Gagal Itu Wajar Kok!


Tuesday, 15 Oct 2019


Jika saya ditanya “Pernah gagal…?”, saya akan dengan senang hati & bangga menjawab “sering banget…”

Aneh kan, sering gagal kok malah senang. Memang saat merasakan gagal kita tidak akan merasakan senang sama sekali, tetapi saya mau menceritakan kegagalan yang bisa dilihat dari sudut pandang berbeda.

Saya akan menceritakan kegagalan-kegagalan yang saya alami dari awal yaitu waktu saya di sekolah. Masa sekolah khususnya masa SMA adalah masa dimana mimpi-mimpi dan pandangan tentang dunia dewasa, karir, kebahagiaan dibuat. Hayoo Ladies ngaku siapa yang dulu punya “Genk” di masa SMA? Hahaha… Sewaktu itu saya dan teman-teman dekat saya mempunyai tujuan yang sama yaitu masuk ke Perguruan Tinggi Negeri. Saat itu atau mungkin hingga sekarang masih banyak yang beranggapan bahwa anak-anak yang masuk kedalam Perguruan Tinggi Negeri bisa menjadi anak yang sukses dan kehidupannya terjamin serta membanggakan orang tua. Kalimat itu sering pasti saya dengar di lingkungan sekolah saya, pertemanan saya hingga di keluarga saya. Saya dan teman-teman akhirnya diskusi untuk mewujudkan mimpi dan ambisi agar dapat melanjutkan kuliah di Perguruan Tinggi Negeri. Saya dan teman-teman saya cukup pintar saat itu dan sangat bisa bersaing dengan ratusan atau mungkin ribuan siswa diluar sana. Akhirnya tibalah pada tahun yang menjadi penentu apakah saya masuk atau tidak, tetapi saat itu saya dan teman satu kelompok saya merasa bahwa “Kita pasti masuk, yakali kita gagal. Kita pintar-pintar kok dan aktif di SMA”. Sewaktu itu pengumuman berita penting tersebut belum seperti sekarang yang dapat diakses dengan mudahnya di layer HP atau layer komputer, maka kami pun berbondong-bondong ke sekolah. Ketika satu persatu teman kelompok saya melihat namanya di papan dan raut mukanya bahagia, saya yakin bahwa mereka berhasil. Tetapi saya tidak melihat nama saya dipapan tersebut. Saya kecewa, saya menangis karena hanya saya yang didalam kelompok saya tidak masuk ke PTN. Saya malu dan akhirnya sempat mengurung diri selama 1 bulan dirumah, dan menolak ajakan teman-teman saya yang ingin menyemangati saya. Saya merasa kalau tidak masuk PTN, saya akan ditinggalkan sekitar dan saya jadi anak yang tidak membanggakan orang tua. Lalu setelah 1 bulan saya hanya meratapi nasib saya yang tidak beruntung tersebut, Alm. Ibu saya mengingatkan bahwa saya bukan gagal melainkan ditempatkan pada jalan sukses yang berbeda. Saya mulai mengingat perkataan Ibu saya dan akhirnya saya pelan-pelan bangkit dan berfikir positif bahwa saya dapat sukses walaupun dimanapun saya menempuh pendidikan. Dan akhirnya saya kembali bersemangat setelah hanya bisa menangisi diri saya.

Ternyata kegagalan yang saya alami tidak hanya sampai situ saja. Setelah saya menyelesaikan gelar sarjana saya, mencari pekerjaan merupakan langkah selanjutnya. Waktu itu saya melamar pekerjaan di salah satu perusahaan otomotif terbesar di Indonesia, dan saya sudah menjalankan semua tes hingga interview. Hasilnya pun memuaskan hingga interview terakhir, dan saya merasa bahwa saya yakin akan besar peluang saya untuk dapat diterima. Lalu ketika dikabarkan oleh pihak perusahaan tersebut bahwa saya tidak lolos interview terakhir tersebut saya merasa shock. Saya kembali ke fase saya sewaktu dulu gagal masuk PTN, bedanya kali ini saya benar-benar merasa hancur dan kembali mengingat apakah ini ada hubungannya dengan riwayat kuliah saya yang tidak masuk PTN. Dan pikiran buruk mulai memasuki saya, hingga 1 tahun lamanya saya tidak melamar pekerjaan lagi dan merasa tidak akan ada yang menerima saya. Lalu apa yang saya lsayakan selama 1 tahun? Berdiam diri, terpuruk, terus menerus merasa “I’m not good enough” dan malu tentunya dengan keluarga saya bahwa saya tidak dapat bekerja di perusahaan tertentu yang memang menjadi tujuan saya. Saya malas untuk memulai lagi dan menolak untuk berubah.
Dan disaat seperti itu, hubungan pribadi juga ikut keganggu sehingga saya gagal untuk memulai hubungan. Bayangkan bahwa saya belum memulai semuanya tapi ketika saya mencoba untuk memulai nyatanya saya gagal diawal. Hal itu semakin membuat saya terpuruk. Tidak bisa Move On dari keadaan pahit itu, dan yang saya lsayakan hanyalah menyalahi diri sendiri dan masih egois bahwa kehidupan terlalu jahat terhadap saya.

