Memiliki Rasa Iri & Dengki Ternyata Tak Membuatku Lebih Baik


Monday, 24 Jun 2019


‘Iri hati tidak membuatku menjadi lebih baik, malah perasaan ini sempat menjadikanku memiliki prasangka buruk ke orang lain dan di penuhi dengan ketidaknyamanan batin’.

Saya ingin sedikit bercerita tentang pengalaman memiliki perasaan iri hingga berujung dengki (senang melihat orang yang saya irikan mengalami kesusahan). Dulu itu Saya orangnya mudah banget membanding-bandingkan hidup saya dnegan teman-teman saya. Ketika teman dekat saya menikah ada perasaan nggak nyaman banget di hati saya ‘aduh si a sudah menikah aku belum, si B anaknya sudah mau dua aku sendiri belum di lamar-lamar oleh pacar, si A bisa jalan-jalan keluar negeri, bisa kuliah lagi sambil bekerja sedang kan kenapa hidup aku begini-gini aja. Bekerja namun monoton sampai ada keinginan untuk menjadi orang lain’ seakan aku orang termalang di dunia yang rumputnya menguning sendiri, sedangkan orang lain selalu hijau.

Aku sempat merasakan ketidaknyamanan terdalam dari perasaan iri hati pada saat sahabat dekatku satu-satunya akhirnya menikah. Aku merasa bahagia dia telah menemukan pasangan hidupnya, namun saat itu aku merasa galau, sedih dan kecewa pada diriku, aku sempat bertanya pada diri sendiri ‘mengapa sahabat dekatku duluan yang menikah, kenapa nasibku seperti ini, mengapa orang lain bisa dengan mudahnya mendapatkan yang mereka impikan, mengapa aku tidak bisa seperti teman-temanku?’ pertanyaan itu selalu ada di kepalaku setiap kali melihat kesuksesan dan kebahagiaan yang aku lihat dari orang lain.

Singkat cerita, beberapa bulan kemudian sahabatku yang telah menikah tersebut, datang kerumahku. Memang sudah beberapa minggu ia menghubungiku namun tidak aku tanggapi, karena yaa..itu aku masih merasakan ketidaknyamanan batin karena perasaan iri padanya atas pernikahan ia yang mendahului aku. Ketika datang kerumah Ia curhat kalau ternyata suaminya bersikap kasar dan tidak baik padanya. Ia bilang suaminya tersebut berubah setelah menikah. Saat itu bukannya menjadi pendengar yang baik dan memberi masukan yang positif dan membangun aku malah memanas-manasinya agar ia berpisah dengan pasangannya. Karena saat itu aku mikirnya yaa...buat apa juga bertahan dengan pasangan yang kasar (tetapi saranku dengan menyuruhnya berpisah adalah suatu hal yang gegabah dan aku sadari sekarang bahwa dulu itu aku bukan hanya iri tetapi juga egois merasa tidak senang melihat orang lain lebih baik hidupnya dan menginginkan orang tersebut juga merasakan hal yang sama yang aku rasakan yaitu rasa kecewa). Kalau di ingat kembali rasanya aku malu pada diri sendiri karena sudah bersikap iri hati yang berlebihan pada sahabat sendiri.

Hingga pada suatu hari aku sempat masuk rumah sakit, karena penyakit asam lambung akut. 10 hari aku di rawat. Makanku bagus, aku juga jarang makan-makanan pedas karena memang tidak suka. Dokter menyampaikan pada ibuku bahwa penyakit asam lambung pemicunya bukan hanya dari makanan tetapi yang banyak terjadi adalah karena banyak pikiran dan stress bisa menjadi penyebab asam lambungku naik. Dokter memberi beberap obat, ternyata Ibu bilang obat tersebut bukan hanya obat lambung tetapi juga obat penenang. Selama di rumah sakit ibuku yang merawat ia sellau bertanya padaku ‘apakah ada yang aku pikirkan, apakah ada hal yang membuatku merasa terbebani?’ sekali lagi saat itu aku coba menyangkal bahwa aku sakit asam lambung bukan sakit karena banyak pikiran. Ibu memintaku untuk tidak perlu memikirkan hal-hal yang sekiranya membebaninku. Waktu di rumah sakit ibuku lah yang menyadarkanku bahwa selama ini aku sudah iri yang berlebihan hingga lupa bersyukur dengan kelebihan yang aku miliki

