Kenapa Hubunganku Gagal?


Thursday, 17 Oct 2019


Tema Urban Women dalam bulan Oktober ini cukup menarik buat saya. Saya jadi ingat bahwa beberapa tahun yang lalu saya pernah berulang kali mengalami kegagalan dalam sebuah hubungan. Mungkin ada yang mengalami fase seperti saya.

Saya adalah anak yang berbakti kepada orang tua, maka setiap keputusan mereka saya selalu mengikutinya. Saya telah mengalami putus-nyambung dengan pasangan saya sejak tahun 2010 setelah saya berpisah dengan mantan saya ditahun 2009. Hal itu terjadi dikarenakan ingin mendapatkan pasangan yang sesuai kriteria orang tua dan tentu saja ingin mendapatkan restu dari orang tua. Ladies pasti mengerti kan rasanya jika mempunyai hubungan yang tidak direstui akan seperti apa jadinya, itulah yang saya alami pada masa itu. Saya menyebutnya masa tersulit saya karena harus bolak-balik mengulang lagi dari awal tetapi tidak kunjung dapat yang pas, hingga tahun 2013. Akhirnya karena pilihan saya belum tepat, orang tua pun menjodohkan saya dengan pilihan mereka dan saya pun menyetujuinya. Semua berjalan baik, orang tua saya merestui (tentu saja karena mereka yang menjodohkan), saya pun menyukai pribadinya. Lalu walaupun hubungan kami waktu itu belum terlalu lama, kami memutuskan untuk ke jenjang yang lebih serius. Persiapan pernikahan pun kami mulai. Menjalankan berbagai kegiatan disertai dengan persiapan pernikahan tersebut tidaklah mudah, pertengkaran pun sering terjadi. Hingga akhirnya pertengkaran hebat terjadi dan satu hal yang ternyata baru kami sadari yaitu Ego kami kuat untuk mempertahankan pendapat masing-masing. Dan kami sadar bahwa ini tidak dapat dilanjutkan karena Ego kami sama keras dan tidak mau mengalah. Orang tua pun kecewa, dan saya berusaha menjelaskan meskipun terlihat raut mereka yang sangat menyayangkan keputusan kami ini. Saya pun sempat berpikir bahwa mengapa saya harus mengalami fase seperti ini yang tidak nyaman untuk saya pribadi dan orang tua saya karena harapan mereka besar terhadap saya.

Dari kegagalan tahun 2013 tersebut saya mencoba untuk mencari pasangan kembali. Saya akhirnya membuat prinsip bahwa tidak akan memulai hubungan dengan pria yang tidak benar-benar akan membawa saya ke jenjang yang lebih serius. Sejujurnya banyak yang mendekati saya (Bukan GR lho Ladies hehe) tetapi ternyata secara visi berbeda dan saya memutuskan untuk tidak, tetapi tidak sedikit juga yang sudah sama dalam visi dan sifat namun orang tua tidak setuju atau pria tersebut tidak kunjung menyatakan ingin dibawa kemana hubungannya. Ada beberapa juga yang sudah menjalani hubungan resmi tetapi tidak serius dan sampai ada beberapa yang selingkuh dibelakang saya. Mungkin kelihatannya tidak membuat saya down, namun kenyataannya saya sangat terluka menjalani tahun berganti dengan pasangan yang tidak kunjung tepat. Sampai tidak terasa berjalan hingga tahun 2016.

Pada tahun 2016 ini saya dipertemukan dengan seorang pria yang merupakan teman kampus saya. Kami merasa cocok dan tidak perlu waktu banyak untuk mengulang dari awal karena sudah kenal dari dulu. Lalu saya kembali membangun semangat hubungan ini pasti berhasil, saya berharap dengan proses pendekatan melalui pertemanan dahulu membuat semuanya semakin mudah. Dan benar saja kami sangat enjoy dengan hubungan kami apalagi orang tua sudah merestui, disitu saya semakin lega. Saat itu saya berpikir “Akhirnya jerih lelah gue dan proses gue membuahkan hasil”. Selanjutnya saya memberanikan diri untuk membuka obrolan mengenai pernikahan, ternyata ia pun menyambut baik pembicaraan saya dan dia berjanji akan menikahi saya. Akhirnya kami mencapai satu visi yaitu ingin membawa hubungan ini ke jenjang lebih serius. Saya belajar dari pengalaman saya dan kali ini lebih bijak dalam mengatur ego karena tidak mau seperti pengalaman diawal yang harus berpisah karena ego masing-masing. Kami pun sudah mulai menyusun rencana baik memilih vendor, tema, dan rincian lainnya.


