Mengarahkan Iri Hati ke Arah Positif, Apa Bisa?


Tuesday, 25 Jun 2019


Tentunya bisa, saya mengalaminya sendiri,

Kalau bicara perasaan iri sepertinya hampir semua orang pernah mengalaminya, setuju nggak urbanesse?. Dulu saat usia saya 20-an  saya pernah merasa iri di pekerjaan. ‘kok si itu dapat promosi, kok saya nggak, kok si itu bisa pinter banget ketika presentasi kok saya nggak bisa’. Iri sih tetapi nggak membuat saya jdi ingin menjatuhkan teman saya yang dapat promosisi itu, kalau kaya gitu iri yang negatif namanya.

Saya lebih memilih ketika saya merasa iri akan kesuksesan orang lain, saya pelajari perjuangan mereka. Misalnya teman saya yang dapat promosi di kantor saya lihat dia memang layak dapat promosi karena kerjanya memang cakap dan ia pribadi yang memang reputasinya baik bukan cuma di mata atasan tetapi di mata teman-temannya, jujur, tekun dalam ibadah, terbuka terhadap kritik/masukan orang, dan saya lihat dia memang asli sih dalam bekerja jadi ketika bekerja ia fokus ia tahu kapan waktunya bercanda dan tidak satu lagi ia juga menghindari gosip/membicarakan orang lain yang saya sendiri sejujurnya masih belum bisa kadang suka gampang kepancing untuk membicarakan keburukan orang lain. Saya pikir ia sangat layak mendapat promosi.

Ditengah kebahagiaan atau kesuksesan yang di dapat orang lain saya selalu mengingatkan ke diri saya bahwa pasti ada latar belakang perjuangan yang nggak mudah dan cukup mahal yang harus mereka tempuh, jadi ketika rasa iri terhadap kejayaan orang lain mendera saya, saya ingatkan lagi ke diri sendiri ‘Kamu sudah berjuang atau pengorbanan apa yang sudah diri kamu tempuh dan tertempa hingga layak mendapatkan kejayaan seperti seseorang yang saya irikan tersebut’. Karena kalau iri dan kepingin saja seperti orang yang saya irikan itu mudah banget, yang sulit adalah siap nggak saya ketika harus di tempa masa lalu seperti pengalaman mereka yang kini sudah sukses dalam karir, rumah tangga, relationship dengan pasangan mereka.

Perasaan-perasaan iri itu sebenarnya baik ga yah? Kalo menurut pengalaman saya selama bekerja, itu hal yang baik.Artinya kita memang memiliki perasaan-perasan tersebut untuk membuat diri kita menjadi lebih baik. Yang buruk adalah ketika kita iri lalu kita berusaha menjatuhkan/membuat orang lain yang kita irikan menderita atau sengsara.

Saya pernah iri dengan teman kuliah yang sepertinya pekerjaannya bagus dan tidak lama bisa melanjutkan sekolah S-2 ke luar negeri, saya langsung sedih memikirkan pekerjaan saya yang biasa-biasa saja dan belum bisa sekolah karena belum ada biaya.

Saya mulai dari diri saya sendiri, memulai dengan mencari pekerjaan yang lebih baik dan sesuai dengan passion saya. Tidak lama saya pindah ke tempat yang baru,, sempat terbuai selama beberapa tahun , kemudian saya lihat lagi teman-teman yang sudah mulai selesai kuliah S2 nya, loh saya mulai pun belum ;(.Saya tidak patah semangat, bertanya kepada teman-teman bagaimana bisa sekolah sambil kerja, karena pilihan itu yang paling memungkinkan buat saya  saat itu, saya pun akhirnya bisa menyelesaian kuliah dengan tepat waktu.

Apakah sifat iri  hati karena teman-teman saya sudah mendapat pekerjaan yang bagus atau sudah sekolah lagi adalah sifat yang baik atau tidak? Jawaban saya tergantung dari cara saya menyikapi kondisi tersebut. Bisa saja kan sebenarnya saat itu saya menyikapi hal tersebut dengan menyebar berita tidak baik mengenai orang tersebut, tetapi saya pikir lagi buat apa? Apa untungnya? Saya lebih memilih  belajar sesuatu dari pengalaman hidup orang lain dan mengambil hal yang baik dari orang lain dan menyimpan yang buruk dari mereka sebagai pembelajaran agar saya tidak menjadi seperti mereka.

Saya pelajari kurangnya saya apa, saya kurang dalam berdialog bahasa inggris, kemudian saya ambil les bahasa inggris untuk persiapan sekolah, saya ingat dulu saya tidak mengerti pengetahuan mengenai keuangan , saya ikut kelas finance untuk menambah pengetahuan saya.

Banyak hal-hal yang positif yang saya bisa respon dari kondisi orang lain jika kita bisa melihat hal tersebut dengan baik. Jadi sebenarnya bukan hanya kerugian saja rasa iri juga memiliki keuntungan, jika direspon dengan hal positif. Kalau semua kesuksesan versi kita itu sudah kita raih, apakah pantas kita membanggakan hal tersebut? Tentunya, kita harus menghargai kerja keras yang sudah ditempuh. Posting di sosial media ga yah? kalau bertanya ke saya sih, saya golongan yang tidak mau posting kesuksesan yang sudah saya raih di bidang karir,, tapi nggak apa-apa juga jika orang lain melakukan hal itu, dan itu cara saya buat belajar lagi gimana naik lebih baik ke tangga berikutnya dalam karir, ga perlu di gosipin julid. Saya belajar lagi dari pengelaman orang lain yang kebetulan di posting di sosial media,saya ikutin caranya, bahwa untuk mengembangkan karir saya, saya harus mengukuti pelatihan tertentu, atau mengambil kelas tertentu, bahkan cara orang tersebut untuk terlihat selalu cocok dan menarik di lingkungan kerja, banyak sekali yang bisa saya pelajari dan saya menikmatinya.

Jadi ladies, mari kita manfaatkan apa yang tidak kita miliki menjadi sesuatu yan positif buat kita. Daripada kita iri yang negatif lebih baik rasa iri itu menjadi penyemangat kita dalam mengembangkan diri. Belajar bisa dimana aja, belajar di sekolah, di tempat kursus, sampai belajar dari pengalaman orang lain seperti di Urban Women ini. Jadi, yuk sama-sama belajar mengurangi iri hati yang tidak membawa kebaikan untuk diri sendiri dan menjadikan rasa tersebut menjadi motivasi untuk kita melangkah lebih baik.

 

 

 

 

 

 



Selvya Mulyani

Kelahiran 9 maret 1987 di Kalimantan Selatan. Bekerja sebagai analis laboratorium Kimia Fisika Gas di BBTKLPP Banjarbaru. Penggemar buku Dan Brown, Dewi Lestari, JK Rowling, dan novel serial Trio Detektif. On process, being better person, healthy, happy, lucky, peace and blessed. Remember the path, keep the faith, walk on track.

No Comments Yet.