Gagal Coba Lagi, Kalah Bangkit Lagi


Monday, 23 Sep 2019


Bagi saya rasa malas yang terjadi dalam hidup seseorang ada peran besar pola asuh dan didikan keluarga/orangtuanya yang membentuk mereka menjadi pribadi saat ini ketika mereka lebih membela rasa malas di hidupnya.

Sebut saja nama saya Sari, saya ingin menceritakan tentang bagaimana saya yang dulu dan sekarang dalam menghadapi kemalasan-kemalasan yang saya sadari maupun yang tidak. Saat ini saya katakan bahwa iya apa yang terjadi pada hidup saya sekarang adalah buah dari kemalasan saya berpikir dan bersikap pada zaman saya masih kuliah.

Kedua Orangtua saya bekerja sebagai pegawai negeri, saya anak pertama dari 2 bersaudara. Sebagai anak pertama seharusnya saya bisa memiliki pola pikir yang lebih dewasa dari adik-adik saya, namun kenyataanya saat itu saya seperti anak kecil. Karena orangtua memanjakan saya, mau apapun tinggal bilang mereka selalu menuruti keinginan saya. Ingin punya motor baru di belikan, ingin nge-kos supaya dekat ke kampus di turutin padahal jarak rumah saya nggak jauh-jauh banget dari kampus. Tapi, karena saya dulu anaknya masih pingin bebas ya saya memilih nge-kos.

Saat itu saya kuliah malas-malasan bahkan sering bolos, menitip absen saja lalu pergi jalan-jalan ke mall untuk sekedar makan, nonton dan mentraktir sahabat-sahabat saya, uang bulanan habis saya dengan entengnya tinggal minta pada Ayah atau Mama dan mereka nggak pernah marah atau complain atas sikap manja dan senang di layani ini. Hidup saya saat itu bebas konflik dengan keluarga, sepanjang mereka tahu saya kuliah dan baik – baik saja yaa...mereka nggak banyak tanya ini itu. Pokoknya apa yang saya minta mereka kasih. Bahkan saya merengek minta di belikan mobil dengan alasan agar saya tidak kesusahan ketika mencari bahan-bahan kuliah mereka turutin.

Sampai sahabat saya mengatakan bahwa saya hidupnya cukup enak, nggak perlu banyak berjuang seperti mereka yang masih kuliah saja sudah sambil kerja, ya.. yang jadi marketing mobil, spg rokok dan ada yang sambil mengajar privat anak-anak. Sedangkan saya, cukup bilang ayah dan mama apa yang saya inginkan mereka kabulkan. Sebenarnya dengan syarat, bahwa  saya harus menyelesaikan kuliah saya tepat waktu. Tapi dasarnya memang saya saat itu masih menggampangkan keadaan hingga malas berpikir yang penting-penting  buat diri saya dan memilih menjalankan hal-hal yang enak-enak saja jalan-jalan dengan mobil yang dibelikan orangtua dan santai dalam menjalani perkuliahan bahkan cenderung banyak bolosnya karena saat itu saya lebih senang main.

Sampai suatu hari ada kejadian buruk menimpa, uang kuliah yang harusnya saya bayarkan tidak saya bayarkan dan akhirnya menunggak lalu saya menggadaikan mobil saya pada seorang teman agar bisa membayar kuliah. Saya nggak berani jujur karena takut orangtua saya marah. Malas berpikir membuat saya mengentengkan keadaan. Hingga saya mengatakan pada orangtua bahwa mobil saya hilang padahal saya gadaikan, orangtua saya percaya saja dan mengatakan bahwa tidak mengapa yang penting saya baik-baik saja, entah mereka terlalu percaya pada saya atau saya yang sudah kelewatan pada mereka. Sejujurnya jika diingat kembali peristiwa itu saya malu dan menyesal sekali dengan perilaku saya di masa itu.

Mereka membelikan saya motor agar saya bisa tetap memiliki transportasi. Saat itu saya tidak berpikir merasa bersalah sama sekali, sikap mengentengkan keadaan makin memperparah saya ketika saya menjalin hubungan dengan seorang cowok yang sebenarnya saya tahu dia nggak suka-suka banget dengan saya, sebenarnya saya tahu cowok itu cuma memanfaatkan uang orangtua saya tetapi karena saya nggak mau kalah dengan sahabat-sahabat saya yang lain yang sudah pada memiliki pacar, akhirnya saya tetap menjalani hubungan dengan cowok itu sambil menutup mata meski saya tahu dia tidak tulus menjalaninya dengan saya.

Sahabat-sahabat saya mengingatkan saya tentang semua ini, bahwa saya hanya di perdaya oleh cowok  tersebut tetapi saya tidak mengindahkan ucapan-ucapan mereka. Saya tetap menjalaninya. Sampai suatu hari saya di tinggalkan di sebuah klab malam dalam kondisi tidak sadar karena mabuk  minuman, HP, atm dan dompet yang berisi uang dibawa oleh cowok tersebut . Sahabat-sahabat saya lah yang membantu saya saat itu, ia bantu membuat laporan ke kantor polisi. Meski hasilnya sampai hari ini saya tidak menemukan cowok tersebut kemana dan dimana nomor teleponnya sudah tidak terlacak.

