Gagal Menikah Karena Malas Mencari Tahu Karakter Pasangan ?


Monday, 23 Sep 2019


Halo Teman-teman Urban Women, tema kali ini memantik saya untuk ingin ikutan juga menulis, karena saya pikir saya memiliki cerita pribadi seputar ini. Panggil saja nama saya Felli (bukan nama sebenarnya). Dulu saat usia saya 20-an saya berkali kali menjalin hubungan dengan cowok selalu berakhir dengan kekecewaan. Kalau di hitung saya pacaran sudah lebih dari 6 kali.

Hubungan pertama saya dengan pria bernama Anto (bukan nama sebenarnya), 1 tahun  saya menjalani hubungan dengannya. Mungkin karena saya pikir saat itu, saya tipe perempuan yang kelewat lembut dan polos  jadi nggak pernah bisa membaca karakter pria yang lagi menjalin hubungan dengan saya. Pacaran dengan Anto dia memperlakukan saya dengan hal yang indah-indah pulang kuliah di jemput, kemana pun anto pergi saya selalu di libatkan dan di perkenalkan dengan teman-temannya.

Saya merasa saat itu anto sudah cinta pada saya dan akan serius membawa hubungan ini (ya gimana nggak, saya sudah kenal dengan teman-temannya, saya sudah tahu kehidupannya, saya juga sudah dikenalkan oleh adiknya dari situ saya berkesimpulan sendiri bahwa saya akan di seriusin dengan Anto, namun kenyataanya tidak.

Bukannya belajar dari pengalaman menjalin hubungan dengan anto,  hingga berturut-turut 6 kali menjalin hubungan dengan pria lain saya mengalami kegagagalan dan kekecewaan terus menerus. Dari mulai selama pacaran hanya untuk menghidupi/membiayai pria tersebut dengan gaji pribadi selama saya bekerja di salah satu Bank swasta di daerah Bogor di barengi dnegan kekerasan psikis dalam pacaran yang juga di lakukannya (selama menjalin hubungan dangan pacar kedua saya, saya selalu di caci maki dengan kalimat yang kurang pantas dan menjatuhkan harga diri saya), lalu saya juga pernah pacaran dengan pria selama 8 bulan nggak tahunya laki-laki tersebut sudah memiliki istri dan anak, Lalu saya mengalami juga pacaran dengan pria yang ternyata tanpa saya tahu kalau selama saya menjalin hubungan dengannya saya  adalah selingkuhan pria tersebut yang notabene laki-laki itu sudah memiliki pacar yang statusnya sudah bertunangan dan akan menikah dalam waktu dekat.

Kecewa ? tentu saja berkali-kali pacaran saya merasa ‘kok nasib saya begini banget ya, nggak pernah dapat cowok yang benar-benar baik dan serius sesuai dengan keinginan saya’. Bahkan teman-teman saya bisa lancar-lancar saja pacaran tanpa harus mengalami  perjalanan kecewa berat seperti ini, saya saat itu seperti merasa ditipu berulang kali dengan pria-pria tersebut,  hampir semua cerita berakhirnya sama dengan kekecewaan yang mendalam.

SAYA SADAR SAYA MALAS

Saya memiliki seorang sahabat namanya Katherine teman SMA dan kuliah S2 saya, Kath sudah menikah, dia sahabat saya yang menurut saya paling logis diantara rekan saya yang lain. Meski sudah menikah namun saya saat akhirnya banyak belajar dari Kath. Dia tahu cerita saya yang selalu gagal dan kecewa dalam menjalin hubungan. Bahkan di perjalanannya sebenarnya Kath sering kali memberi saya masukan/saran yang intinya ingin menyadarkan kalau selama pacaran dengan para pria tersebut  sebenarnya bukan salah laki-laki sepenuhnya tetapi dalam kasus saya ini, ada cara-cara saya yang keliru dan berulangsaya lakukan ke setiap pria yang sedang menjalin hubungan dengan saya. Kath menyebut kalau selama ini, SAYA MALAS ?.

