Kesuksesan Dari Pengalaman Kegagalanku


Friday, 11 Oct 2019


Dear Urbanese.. Aku ingin berbagi cerita pengalamanku tentang kegagalan yang pernah kualami dalam hidupku. Hidup itu tidak selalu mulus seperti jalan tol yang bebas hambatan, namun hidup itu bagaikan jalan bergelombang penuh lubang. Aku ingin berbagi pengalamanku bersama kalian yaitu pengalaman disaat umurku masih terbilang 'muda' pada jamannya, sekarang sih sudah terbilang 'tidak muda' lagi yang jelas. Namun pengalaman kegagalan dalam hidupku yang sempat jatuh bangun itulah justru yang membuatku kuat, hingga berhasil seperti saat ini. Dahulu aku sudah mengalami fase terberat dalam hidup, jadi apabila sekarang diterpa masalah yang berat, aku seperti “kebal” karena dulu pernah menghadapi masalah yang lebih pahit daripada sekarang.

Sebenarnya aku sudah banyak sekali mengalami kegagalan dalam hidup, diantaranya dalam dunia percintaan yang terjebak oleh laki-laki, lalu dalam persahabatan akupun pernah difitnah oleh sahabat yang kupercaya dan kusayang, serta dalam karir yang jatuh bangun karena persaingan antara sesama rekan kerja. Namun dibandingkan dengan pengalamanku yang satu ini, aku merasa ini yang paling membuat diriku terjatuh begitu dalam, yaitu kegagalanku dalam dunia usaha atau bisnisku.

Awal aku membuka usaha sendiri sekitar tahun 1999, ketika aku menyadari bahwa tidak cocok bekerja di bidang hukum sebagai junior lawyer. Aku memang lulusan fakultas Hukum ( tapi ternyata salah jurusan Urbanese hehehe.. “Lho kok bisa?” Maklum, dulu peran orang tua dalam menentukan masa depan sangatlah besar dalam hidupku. Sejujurnya aku ingin sekali kuliah di fakultas seni rupa, namun yaa begitulah.. Nah yang ini jangan dicontoh ya Urbanesse. Pilihlah sekolah dan pekerjaan dengan bijak sesuai dengan minat dan kemampuan. Orang tua boleh memberikan pendapat namun hasil akhir semua sebenarnya ada ditangan kita.

Sekitar 2 tahun aku mencoba bekerja di sebuah kantor pengacara hingga akhirnya aku jatuh sakit yang lumayan parah, lalu aku memutuskan berhenti dari kantor tersebut. Orangtuaku terpaksa menurut dengan kemauanku kali ini. Lalu saat itu sedang terjadi krisis moneter (Krismon), keadaan ekonomi dan politik Indonesia sedang memburuk, cari pekerjaan pun tidak mudah dan aku mencoba membuka usaha sendiri sesuai dengan minatku semula. Aku membuat furniture dan kerajinan dari bahan dasar kayu kelapa. Kenapa kayu kelapa? Karena pada saat itu furniture dan kerajinan dari kayu kelapa masih sangat jarang sekali. Dengan uang hasil kerjaku selama 2 tahun dan pinjaman dari orang tuaku, aku berhasil menyewa sebuah tanah di daerah Sukabumi sebagai bengkel kerja pembuatan furniture dan kerajinanku, lalu aku membayar 3 orang pegawai sebagai tukang untuk membuat kerajinan tersebut.

Saat itu aku benar- benar usaha sendiri, seorang diri tidak ada partner kerja untuk berdiskusi mengenai usahaku ini. Terkadang aku diskusi dengan kedua orang tuaku namun tidak terlalu mendalam, karena mereka tidak paham dengan bisnis ini. Akupun juga tidak paham sebenarnya dengan dunia yang sedang kugeluti ini, karena aku masih baru di dunia ini. Pekerjaaan dari mendesign barang, mencari pembeli, mengurus tukang yang suka ngeyel alias keras kepala, mencari bahan baku, menjaga stand di bazar- bazar kulakukan sendiri, karena dana yang kupunya sangat terbatas sekali dan aku tidak sanggup membayar pegawai lagi untuk membantuku dalam memasarkan produk. Belum lagi aku harus mondar mandir Jakarta (tempat tinggalku) dan Sukabumi (bengkel kerjaku), melalui daerah Sukabumi yang selalu macet. Aku memilih di Sukabumi karena tanah kontrakan masih terjangkau olehku, sumber daya manusia masih murah dan kayu kelapa mudah didapat karena dekat dengan pantai. Saat itu tidak ada media sosial seperti sekarang yang marak sekali untuk mempromosikan barang-barang usaha kita, jadi terpaksa harus mengikuti pameran atau bazar di dalam dan luar kota dan itu sangat membutuhkan dana yang banyak. Beruntunglah Urbannesse di jaman now ini dimudahkan oleh banyak fasilitas- fasilitas teknologi nan canggih. Akan tetapi aku tetap senang melakukan pekerjaanku yang sekarang walaupun penuh dengan tantangan dan perjuangan. Kujalani dengan suka cita karena sesuai dengan passionku, menciptakan karya seni yang unik yang ku design sendiri.