Waktu itu pun tiba…
Lalu setelah semua sedang berjalan sesuai rencana dan situasi dalam keadaan baik-baik saja, dengan mendadak tanpa adanya perbedaan pendapat maupun pertengkaran, pria itu memutuskan hubungan dengan saya. Saya sangat kaget, sampai kehilangan kata-kata karena tidak menduga hal ini terjadi. Saya berusaha tenang dan menanyakan apa yang terjadi sampai ia bersikeras tidak mau melanjutkan hubungan ini lagi, lalu ia menjawab bahwa ia tidak mau terburu-buru menikah dan hanya mau pacaran terlebih dahulu. Ketika ia mengatakan hal seperti itu, saya masih mencoba untuk mempertahankan dan mengingatkan ia kembali akan kata-kata janji yang pernah ia ucapkan. Namun ia hanya terus mengulang-ulang perkataannya bahwa “saya tidak mau menikah dulu, saya maunya pacaran saja”. Perasaan saya saat itu sangat kacau. Seketika semua pengalaman gagal saya dalam hubungan seakan berputar di pikiran. Semua pikiran itu seperti menyalahkan saya.

Saya terus menerus menangis, menyalahkan keadaan dan berpikir bahwa saya selamanya akan Gagal Dalam Berhubungan. Saya merasa tidak akan pernah mendapatkan pria yang serius.
Waktu berlalu dan keadaan saya masih belum stabil, tiba-tiba saya mendapatkan berita seputar pria tersebut. Ini adalah titik paling menyakitkan buat saya karena ternyata pria tersebut menikah dengan perempuan lain. Iya.. menikah… Hancur sekali diri ini karena saya belum lama berpisah dengan alasan dia yang seperti itu namun sikapnya bertentangan dengan omongannya. Disitulah timbul perasaan tidak percaya diri saya tinggi.


1 tahun lebih saya bergulat dengan trauma secara emosional maupun psikis, dan itu mengganggu hari-hari saya. Belum lagi orang tua yang selalu menekan diri saya untuk memulai kembali hubungan, lalu lingkungan saya yang selalu menanyakan ada apa dengan kisah percintaan saya. Terganggu? Sangat! Mungkin bagi mereka bertanya itu tidak akan mempengaruhi keadaan saya. Nyatanya setiap omongan yang mereka lontarkan selalu terngiang dikepala saya dan selalu membuat saya menangis. Saya tidak dapat move on karena saya merasa bahwa telah berkorban banyak hal, berkorban waktu, uang dan tenaga untuk mendapat restu orangtua tanpa pria tersebut mendekatkan diri kepada orangtua saya. Dalam dunia pekerjaan saya terganggu karena sulit untuk fokus. Fisik saya mendadak menjadi berubah, saya tidak selera dalam makan yang menyebabkan badan saya sampai kurusan dan sikap pun menjadi lebih diam serta tidak bergairah dalam menyelesaikan kegiatan. Saya kembali berpikir bahwa apapun yang saya coba pertahankan dalam hubungan akan selalu gagal. Saya gagal menjadi anak yang berbakti juga terhadap orang tua karena tidak dapat memenuhi keinginannya. Semua tekanan itu hanya membuat saya semakin terpuruk dan saya merasa gagal menjadi diri saya sendiri. Terlalu banyak harapan yang diberikan kepada saya sehingga saya sangat malu karena tidak bisa mewujudkannya.