Awalnya saya tidak menyadari bahwa semua kekecewaan dan kegagalan dalam relationship ini adalah akibat dari rasa malas saya. Kath mengatakan kalau dulu sebelum ia memutuskan menikah dengan pasangannya, ia tidak sepenuhnya menyerahkan diri, rasa percaya dan tidak dengan gampangnya saja  menyerahkan tanggung jawab kebahagiaan pada pria yang menjadi pasangannya, ibaratnya ketika sudah memutuskan pacaran sudah aja gitu yang penting terima kelebihan dan kekurangannya berharap suatu hari pasangan akan berubah ketika di bawa ke jenjang yang lebih serius ? menurut kath dirinya bukan tipe wanita yang malas hingga pasrah saja menerima karakter buruk ataupun tidak baik pasangannya. Karena pola didik dan asuh orangtua Kath lah yang membuatnya rajin, tanggung jawab dan disiplin dalam segala hal termasuk urusan mencari pasangan hidup.

Bagi Kath, perkara mencari pasangan hidup nggak bisa di gampangin, karena pilihan itu menjadi tanggung jawabnya nanti. Menurutnya diri sendirilah yang menjalaninya. “Dalam mencari jurusan kuliah dan berkarir aja aku serius. Mencari tahu dan menyelami passion dan bakat benar-benar aku sesuaiin dengan kemampuan dan kondisi aku. Apalagi perkara mencari pasangan hidup yang bakalan menemani aku sepanjang usia jadi aku harus bertanggung jawab dengan pilihan tersebut.

Aku nggak mau sampai ketika aku menikah, aku mengatakan begini ‘aduh aku salah pilih suami ternyata karakternya buruk, aduh ternyata pasanganku berubah setelah menikah nggak seperti dulu waktu pacaran, Duh pasanganku banyak kekurangannya tapi aku nggak enak ngasih tahunya daripada nanti jadi ribut mending tahan aja deh semoga suatu hari dia akan berubah’ intinya aku tidak mau sampai terlambat mengalami hal itu ketika aku sudah memutuskan memilih untuk menikah.

Makanya aku memang sering banget kan di putusin atau aku yang meninggalkan pacar-pacar aku yang dahulu, karena apa? Karena aku memilih untuk merasakan kepahitan-kepahitan dan tahu keburukannya di awal atau masih tahap pacaran daripada aku harus tahu dan meninggalkannya ketika sudah memutuskan menikah. Yang pasti perjalananya seperti yang dilihat memang lama, rumit dan sepertinya memusingkan buat kamu Fell tapi buat aku dengan cara nggak malas cari tahu dan melakukan tes demi tes inilah aku bisa benar-benar yakin siapa pria yang pantas aku pilih untuk menjadi pasangan hidupku” Ungkap Kath padaku pada waktu itu.

Menurut Kath lebih baik mengalami kegagalan sambil terus mencari tahu kelebihan dan kekurangan diri kita maupun calon pasangan kita daripada kita terburu-buru pacaran sampai menikah karena membela rasa malas, pasrah dan nggak mau ribet cari tahu tentang karakter, watak/sikap pasangan kita. Karena bagi Kath pilihannya adalah tanggung jawabnya. Jadi, ketika pun akhirnya salah pilih misalnya, kita sudah tahu akibat-akibatnya. Kath mengibaratkan padaku selayaknya mencari jodoh sama halnya seperti kita mempersiapkan payung sebelum hujan.

Ucapan-ucapan Kath cukup menampar dan menyadarkanku, bahwa selama ini  aku berkali-kali kecewa dan gagal dalam relationship karena :

  1. Terlalu Malas mencari tahu karakter dan latar belakang pacar/pasangan sendiri karena sudah khawatir kehilangan dan takut kesepian karena harus hidup jomblo.
  2. Mudah terbawa suasana nyaman (aku kerap merasa nyaman dan menyimpulkan bahwa aku bahagia, yaa itu bagian dari rasa malasku untuk menganalisa lebih jauh perasaan/pikiran tersebut) ketika pacarku memperlakukanku dengan cara-cara yang romantis dan penuh kejutan aku bisa dengan drastis percaya bahwa dia serius menjalin hubungan ini, padahal kan belum tentu.
  3. Malas menegur atau bertanya tentang unek-unek yang aku rasakan pada pasanganku. Misalnya : pada saat aku pacaran aku sebenarnya ada perasaan-perasaan janggal atau aneh seperti kok dia nggak mengizinkan aku pegang hp nya ya, kok dia kalau malam minggu nggak pernah mau ya di ajak bertemu, kok pada saat malam hari cowokku selalu alasan ketiduran atau tidak dapat di hubungi ya ketika weekend?”, seharusnya aku bisa saja menanyakan itu lalu karena aku menuruti rasa malas dengan menggampangkan urusan-urusan tersebut, akhirnya membawaku mengalami kecewa terus.

