Berbahagia Menjadi Ibu Rumah Tangga


Friday, 09 Aug 2019


Happy Mom, Happy Wife Happy Life, Aku menulis ini di BIO instagramku, beberapa orang pernah menegurku seperti ini ‘itu jargon lu kayanya indah banget ya, tapi fatamorgana (kaya khayalan semu aja) haahaaa.., sulit banget kali buat seorang Ibu & istri kaya kita ini bisa Happy. Mau happy bentar aja anak sudah teriak-teriak sambil nangis minta gendong, mau di tinggal ke salon aja sebentar sama bapaknya, anaknya anteng bapaknya yang teriak-teriak nyuruh pulang buru-buru.  Susah deh bahagia seperti jargon lu itu’ saya pribadi yang nikahnya udah bertahun-tahun aja kayanya susah buat bilang diri saya bahagia. Anak tidur harusnya bahagia tetapi kerjaan rumah menumpuk. Hidup bahagia saya yang sebenarnya, yaaa..pada saat saya single dulu kalau sekarang bahagia juga sih karena punya anak dan suami tetapi yaa..gitu deh kaya masih merasa kurang bahagia saja”  terang salah satu teman saya yang saat bereaksi membaca quotes di BIO intagram milik saya.

Saat itu saya tersenyum sambil mengatakan pada teman saya tersebut, ‘Yaa...standar kebahagiaan setiap orang kan beda-beda, ada yang merasa bahagia ketika ia sudah menikah karena mungkin dulu nya ia berkali-kali gagal di sebuah hubungan percintaan lantas ketika menemukan yang cocok, yaa... menikah kemudian ia sebut dirinya bahagia saat itu. Buatku nggak masalah, berarti memang standar kebahagiaan orang itu salah satunya adalah bisa menikah dan aku nggak bisa menyimpulkan apapun karena kebahagiaan itu masing-masing orang yang merasakannya kan?

Ada juga yang memilih single dulu sambil terus memantaskan diri namun mereka tidak pernah berkekurangan kebahagiaanya & tidak kehilangan dirinya sendiri karena mereka bisa menikmati hidupnya. Pergi ke salon, jalan-jalan ke mall untuk shopping, travelling, beraktivitas positif (dan itu lumrah saja nggak masalah karena setiap orang memiliki cara dan standar sendiri memaknai kebahagiaan di hidup mereka). Aku dan kamu nggak bisa menghakimi hanya dengan melihat bagian luarnya saja, toh seseorang yang betul-betul berbahagia pasti akan terasa kok ke sekelilingnya, kalimat-kalimat yang di lontarkannya pun positif dan mengarah pada kebaikan.

Nah, ada juga seorang ibu sepertiku yang kebahagiaanya adalah ketika bisa menjadi diriku sendiri tanpa musti repot meminta persetujuan orang lain harus menyukai pilihanku atau tidak. Beberapa pilihan yang aku ambil misalnya nih, aku tidak perlu menunggu kamu sebagai temanku & orang lain setuju dengan quotes yang ada di BIO instagramku ‘Happy Mom, Happy Wife Happy Life’, orang lain seperti kamu boleh saja tidak setuju atau punya pendapat lain dengan pernyataan tersebut, itu hak kamu dan dalam memaknai kebahagiaan kita pun pastinya juga berbeda, aku menghargainya.

Bagi kamu mungkin quotes yang ada di BIO instagramku itu sekedar jargon yang sulit di dilakukan, tetapi buatku quotes itu bukan hanya sekedar jargon tetapi penyemangat dan pengingat diriku bahwa mau bagaimana pun berat & sibuknya di rumah dalam mengurus rumah tangga (anak dan suami) aku pastikan pada diriku, untuk jangan sampai kehilangan kebahagiaanku sendiri seperti dulu-dulu, jangan sampai aku kehilangan diriku untuk bisa berbahagia, Meski hanya sekedar bisa makan mie rebus dengan tenang atau minum teh maupun kopi  saat anak tidur, bagiku itu sangat memberi energi tambahan yang bisa membuat tangki kebahagiaanku terisi lagi setiap harinya.

Aku juga tidak perlu menunggu kamu atau orang lain setuju dengan pilihan cara berpakaian yang sedang ku kenakan, atau sekali waktu kami memesan makan malam via ojek online di saat aku dan suami misalnya sedang sama-sama kelelahan sehabis pulang kerja.

Saat aku dan anakku sakit waktu itu suamiku memilih memakai jasa cuci laundry pakaian agar tidak terlalu menumpuk cucian dirumah, lalu aku juga tidak perlu meminta persetujuan orang lain untuk sependapat dengan caraku memilih memasak sendiri makanan di rumah ketimbang membeli makanan matang saat aku dan pasangan libur bekerja. Yang penting selama masih dalam kondisi sehat aku berusaha untuk memasaknya sendiri, karena dengan memasak aku bisa bahagia apalagi masakanku di makan lahap oleh anak-anak dan suamiku (itu salah satu dari sekian banyak caraku berbahagia di dalam hidup berumah tangga).

Ketika aku ingin merasa bahagia, aku  memilih secara sadar berhenti untuk terpengaruh omongan orang lain dengan melakukan hal-hal yang menurut versiku adalah baik dan benar untuk kehidupanku.

