Kebahagiaan Ada di Tangan Sendiri, Bukan di Tangan Orang Lain


Friday, 23 Aug 2019


Kebahagiaan.....

Menjadi bahagia itu penting, sangat penting bagi saya. Karena dengan bahagia, kita akan mencintai diri kita dengan sepenuhnya. Kadar self love akan semakin tinggi yang akan membuka aura kecantikan untuk kaum perempuan(terlebihnya adalah saya).

Banyak yang mengatakan bahagia itu sederhana, tapi beberapa rekan saya ada pula yang mengkategorikan kebahagiaan dengan materi berlimpah dan kenikmatan duniawi. Apakah benar bahagia hanya berkaitan dengan materi ? Dulu saat single saya pun pernah merasakan ketidaknyamanan yang menggerus rasa bahagia,  sebenarnya saya sadar bahwa perasaan tidak nyaman ini saya ciptakan sendiri.  Misalnya merasa Iri sama kehidupan orang lain, sempat merasa tidak nyaman dengan sesuatu namun saya memilih memendamnya sendiri. Yang ujung-ujungnya setelah saya sadar buat apa juga saya punya perasaan-perasaan negatif tidak jelas seperti itu yang hanyak menggerus kebahagiaan saya ya nggak ? yang harusnya sudah 100% bahagia saat itu dengan adanya rasa iri, negatif thinking dan memendam rasa-rasa yang nggak enak di hati saya pada akhirnya kebahagiaan saya berkurang kadarnya jadi hanya 60%. Saya pikir lagi yang rugi siapa kalau seperti ini ? tentunya saya sendiri. Makanya saya saat itu membenahi pikiran dan hati saya agar singkron, dan saya buang tuh jauh-jauh perasaan-perasaan dan penyakit batin yang hanya menghambat kebahagiaan masuk dalam kehidupan saya.

Alhasil, it work. Hingga hari ini saya mengesampingkan untuk mikir negatif ke orang meski ada kesempatan, daripada kaya gitu mending fokus pada hidup dan diri saya. Mempercantik diri, memperdalam kajian spritual, perbanyak olahraga dan ubah inner circle yang negatif di jarakin, yang positif di dekatin.

Awal tahun ini, saya mengikuti perjalanan ibadah ke tanah suci. Jika ditanya apa yang menyebabkan saya berniat pergi beribadah kesana? Hanya satu jawaban untuk lebih menenangkan hati dan mendekatkan diri pada Sang Pencipta diri saya. Di tanah suci saya mendapatkan perasaan yang teduh, tenang, sejuk dan letupan bahagia di relung batin terdalam karena merasa adanya kedekatan dengan sang pencipta di sana. Saya merasa sangat kecil dibandingkan Tuhan. Terlebih lagi saat menyaksikan ribuan manusia dari belahan dunia sama-sama mengucapkan doa dan pujian rasa syukur terbaik yang mereka panjatkan, semakin membuat batin saya merasakan ketenangan dan kebahagiaan yang sejati. Yaa...Kebahagiaan yang datangnya dari Tuhan semesta alam.

Saya seperti mendapatkan kebahagiaan tersendiri, sulit saya jelaskan dengan kata-kata. Nikmat hati terasa terisi, menjadi lebih tenang. Sebelum melaksanakan ibadah tersebut saya selalu memiliki perasaan manusiawi. Seperti perasaan khawatir, takut terhadap masa depan, kecewa dan sedih terhadap tantangan di kehidupan saya, yang pastinya mau bagaimanapun nampak sempurnanya kehidupan seseorang sepertiku pasti ada perasaan manusiawi yang beberapa kali menghampiri batin hingga membuat tidak nyaman dan gelisah.

Sekembali dari pelaksanaan ibadah tersebut, hati saya menjadi lebih lembut dan sangat bersyukur atas segala nikmat dan berkah yang sudah diberikan oleh Tuhan pada hidup saya. Perasaan ini memunculkan efek bahagia dan tenang dalam menjalani kehidupan yang mungkin beberapa kali sebelumnya saya sering lupa untuk bersyukur. Pengalaman ini adalah bukti nyata bahwa kebahagiaan tidak berbanding lurus dengan materi dan dunia. Namun, ada kalanya materi dan dunia akan memberikan secercah efek euphoria bahagia.