Nduk (panggilan sayang anak perempuan dalam bahasa jawa)...manusia itu sudah ada bagian-bagiannya, adikmu, temanmu sudah menikah ya memang sudah waktunya ia menikah, tetapi bukan berarti ibu menuntut kamu untuk segera nikah juga. Ibu nggak seperti itu nduk karena ibu percaya setiap manusia itu sudah ada bagian & waktunya masing-masing nggak bisa di paksa cepat-cepat juga nggak bisa dipaksa untuk di perlambat. Semua sudah ada porsi dan waktunya, nggak perlu kamu pikirkan berlebihan tentang urusan jodoh. Ibu sudah senang kamu sudah bekerja dengan pekerjaan sesuai mau kamu dan membantu adikmu buka usaha warung makan. Jujur nduk Ibu sudah senang. Tuhan belum memberikan kamu jodoh saat ini bukan jadi alasan kamu lupa untuk beryukur sama hal- hal lain yang sudah kamu miliki, karena kamu sudah banyak di kasih nikmat oleh Tuhan nduk belum lulus kuliah kamu sudah bekerja sesuai dengan yang kamu pinginin, kamu juga sudah bisa bantu adikmu buka usaha, kamu sudah sempat memberangkatkan Ibu dan almarhum bapak wisata religi (umroh). Orang lain belum tentu bisa seperti kamu nduk, jadi kamu nggak perlu terbebani hingga pingin seperti jalan orang lain, karena kamu sudah punya jalan sendiri nduk’ terang Ibu.

Ucapan ibu membuka mata hati dan pikiranku, Ibu seakan tahu bahwa selama ini aku merasa iri dengan hidup orang lain. Kata-kata ibu membuatku terenyeuh bahwa selama ini aku memberi makan penyakit di hatiku. Inilah penyebab utama batinku selalu merasa galau, nggak terima ketika melihat orang lain hidupnya lebih baik. Aku kurang bersyukur dengan kehidupanku, hingga sellau membandingkan hidupku dengan hidup orang  padahal benar kata ibu, yaa..setiap orang sudah punya jalan dan waktunya masing-masing & aku sudah banyak dari dulu mendapat keberkahan hidup dari Tuhan, tetapi berkat itu seakan tertutup atau sengaja nggak aku lihat karena aku lebih senang memberi makan perasaan iri dan dengki terhadap orang lain dengan sadar atau tanpa aku sadari.

Aku belajar untuk bersyukur lebih banyak dengan milikku  daripada merasa iri pada hidup orang lain

Ya, benar adikku mungkin sudah waktunya menikah, tetapi ia belum mendapat pekerjaan tetap dan dsinilah peranku, aku membantunya membuka usaha. Di sinilah waktuku, waktu yang adikku sendiri belum mendapatkan rezekinya, jalannya dari aku dengan membantunya buka usaha. Jadi, meski aku belum menemukan jodoh hingga hari ini, tidak ada alasan buat merasa iri dan pingin kehidupan orang lain lagi, karena sekarang aku sudah sadar bahwa inilah jalanku hari ini. Belum menikah tetapi aku sudah memiliki pekerjaan, keluarga dan teman yang baik. Pastinya hidupku sebenarnya juga baik-baik aja, hanya dulu itu aku banyak mengeluh, membandingkan hidup dan kurang bersyukur dengan kehidupan yang sudah aku miliki.

Dari pengalaman tersebut aku belajar :

  1. Hidupku itu sudah banyak di beri kebaikan dan keberkahan, jadi tidak usah ngoyo meminta dan mencari lebih banyak dari yang sudah banyak saya dapatkan. Sekarang aku lebih memilih banyak bersykur dan melihat hal baik di diriku. Nggak usah memilih yang porsinya banyak atas sesuatu, yang penting CUKUP (dengan berpikir begini aku jadi lebih banyak bersyukur setiap harinya).
  2. Perkara jodoh sama halnya seperti perkara rezeki & kematian setiap orang sudah punya bagian dan waktunya masing-masing, nggak pernah ada yang bisa menyangka. Sekarang saya sudah tidak mau merasa terbebani dengan hal itu, jujur ya ini malah membuat saya lebih tenang. Daripada memikirkan lebih baik berusaha memantaskan diri & menjadikan diri saya lebih baik dari sebelumnya. Pun, jika memang belum dipertemukan dengan si dia, saya masih bisa menjadi manfaat buat keluarga. sahabat dan pekerjaan saya jadi tidak ada kata sia- sia.
  3. Saya sadar rasa iri hati dan dengki akan menggerus berkat baik yang harusnya datang pada saya, tak terhitung dulu berapa berkat baik yang nggak sampai ke saya karena saya mengutamakan rasa iri dan dengki ke orang, apa-apa pinginnya kaya orang lain, apa pinginnya jalan ceritanya sama seperti hidup orang lain. Jadi saya memilih untuk nggak lagi ingin kehidupan seperti orang lain, karena saya punya jalan hidup sendiri yang pasti lebih baik menurut versi saya dan inilah yang harus saya syukuri terus. 

Menjauhi iri hati berujung dengki manfaatnya cukup banyak untuk kesehatan mental saya, so, ladies..yuk..kita sama-sama belajar untuk menghindari iri hati berujung dengki agar hidup kita jauh lebih bermanfaat khususnya untuk diri sendiri.



Rika

No Comments Yet.