Pilihan yang tepat untuk Move On!
Setelah waktu yang cukup lama saya hanya bisa menangis dan hidup penuh kekecewaan serta trauma, saya akhirnya memutuskan untuk bangkit dan tidak mau seperti ini terus. Saya menerapkan didalam pikiran saya bahwa pasti masih ada jalan untuk saya mendapatkan pria yang baik. Saya merubah pola pikir, jika saya ingin mendapatkan pasangan yang terbaik maka saya pun harus berubah jadi lebih baik. Saya melihat kedalam diri sendiri, saya pun harus intropeksi diri dan Mau Move On dari keadaan buruk ini. Saya bertekad bahwa gagal tidak akan membuat saya terpuruk melainkan semakin kuat. Tentu saja ini juga atas dukungan orang tua dan sekitar saya yang terus memberikan wejangan positif, dan perlahan perkataan mereka tersebut menempel di dalam pikiran saya.
Saya mau move on untuk keadaan saya yang lebih baik, maka saya mencari komunitas-komunitas yang membawa saya kearah positif. Lalu saya bertemu dengan Urban Women dan mengikuti kegiatan Heart to Heart Urban Women, dan pada kegiatan tersebut saya menceritakan pengalaman buruk tersebut. Saya lebih dikuatkan karena komunitas tersebut dan mendapatkan berbagai pandangan serta solusi. Mengikuti kegiatan tersebut adalah salah satu dari banyak hal yang tidak akan saya sesali karena saya mendapatkan kekuatan dan semangat tanpa ada perkataan menggurui atau menghakimi. Lalu pada tahun lalu tepatnya tahun 2018 saya kembali dipertemukan dengan pria. Karena pengalaman gagal yang berulang kali maka saya bulatkan sikap untuk hati-hati dan tanpa hati dahulu diawal supaya dapat menganalisa apakah dia benar-benar serius dengan saya. Saat kita sudah berkenalan dan merasa cocok, saya langsung menyatakan kepada dia mengenai prinsip saya yang hanya mau menuju jenjang pernikahan saja. Dia pun setuju dan pria itulah yang menjadi suamiku sekarang.


Ladies, saya belajar banyak hal dari pengalaman saya, yaitu:
1. Saya belajar mencintai diri sendiri. Selama ini saya hanya fokus kepada pria tersebut, hingga saya berubah hanya demi pria bukan demi diri sendiri. Saya menyakiti diri sendiri sewaktu dulu, tetapi sekarang saya lebih mengutamakan diri saya. Jika saya mau berubah, saya akan berubah demi diri saya yang lebih baik bukan karena pria.

2. Saya belajar untuk mengenal apa yang saya butuhkan. Bukan yang orang tua butuhkan dan bukan yang sekitar butuhkan. Artinya saya boleh mempunyai target tapi saya juga tidak mau pilihan saya salah karena hanya berpusat pada target untuk menikah.

3. Saya belajar untuk hati-hati dalam segala hal. Saya mengurangi keegoisan saya dan lebih bijak dalam menanggapi situasi, tidak mudah terbawa perasaan serta mempertimbangkan kedepannya setiap keputusan yang akan diambil.

4. Saya mendekatkan diri kepada Tuhan. Banyak dari antara kita yang mendekatkan diri kepada Tuhan hanya karena sedang terpuruk dan sedih. Ketika sudah senang, maka kita lupa akan Tuhan. Saya disini belajar untuk selalu ngobrol sama Tuhan, sampaikan keinginan saya dan ikhlas menjalani rencana yang Tuhan kasih untuk saya.

So Urbannesse, ketika kegagalan itu datang terus-menerus jangan pernah untuk menyalahkan keadaan. Kita harus liat kedalam diri kita sendiri dan harus lebih hati-hati terhadap orang lain. Bangkitlah dari kegagalan dan kita harus selalu memiliki pengharapan yang baik untuk diri kita sendiri. Menangis, bersedih dan kecewa itu pasti tetapi itu semua bukan untuk diratapi. Karena jika bukan diri kita yang membangkitkan diri sendiri, siapa lagi?

Semoga pengalaman saya dapat bermanfaat bagi para Ladies yang sedang mengalami kekecewaan agar dapat keluar dari zona tersebut dan memulai hari baru.
Have a good day Ladies!



Anonim

No Comments Yet.