Bahagia itu datang dari diri ku sendiri, dari relung hati. Semakin kita mendekatkan diri pada Tuhan yang Maha Penyayang maka rasa syukur dan bahagia akan ditambahkan. Llau setelah anugerah kebahagiaan di limpahkan Tuhan pada kita, apakah cukup dengan doa-doa saja ? tentunya tidak untuk saya. Wujud syukur bahagia atas ketenangan dan kebahagiaan batin selaras dengan perwujudan rasa syukur tersebut dengan mencintai bukan hanya jiwa tetapi juga raga saya, sebagai makhluk ciptaan-NYA.

Ini yang saya lakukan agar kebahagiaan batin tetap saya rasakan meski kehidupan tidak lepas dari tantangan & problematikanya :

  1. Aku temukan kebahagiaan dengan mendekatkan diri pada sang pemilik hidup dan mati, Tuhan Yang Maha Esa.

Terlebih lagi jika kita selalu mendekatkan diri pada Tuhan, maka rasa bahagia akan semakin muncul karena kita adalah ciptaan Sang Maha Kuasa yang sempurna memiliki akal dan pikiran serta fisik yang baik. Tuhan memberikan karunia 5 indera ketika kita terlahir kedunia tanpa kekurangan apapun.

Yang saya selalu jaga, adalah merawat segala sesuatu yang Tuhan berikan karena segalanya adalah titipan yang diberikan agar kita bisa melaksanakan hidup yang baik. Semakin dekat hubungan seorang hamba manusia dengan Tuhan, akan semakin terpancar kebahagian dari manusia tersebut.

  2. Mencintai Diri sendiri, karena disini saya menemukan kebahagiaan saya sendiri. Rasa bahagia yang terpancar akan otomatis menciptakan taraf mencintai diri sendiri dalam hidup lebih dari sebelumnya. Bagaimana kita mencintai diri sendiri, setiap inchi dari tubuh kita, melihat kekurangan diri saya sebagai sebuah berkat dari Tuhan, bukan malah menjadikan alasan saya untuk meratapi kekurangan yang saya miliki. Saya selalu katakan pada diri saya ‘Risa berbahagialah kamu dengan keadaan dirimu hari ini, karena kamu layak mendapatkannya’. Bagaimana kemudian saya melakukan yang terbaik untuk hidup saya, menyayangi fisik dan menjaga kesehatan dengan berolahraga, berpikir positif dan memperbanyak sayur serta buah buahan dalam nutrisi sehari hari.

Jika tidak ada rasa bahagia untuk diri saya sendiri, maka saya akan menjadi ceroboh dalam menjaga tubuh dan hati serta merelakan pikiran, hati dan diri di kuasai oleh toxic yang datangnya entah dari orang lain maupun dari penyakit. Ketika saya bersyukur, berarti rasa syukur atas raga saya pun saya wujudkan dengan rasa cinta terhadap raga sendiri, saya berlatih untuk hidup sehat, makan dan minuman yang saya tahu akan baik untuk tubuh saya, melatih diri selalu untuk mengurangi junk food/makanan siap saji.

Carilah bahagia itu, karena hanya diri kita sendiri yang mengetahui. Perbanyak rasa syukur maka kutemukan bahagiaku disitu, self love (dengan melakukan segala hal yang menjadi manfaat buat jiwa dan raga ku olahraga, makanan sehat, berkomunitas, menjadi relawan, ikut kajian spiritual dan makin dekat hubungan dengan Tuhan maka hubungan sesama manusia akan semakin membaik, saya merasakannya sendiri Urbanesse.

Jika masih belum menemukan arti kebahagiaan,  saya memilih merenungkannya dalam doa sambil selalu hitung berkat demi berkat yang sudah saya capai itulah alasan saya untuk tetap bersyukur di beri hidup, dan tetap bisa berbahagia dalam kecewa karena selalu ada alasan di balik kisah yang menghampiri kehidupan kita. Saya belajar juga untuk tidak mudah terporosok dalam lubang hitam atau hal hal yang memberikan kesenangan sementara.

Perbanyak lingkup sosialisasi dengan teman atau group yang mengsupport satu sama lain. Bijak-lah dalam bersosial media, karena saat ini banyak dari kita yang menjadikan apa yang ditampilkan dalam sosial media sebagai standard kebahagiaan yang musti sama seperti orang lain.

Saya pengguna sosial media juga namun saya memilih menciptakan bahagia dengan standar saya bukan standar kebahagiaan teman-teman saya di sosial media.

Percaya deh, bahagia itu tergantung kita dan kita sendiri yang bisa menciptakannya. Yuk jadi wanita dengan segudang kebahagiaan. Supaya kita bisa terus memotivasi orang terdekat kita dan saling mensupport sesama perempuan. Cause happiness is in our hands.

 



Risa

No Comments Yet.