Saya Mau Move On.
Setelah 1 tahun saya hanya terpuruk lalu saya mencoba bangkit dan berubah dikarenakan dukungan dari orangtua dan kakak saya yang menyatakan bahwa saya bukan orang gagal, melainkan orang yang sedang bertumbuh. Bagi saya sudah cukup lama saya berada disituasi seperti ini dan akhirnya saya mulai membangkitkan semangat saya dalam memulai hari baru. Lalu saya memulai langkah awal saya berjualan kue-kue kecil dan saya belajar juga bagaimana berjualan kue-kue tersebut. Kemudian kakak saya membawakan koran dan menyuruh saya untuk mengikuti salah satu lowongan pekerjaan di perusahaan BUMN. Awalnya saya malas dan mulai tumbuh perasaan tsayat kecewa, lalu akhirnya saya mengingat lagi bahwa itu yang membuat saya tidak maju. Saya memutuskan untuk ikut tes pekerjaan tersebut lagi dan menjalani setiap prosesnya dengan sabar. Dan rupanya benar, kesabaran dan semangat Move On ku pun diuji yaitu dengan mengikuti 6 tahapan tes hingga tidak terasa hampir 1 tahun saya menjalani tes tersebut hingga saya diterima di perusahaan BUMN tersebut hingga sekarang. Dan saya sudah bekerja disini selama 12 tahun.

Awal mula gagal itu sudah pasti merasa kecewa, sedih dan tidak semangat. Saya mulai bertanya apakah dari orang lain, apakah dari lingkungan/sistem, dan sebagainya. Ketika tidak mendapatkan jawaban, lagi-lagi saya menanyakan hal yang sama, yang berakhir menjadi semakin terpuruk dan kecewa. Hingga suatu saat saya mencoba memutar kembali rekaman perjalanan hidup saya, baru saya sadar bahwa saya sering banget gagal, but I’m okay & I’m still alive.

Saya mencoba beberapa cara melepaskan diri dari jerat rasa kecewa. Dan Ladies, ini yang saya lakukan :


1. Saya belajar menerima (Acceptance), alih-alih mencari kambing hitam penyebab kegagalan saya, akan jauh lebih baik menerima kenyataan dengan sepenuh hati bahwa saya memang mengalami gagal. Merasa kecewa wajar, namun saya memberi tenggat waktu pada diri sendiri, mau sampai kapan saya akan terus merasa kecewa.


2. Saya mulai belajar bahwa jangan pernah membandingkan pencapaian diri sendiri dengan orang lain, karena setiap orang memiliki arena perjuangan masing-masing.


3. Saya menekankan didalam diri saya bahwa ini saatnya bangkit & mulai men-challenge kembali diri sendiri. Jika berhasil harus bersyukur, namun jika tidak? Coba lagi dan lagi dan lagi. There are million ways to grab your dreams.


4. Saya berdoa meminta kepada Tuhan untuk diberikan yang terbaik. Ini yang selalu diajarkan mendiang ibu saya & memang terbukti berhasil serta dapat memberikan ketenangan hati dan mental saya.


Sekali lagi, gagal itu wajar dan memang sebaiknya kita mengalami kegagalan. Saya bersyukur sekali saya diberikan banyak sekali kesempatan untuk gagal. Kalau saya tidak pernah gagal, saya mungkin sudah menjadi pribadi yang sombong dan egois. Dari kegagalan itu saya belajar untuk berusaha sungguh-sungguh, menghargai setiap proses dan selalu memberikan yang terbaik. Yakinlah Urbannesse, keberhasilan akan kita nikmati pada akhirnya.

~Failure is my blessing in disguise~



Febriana Budhi Murnianita

I am a travelholic & amateur photographer..

No Comments Yet.