Caraku Menganalisa Iri Hati


Tuesday, 02 Jul 2019


Saya ingin sharing pengalaman saya dalam menganalisa rasa iri hati yang pernah saya alami dan akhirnya dari sini membuat saya belajar. Saya ini orangnya mudah terbawa perasaan seperti misalnya saat saya mengikuti kelas tambahan bahasa inggris lalu 3 hari kemudian teman dekat saya sebut saja namanya Wulan dan Sari (bukan nama sebenarnya) ikutan mendaftar kelas tersebut juga. Lalu ketika saya membeli tas baru  seminggu kemudian teman kantor saya sebut saja namanya Lani (bukan nama sebenarnya juga ikutan membeli tas yang sama dengan yang saya punya) dan beberapa hal lainnya yang ketika saya lakukan atau beli mereka selalu ikut-ikutan melakukan dan memilikinya juga. Saat itu saya merasa  mereka iri pada hidup saya sehingga apapun yang saya perbuat, saya miliki dan saya beli ada saja yang ngikutin (saat itu saya terbawa perasaan saya sendiri jadi berpikiran yang tidak-tidak tentang teman-teman saya tersebut). Hingga puncaknya adalah saya sampai diam-diam aja nggak mau memberitahu mereka ketika saya mau beli sesuatu atau melakukan sesuatu, karena pikiran saya saat itu ‘nanti kalau mereka tahu pada ngikutin’. Saya jadi merasa cemas sendiri, nggak nyaman takut pada ngikutin.

Aku belajar dengan menganalisa pikiran dan perasaanku

Lalu kemudian saya analisa dan renungkan kembali apakah benar mereka iri hati pada kehidupan saya ? atau jangan-jangan ini hanya pikiran negatif saya yang berprasangka kurang baik pada mereka?

Kalau di lihat lagi harusnya saya bahagia dapat menjadi inspirasi mereka untuk melakukan hal yang sama seperti yang saya lakukan/ membeli yang sama seperti yang saya beli, toh nggak ada ruginya buat saya lagipula mereka berperilaku baik dengan saya tidak ada hal yang aneh dan merugikan saya. Selama mereka memiliki kemampuan yang sama seperti saya, harusnya saya bersyukur  bisa menjadi penyemangat dan memantik orang lain untuk kursus, ambil kuliah lagi, membeli barang yang sesuai kebutuhan, selama membawa kebaikan untuk mereka aku pikir-pikir kembali ‘its OK’ dan tidak perlu aku terlalu memikirkan apakah mereka iri padaku atau tidak.

Jadi aku pikir ternyata dulu itu pikiranku saja yang berlebihan dan masih memiliki prasangka kurang baik ke mereka, buktinya setelah aku coba mengubah pola pikirku sesuai dengan analisaku untuk lebih berpikir positif pada teman-temanku, hati dan pikiranku malah lebih bersih dan tenang. Nggak ada ketakutan/kekhawatiran lagi seperti berprasangka dengan kalimat ‘jangan-jangan dia iri sama gw, makanya apa yang gw lakukan dia ikut-ikutan melulu, lebih baik aku diam-diam aja kalau beli sesuatu nanti di ikut-ikutin deh beli sama dengan yang aku beli’.

Sejak itu, aku ganti kalimatnya ketika ada perasaan negatif ke temanku dengan kalimat yang lebih positif seperti ‘Ya Tuhan, aku bersyukur jika memang teman-temanku ikutan mengambil kuliah, atau kursus lagi sepertiku, jadi aku ada teman buat diskusi’ jika aku membeli sesuatu dan mereka nanya-nanya beli dimana, berapa harganya kini aku memilih menjawab dengan jujur tanpa harus aku tutup-tutupin seperti dulu dan nggak lagi merasa ketakutan orang lain bakal ikut-ikutan, toh kalau pun mereka membeli barang sama seperti yang aku beli, yaa..nggak apa-apa, berarti hal baik bukan ? aku menjadi inspirasi untuk mereka. Mungkin tanpa di mulai dari ideku, mereka belum sampai dapat ide untuk melakukan hal yang seperti aku lakukan, begitulah Urbanesse cara aku melunturkan asumsi negatif dalam pikiranku, bahwa orang lain merasa iri hati pada ku.