Buah dari kemalasan Saya berpikir

Sadarkah saya malas ? tentunya saya sadar, sesadar-sadarnya bahwa semua yang terjadi adalah buah dari kemalasan saya berpikir jadi bisa dengan mudahnya menggampangkan situasi pada akhirnya membawa saya pada keterpurukan.  Akibat dari kemalasan saya saat itu kuliah saya terbengkalai karena tidak juga bisa menyelesaikan SKS dan gagal lulus sesuai target membuat saya akhirnya drop out (DO) atau dikeluarkan dari kampus. Orangtua saya sangat marah pada saya saat itu. Lalu saya masih mengentengkan keadaan, saya katakan pada mereka kalau saya ingin bekerja menjadi pegawai negeri, saya meminta orangtua saya mau merekomendasikan saya dengan jalur cepat agar saya bisa di terima menjadi PNS, Mama saya menolak begitupun Ayah mereka meminta saya bertanggung jawab dengan apa yang saya lakukan sendiri. Orangtua saya meragukan bahwa saya bisa bekerja, karena menurut mereka kuliah saja gagal dan saya mengentengkan hidup. Kata Ayah saya lebih membela kemalasan saya untuk berpikir sebagai anak pertama yang seharusnya bisa menjadi contoh untuk adik-adiknya.

Kedua orang adik saya kebalikan dari saya mereka kuliahnya lancar bahkan sampai ke jenjang S3 sedangkan saya? Saat itu saya sadari, saya gagal dengan hidup saya, Akibat membela kemalasan saya tidak bisa mencapai kehidupan yang lebih baik dan tidak tahu mana yang penting buat diri sendiri.

Dari kejadian tersebut saya merenung & belajar, keempat orang sahabat saya pun tidak henti-hentinya memberi masukan dan nasihat positifnya pada saya. Mereka-lah yang membantu saya ketika saya ada di titik terendah buah dari kemalasan saya.

Tahun 2010 saya mulai menata ulang hidup saya. Di dukung 4 orang sahabat saya yang masih mau menerima diri saya , sayapun di rekomendasikan bekerja di kantor advertising milik sahabat saya. Meski hanya bekerja sebagai resepsionis ini saya jalani dan saya bersyukur saya masih bisa bekerja kantoran dnegan gaji yang cukup memenuhi kebutuhan pribadi saya.

Orangtua saya masih tetap mengakomodasi hidup saya, namun saat itu saya memilih berjuang sendiri dulu dari nol, sebagai bentuk pertanggungjawaban saya atas semua kesalahan yang saya lakukan di masa lalu. Saya mengumpulkan uang lagi agar bisa melanjutkan kuliah, saya pun akhirnya bisa kuliah sambil terus bekerja, pada tahun 2015 saya pun akhirnya lulus kuliah S1 dan diminta Ayah saya untuk melanjutkan kuliah S2 pada 2018 saya pun lulus S2. Kini saya bekerja di salah satu Bank BUMN di Jakarta. Bagi saya itulah saatnya saya membuktikan pada orangtua bahwa saya yang dulu malas berpikir, malas kuliah, malas mencari peluang karir dan menjalani hidup dengan mengentengkan keadaan, pada akhirnya saya bisa, saya mampu. Saya pikir saya telah gagal 100 % nyatanya saya bisa, karena semua ini pilihan sih. Jika saya memilih nggak mau memulai dan mencoba  lagi dari nol berarti itu saya gagal. Tapi saya memberanikan diri untuk semangat mengusahakan dan memperjuangkannya lagi dengan tidak lagi malas seperti dulu, hasilnya NYATA Urbanesse.

Pembelajaran yang saya dapatkan dari pengalaman ini adalah :

  1. Saya percaya kemalasan saya di masa lalu tidak akan membawa saya kemana-mana maka saya memilih bangkit berjuang meski saya tahu saya belum tentu bisa saat itu, tapi saya coba alhasil bisa tuh, meski tidak sempurna.
  2. Tidak ada kata gagal. Kegagalan terjadi 100% ketika kita tidak sama sekali mengusahakan untuk mencobanya dulu, malas mencoba yaaa...hasilnya akan gagal terus.
  3. Saya jadikan kesalahan saya sebagai guru yang memecut saya, dari salah menjadi sedikit salah, karena buat saya tidak ada kebenaran yang benar-benar mutlak100% benar. Hidup saya saat ini adalah buah dari kesalahan saya pada masa lalu. Kebenaran dan kesempurnaaan hanya milik Tuhan, saya percaya itu.

Demikian cerita saya semoga dari pengalaman saya ini bisa di dapatkan point pembelajarannya dan menjadi semangat Urbanesse.



FIKA

No Comments Yet.