Namun jalan yang kutempuh dalam menjalankan usaha ini ternyata tidak semulus harapanku. Dilapangan aku harus menghadapi tukang yang sering membuat ulah lalu hasil kerjaan berantakan yang tidak sesuai dengan keinginan konsumen. Kerap kali aku harus menghadapi para tukang yang sulit diajak berkomunikasi dan berempati, mereka kadang kerap mengelabuiku dengan menerima pesanan dari pembeli lain tanpa sepengetahuanku. Mereka menggunakan mesin dan bahan baku ku lalu hasilnya mereka jual sendiri. Hal yang paling parah terjadi adalah saat aku ditipu oleh orang yang mau membeli karyaku dalam jumlah besar namun ternyata dia malah memutuskan kontrak secara sepihak, secara aku sudah mati- matian membuat permintaannya dengan dana yang besar hasil pinjam sana sini termasuk meminjam ke bank dengan jaminan yang besar.


Aku Gagal dan Aku Tidak Bisa Move On.

Remuk… Hancur… Kecewa…
Yang jelas aku pun malu dengan orangtua ku dan merasa gagal di depan mata mereka. Apalagi mereka juga turut banyak membantuku dalam hal dana. Aku hanya menangis, menyesal dan marah dengan diriku sendiri. Mau curhat juga ga ada yang mengerti dengan masalah yang kuhadapi ini. Aku hanya bisa diam, pasrah dan berdoa tentunya. Berusaha keras mencari jalan keluar dari permasalahanku ini. Beruntung orang tuaku tidak menghakimiku dengan kesalahan yang kuperbuat ini, mereka hanya diam menunggu reaksiku selanjutnya.
Fase yang aku alami ini berlangsung selama beberapa tahun. Pada saat itu aku sampai tidak bisa memaafkan diriku sendiri dan orang lain, bahkan aku menolak untuk bangkit mulai mencari uang. Aku terus berfikir bahwa aku tidak akan bisa sukses dan tidak ada peluang untuk berhasil mencapai tujuan aku memulai usaha. Aku mengalami trauma dan krisis kepercayaan diri baik terhadap diriku sendiri maupun terhadap orang lain. Aku menyalahkan keadaan tetapi aku juga tidak dapat berbuat apa-apa, lalu aku terlalu malu untuk memberi tau orang mengenai keadaanku dan gengsi memulai dari awal lagi.


Disinilah titik aku belajar.

Akhirnya kulepaskan semua egoku, gengsiku dan atribut ke'aku'anku. Kejadian yang menimpaku ini tentunya juga terjadi akibat keteledoranku, karena aku kurang teliti menilai partner kerja dan lalai dalam membuat kontrak kerjasama secara detil. Aku memutuskan untuk gulung tikar, para pengrajin kuhentikan, kontrak bengkel kerjaku kualihkan ke orang lain, yang tersisa adalah beberapa mesin pembuat kerajinan dan itupun kujual dengan harga murah, yang penting laku dan jadi uang. Belum lagi rumah orang tuaku mulai didatangi debt collector dari bank secara berkala, itu membuat kehidupan orang tuaku sangat tidak nyaman.

Aku mulai dari nol lagi karena hidup harus tetap berjalan. Lalu aku mulai mencari pekerjaan, beruntung aku diterima bekerja disebuah perusahaan eksportir furniture dari rotan. Walaupun dengan gaji yang kecil aku berusaha mensyukurinya dan aku mulai menyicil utang-utangku sedikit demi sedikit lalu kuceritakan apa yang kualami kepada beberapa orang yang uangnya kupinjam, syukurlah mereka mau mengerti dengan keadaanku. Yang paling berat tentulah membayar cicilan hutang dari bank karena bunga pinjaman yang besar.

Sedikit demi sedikit aku bisa mengatasi masalah yang kuhadapi. Pelajaran yang kudapat dari pengalaman kegagalanku ini adalah :

1. Memaafkan diri sendiri. Dengan memaafkan diri sendiri, kini aku dapat menurunkan ego ku yang sebelumnya cukup tinggi dalam memilih pekerjaan.

2. Memaafkan orang- orang yang telah membuatku gagal/yang telah menyakitiku. Dengan memaafkan seperti ini, aku merasa lebih tenang dan tidak terbebani oleh perasaan negatif.

3. Aku jadi lebih bijak terhadap orang yang akan aku ajak kerjasama, dan lebih bijak mengalokasikan uang untuk bisnisku. Karena hal tersebut aku dapat sabar dan memilah mana yang terbaik untuk diriku.

4. Kini aku jadi lebih menggunakan 'insting' atau 'naluri' dalam setiap tindakanku yang dahulu tidak aku lakukan. Hal ini membuatku belajar bila aku merasa kurang nyaman menurut suara hatiku maka aku tidak akan melanjutkannya.

5. Aku belajar untuk berani bangkit dan mulai dari awal lagi. Karena hal tersebut aku jadi lebih bisa mengatur waktuku dan tidak ragu dalam mengambil keputusan walaupun gagal dalam dunia percintaan, pertemanan, pekerjaan, bisnis dan usaha. Aku tidak menyerah dan bangun perlahan dari masalahku.

6. Aku jadi lebih bersyukur. Karena dengan bersyukur aku jauh lebih positif dalam menghadapi keadaan apapun

7. Aku mengingat kembali pengalaman kegagalanku bukan karena aku tidak bisa move on tetapi agar dapat kepelajari dan kujadikan cermin untuk meraih suksesku selanjutnya.

Urbannesse, semoga pengalamnku ini dapat memberikan inspirasi bagi kalian. Semoga kalian lebih kuat lagi dalam menghadapi kegagalan di hidup kalian. Ingat... besi menjadi kuat karena sering ditempa, begitu juga dengan hidup kita. Kita akan menjadi kuat apabila pernah merasakan suatu kegagalan dan belajar dari pengalaman tersebut sehingga tidak terjatuh untuk kedua kalinya.



Laksmi Lala

Instagram : @kalyani_house_of_wellness

No Comments Yet.