Sejujurnya hal itu hanya perasaan dan pikiran negatifku saja, kalau diingat kembali cukup malu rasanya sudah pernah berpikiran buruk ke teman sendiri, padahal mereka cukup baik pada saya. Tetapi dari pengalaman ini saya belajar :

  1. Belajar untuk memilih dan menaganalisa rasa serta pikiran dulu tanpa menggunakan ego saya hanya untuk memuaskan diri saya sendiri (merasa saya baik dan benar, saya tidak mau terjebak lagi dalam kondisi seperti itu karena hanya membuat diri saya curiga, ketakutan sendiri kalau bakal di sirikin orang lain padahal kenyataannya belum tentu demikian). Sebelum mulai berpikiran buruk kalau orang lain iri hati pada hidup saya. Saya selalu kembalikan lagi ke diri sendiri ‘mereka yang  merasa iri jadi ikut-ikutan seperti saya, ATAU apakah ini karena hati saya saja yang masih buruk ke orang lain ? lalu harus secepatnya saya gerus pikiran negatif dengan jawaban-jawaban dan kenyataan yang saya lihat lebih positif. Itu selalu berulang saya tanyakan hingga sekarang jika ada rasa di hati yang tidak membuat nyaman.
  1. Dari pengalaman tersebut membuat saya juga belajar untuk lebih rendah hati terhadap apa yang saya miliki dan raih. Rendah hati berdasarkan pengalaman saya seperti di atas adalah lebih kepada penerimaan diri bahwa nggak apa-apa dan izinkan dengan hati yang baik jika ada orang lain yang mungkin bahagia dengan mengikuti diri kita. Tidak perlu selalu harus saya asumsikan bahwa mereka iri hati, positifnya adalah mungkin mereka kekurangan ide/panutan untuk melakukan hal yang mereka butuhkan, jalannya dari Saya yang penting tidak menjadikan mereka pribadi yang tidak baik, selama yang mereka ikuti dari diri saya adalah yang membawa kebaikan menurut saya itu malah menjadi manfaat buat mereka dan saya bersyukur membawa dampak yang baik untuk mereka.
  1. Saya jadi lebih banyak bersyukur atas keberkahan hidup yang saya dapatkan dan tidak membuat saja mengeluh atau merasa iri hati ketika perasaan tidak nyaman menghampiri diri saya. Karena jika di hitung sepertinya saya merasa malu hati jika sudah banyak di kasih keberkahan/berkat oleh Tuhan, saya masih memusingkan pikiran orang lain terhadap saya atau pun saya merasa iri dengan hidup mereka. Karena ketika saya merasa bersyukur dan tercukupi, hati saya lebih tenang, jauh lebih bahagia dari sebelumnya dan pikiran saya lebih jernih. Itu saya rasakan sendiri setiap kali melakukannya. 

Urbanesse ketika hati kita merasa tidak nyaman, negatif dan berpikiran orang lain iri hati pada kita atau sebaliknya bukankah itu nggak membawa manfaat atau keuntungan apapun untuk hidup kita ? kita bisa mulai belajar menganalisanya dengan bumbu yang positif dan pikiran yang baik-baik dulu seperti yang saya pernah lakukan tersebut. Karena nggak ada yang salah ketika kita sudah merespon perasaan iri hati/rasa yang tidak membuat kita nyaman tersebut dengan respon baik dan positif, bukan untuk orang lain kok, efeknya sangat terasa untuk diri sendiri. Saya pun hingga hari ini masih melakukannya dan terasa sangat baik untuk diri saya. Semoga pengalaman ini bermanfaat untuk Urbanesse, Terimakasih Urban Women sudah menjadi wadah saya berbagi pengalaman.

 

 



Libra

No Comments Yet.