Jadi, dari quotes itu aku katakan pada temanku, bahwa untuk menjadi Ibu Bahagia, Istri Bahagia & hidup bahagia setiap harinya nggak usah repot mikirin apa kata orang, sebenarnya bisa merasa bahagia asal muasalnya ada di diri kita sendiri, ini yang kulakukan :

  1. Belajar untuk tidak banyak berkeluh kesah pada hal-hal kecil, apalagi menyesal atas pilihan hidup yang sudah kita ambil & putuskan. Ketika aku memutuskan menikah berarti aku sudah tahu & siap bahwa kebahagiaanku masanya akan berganti dari yang tadinya bahagia versi  single dan setelah menikah tetap bisa berbahagia dengan versi baru sebagai seorang istri dan ibu untuk anak-anak.

 Misalnya Kalau bahagia kamu salah satunya adalah dengan perawatan diri ke salon seperti zaman masih single? Yaaa, lakukan, waktu & caranya aja di ubah dulu waktu single mungkin ke salon bisa sebulan 2 kali berhubung sudah menikah ya jadwalkan sebulan sekali saja pergi ke salon untuk membahagiakan diri.

Dulu waktu belum ada suami dan anak sekarang ada mereka mungkin bisa pesan salon yang datang ke rumah, atau kerjasama dengan pasangan untuk minta bantuan dia menjaga anak, sementara kita pergi ke salon (tetapi dengan memastikan bahwa pekerjaan rumah saya sudah rapi dan beres, anak juga sudah mandi, makan dan istirahat). Sejujurnya ini aku lakukan dan sangat bermanfaat buat me-recharge tangki kebahagiaanku.

 

  1. Dari pengalaman berbincang dengan temanku itu, aku belajar untuk tidak mudah menghakimi cara& standar orang lain dalam menciptakan kebahagiaan mereka.

 Dulu juga aku pernah ada di masa mudah sekali mengomentari orang lain ketika cara mereka berbeda dengan caraku. Setelah banyak belajar dan mengalami sendiri setelah berumah tangga aku jadi berpikir bahwa orang lain melakukan cara sesuai dengan yang mereka yakni baik dan benar untuk dirinya adalah bagian dari cara mereka menciptakan dan menemukan kebahagiaan di dirinya.

Bahkan ada temanku yang setiap hari ibunya nggak pernah masak di rumahnya sempat aku komentari, padahal kalau di ingat lagi aku yang keliru saat itu. Ibunya memilih cara yang sederhana nggak mau merepotkan anak serta dirinya sendiri, yang berujung bakal nggak membuat dirinya tidak merasa bahagia dan nyaman. Maka ia memilih membeli makanan setiap hari, karena juga melihat sang Ibu sudah cukup sibuk dengan pekerjaanya di luar rumah.  Sejak saat itu aku tidak lagi dengan mudahnya menghakimi pilihan& cara orang lain berbahagia dengan kehidupannya.

 

  1. Lakukan hal yang mau aku lakukan, yang mampu membuat tangki kebahagiaanku terisi kembali

Kebahagiaan di diriku asalnya dari Tuhan namun diriku sendirilah yang menciptakanya agar kebahagiaan batin itu bisa aku rasakan setiap harinya meskipun pekerjaan di rumah banyak. Namun, aku selalu memastikan bahwa tangki kebahagiaanku cukup. Ibarat sebuah tangki minyak, ketika kosong harus di isi, aku berusaha mengisinya dengan hal-hal yang membawa positif ke diriku, dapat  aku NIKMATI dan SYUKURI.  Dengan apa ? yaaa...apa saja pokoknya yang membuat aku bahagia.

Minum teh sambil nonton film favorit, Bisa beribadah dengan tenang saat anak tidur, dapat mandi dengan nyaman meski anak teriak-teriak minta di buatkan susu dan hal lainnya bisa membuat bahagia. Karena apa? Karena mungkin saja semua hal ini di inginkan orang lain dan aku memilikinya. Jadi tidak ada alasan buatku untuk tidak merasa bahagia karena ketika aku mengingat kembali jaman dimana dulu aku kerap galau karena masalah percintaan, perjalanananya cukup banyak air mata yang keluar heeheee jadi sayang sekali hidupku ini jika aku tidak menciptakan kebahagiaanku sendiri.

 

  1. Menghargai setiap hal kecil yang kita alami/miliki. Dulu aku juga pernah merasa tidak bahagia, lalu cepat sadar bahwa tidak perlu jauh-jauh pergi ke suatu tempat, bahwa dengan menghargai hal kecil yang dilakukan sekeliling kita bisa membuatku sangat berbahagia. Bahkan di antar suami berbelanja ke pasar tradisional aja sudah bisa membuat aku merasa bersyukur bahagia, karena tidak banyak pria yang mau ikut ke pasar menunggu istrinya tawar menawar ikan & sayuran sambil menggendong anak .

Kebahagiaan di dalam rumah di mulai ketika aku sebagai perempuan tetap bisa menjadi diri sendiri & tahu apa yang membuat diriku bisa bahagia terlebih dahulu. Saya pikir bagaimana kita bisa membahagiakan anak dan pasangan ketika diri sendiri saja belum bahagia.

Jadi, saat itu aku tegaskan pada temanku bahwa standar kebahagiaan aku dan dia berbeda. Beda  masa, beda tempa’an, beda jalan ceritanya dan beda pula cara memaknai kebahagiaan, ia pun memahaminya. Kebahagiaan batin kurasakan adalah ketika aku bisa selalu bersyukur akan hal kecil baik enak atau tidak di hidupku, sebagai perempuan dengan penuh kesadaran diri bisa tetap menjadi diriku sendiri, tanpa terpengaruh pendapat orang lain.



EM

No Comments Yet.