 Dari sinilah aku mulai melatih dan membenahi diri tentang bagaimana aku mengubah cara dan pola pikirku saat pacaran agar lebih rajin mencari tahu dulu karakter dan sikap pasangan serta tidak dengan mudahnya menggampangkan keadaan atau kode-kode alam yang seharusnya bisa aku sikapi dengan tegas demi kebaikan hubungan.

Tahun-tahun berikutnya aku mulai lebih sigap dan nggak mau ngikutin rasa malas, nggak enak dan segala macamnya itu. Aku mulai belajar mencari tahu karakter pacarku, menyelami bagaimana cara mereka menjalani kehidupan sehari-harinya, melihat bagaimana cara mereka menyelesaikan /menghadapi masalah dalam hubungan kami. Beberapa kali saat itu aku gagal dan gagal lagi namun pada kegagalan kali ini aku selalu belajar dari pola-pola masa lalu yang pernah aku jalani.

Ini yang aku lakukan untuk melawan rasa malas dalam permasalahan percintaanku selama  ini :

  1. Tidak MalasBertanya &  Belajar dari pengalaman orang lain. Karena aku tahu aku terlalu polos dan tulus ketika mengenal pria, aku diajak oleh Kath sahabatku untuk mengikuti workshop pengembangan diri (meditasi, workshop tentang self love, workshop pemberdayaan perempuan dan tentang pacaran yang sehat).
  2. Berani menyuarakan unek-unek sendiri  dan tidak takut kehilangan atau patah hati. Ketika aku merasa ada yang janggal dalam hubungan, aku memilih bertanya langsung daripada memendamnya seperti caraku zaman dulu, aku tidak lagi memandang patah hati sebagai momok menakutkan melainkan sebagai bagian untuk melatih diriku agar lebih kuat dan belajar lebih banyak lagi mengenai karakter laki-laki.
  3. Tidak lagi malas pada hal-hal yang sebenarnya penting banget buat hidupku. Dulu aku pikir dengan pacaran dan cowok itu sudah bisa membahagiakanku saja, aku sudah cukup berkesimpulan bahwa cowok itu serius dan akan menikahiku. Tetapi sekarang cara pandangku aku ubah aku tidak lagi meletakkan kebahagiaanku pada laki-laki, aku bisa bahagia dengan usahaku sendiri laki-laki adalah bonusnya. Semua hal yang berkaitan dengan perkara mencari pasangan hidup sudah nggak bisa lagi aku gampangin seperti dulu, karena ini perkara kehidupanku kedepan. Lebih baik gagal saat masih pacaran karena tahu lebih awal karakter dan sikap pasangan, daripada ketika sudah menikah aku berkeluh kesah bahwa pasanganku begini dan begitu.

Sejujurnya aku bersyukur memiliki sahabat baik seperti Katherine, karena melalui dia aku banyak belajar untuk tidak lagi malas dan menggampangkan keadaan yang sangat penting buat kehidupanku ke depan. Sampai hari ini aku dan Kath berkawan baik. Pasangan kami pun saling mengenal dan akrab juga. Saat ini aku sudah menikah, walau belum memiliki buah hati. Harapanku pernikahan ini akan menjadi pernikahan pertama dan terkahir buat kami.

Mungkin perjalanan/pengalaman seperti aku dan sahabatku Katherine pernah juga kamu alami?. Pembelajaran yang aku dapatkan dari pengalaman ini adalah “Bahwa kemalasan kita akan hidup kita sendiri akan menghambat perjalanan kita mencapai apa yang kita impikan”. Semoga cerita ini mampu mengisnpirasi teman-teman Urbanesse juga ya.

 

 



Rika

No Comments Yet.