi bisa menjadi manfaat untuk orang lain dan pekerjaan kita bagi saya inilah salah satu alasan saya harus bahagia di pekerjaan saya saat ini.
  1. Membahagiakan diri sendiri terlebih dahulu sebelum membahagiakan orang lain

Ketika kita ingin mebahagiakan orang lain, pastikan bahwa kita sudah terlebih dahulu bahagia & tidak meletakkan kebahagiaan kita pada diri orang lain (teman, pasangan/keluarga). Jadi ketika orang lain membuat kecewa, kita tidak terlalu sakit hati dan mudah melupakan rasa kecewa tersebut karena apa ? Karena orang lain tidak punya kewajiban membahagiakanku. Kebahagiaanku adalah tanggung jawabku.

  1. Kebahagiaan aku rasakan, ketika kehidupanku seimbang.

Yup, kurasakan sendiri. Ketika kehidupanku seimbang pekerjaan/karir, keuangan, kestabilan pengelolaan diri dan hubungan keluarga maka semua terasa ringan aku jalani. Meski saat ini aku memang belum ada pasangan hidup, aku tetap bisa berbahagia seperti pengalaman yang kutulis di atas. Karena tumpuan kebahagiaanku bukan lagi atas persetujuan orang lain melainkan kebahagiaan adalah tentang bagaimana sudut pandangku melihat keadaan dan tantangan yang ada di hidupku setiap harinya agar tidak merasa terbebani.

Semoga ceritaku ini memberi inspirasi, syukur-syukur motivasi bagi Urbanesse semua, untuk tetap berbahagia dan bersyukur dengan aktivitas yang di lakukan saat ini. Karena yang membuat orang mati saat tercebur di lautan dingin bukan karena airnya. Tapi karena ia diam dan tidak berusaha keluar dari tempat tersebut.

Apapun yang saya lakukan memang akan tetap dikritik. Jadi saya tidak akan pernah diam, apalagi berhenti.

Praktisi Media, Communication Enthusiast,

(Wirda)



Wirda Yulita Putri

Praktisi Komunikasi. Communication Enthusiast. Beauty is important, but no more important than quality.

No Comments Yet.