Benarkah Berat Badan Mempengaruhi Tanda Kebahagiaan Saya ?


Tuesday, 27 Aug 2019


Dulu Iya, tetapi setelah saya tahu letak kebahagiaan saya sekarang dan tahu bagaimana untuk lebih mencintai diri sendiri dulu,  Kini mau berbadan kurus atau gemuk buat saya sama saja, yang penting tetap sehat dan bisa merasa bahagia.

Kebahagiaan..

Saya selalu menganggap jika sudah mendapatkan sesuatu yang saya inginkan, saya sudah cukup bahagia. Jika saya selalu bersama dengan orang-orang yang saya sayang, saya sudah cukup bahagia Jika saya sudah mempunyai pasangan yang sesuai dengan kriteria, saya sudah cukup bahagia. Tetapi itu semua salah. Saya belum sepenuhnya bahagia?

Dulu saya juga kerap mengutamakan kebahagiaan orang lain dibandingkan dengan kebahagiaan diri sendiri. Sampai suatu hari, saya pernah mempunyai berat badan hanya 39 kg. Kurus sekali waktu itu untuk berat badan seusia saya, padahal saya selalu makan secara teratur. Bahkan sampai dikira orang saya punya penyakit yang berat. Ya karena terlalu sibuk dengan mewujudkan kebahagiaan orang lain, saya lupa dengan kebahagiaan saya sendiri.

Saya juga pernah iri dengan teman-teman saya sendiri bahkan dengan saudara-saudara saya pun, saya pernah merasa iri. Mengapa mereka dengan mudah mendapatkan pasangan sampai menikah? Mengapa mereka dengan mudah mendapatkan rejeki yang berlimpah, pekerjaan yang bagus, karir yang mapan ? Mengapa mereka dengan gampang bisa jalan-jalan keluar kota atau keluar negeri dengan mudah?

Ya itu semua pertanyaan-pertanyaan dari rasa iri saya melihat orang-orang sekitar lebih bahagia dari saya. Fokus saya hanya pada melihat luaran dari kebahagiaan orang lain dan mengesampingkan apa yang saya miliki pada hari itu. Pernah saya meniru gaya mereka, tetapi dengan saya melakukan seperti itu, saya bukannya bahagia malah semakin hampa hati saya dan merasa bukan jadi diri sendiri. Bahkan berat badan saya pun tidak kunjung naik saat itu, malah makin turun.hiihii.

Pada akhirnya saya menyadari cara saya mencari kebahagiaan itu salah. Saya melakukan introspeksi diri dari apa yang salah selama ini. Mengenal diri saya sendiri tentunya. Ya ternyata saya belum kenal siapa saya sebenarnya dan dalam perenungan diri, saya baru sadar bahwa Saya kurang bersyukur selama ini.

Saya sadar awal dari kebahagiaan diri adalah dengan perbanyak rasa syukur dengan apa yang saya punya. Ya saya jalani itu, bersyukur setiap hari (meski pulang kerja naik bus pulang pergi saya bersyukur masih bisa bekerja padahal banyak rekan saya yang belum memiliki pekerjaan seperti saya, bersyukur meski saya single artinya Tuhan masih ingin melihat saya berbahagia dengan lebih banyak mengenal diri saya dan memberi saya kesempatan untuk menjadi sekedar teman curhat beberapa rekan saya yang sudah menikah). Setidaknya saya bisa menjadi manfaat buat memberi teman-teman saya tersebut masukan yang positif dan membangun di tengah prahara rumah tangganya.

Apakah ini membuat saya jadi takut menikah? Tentunya tidak, di percaya menjadi tempat curhat teman-teman dekat saya yang sudah menikah bukan malah menjadikan saya takut atau jadi nggak semangat untuk menikah, saya anggap semua ini adalah jalan Tuhan untuk mengukuhkan dan memantaskan diri saya nantinya agar bisa belajar dan memetik himah dari pengalaman pernikahan dan hubungan percintaan orang lain. Ambil dan aplikasikan pelajaran yang baik dari kisah mereka, dan jadikan pelajaran dari kesalahan/kekeliruan dari cerita mereka. Saya menemukan kebahagiaan saya dengan bisa di percaya menjadi teman curhat mereka sehingga saya berpikir bahwa ternyata saya seharusnya bersyukur di saat single ini banyak mendapat pembelajaran hidup dari pengalaman teman-teman saya. Semakin bahagia ketika saya di perkenalkan dengan Komunitas Urban Women oleh teman SMA saya, dari situ saya semakin yakin bahwa tidak ada yang kebetulan di dunia ini. Semua ada alasannya, jadi buat apa saya harus merasa iri dan tidak bahagia dengan diri saya sedangkan kesempatan mencintai diri sendiri lebih banyak ketika saya masih single sekarang.

Disinilah Kebahagiaan kuciptakan dan kurasakan

Dari pengalaman itu saya jadi sering bersyukur, entah kenapa perlahan saya pun mengubah pola pikiran menjadi positif. Arti kata tidak memikirkan hal-hal yang tidak berguna. Karena saya selalu memikirkan hal-hal yang sebenarnya tidak penting. Ibu saya pernah berkata "jika ingin mempunyai badan yang gemuk, kurangi pikiran yang berat dan bebaskan hati" bisa dibilang, pikiran dan hati harus selalu menyatu.

Saat ini, saya selalu membahagiakan diri sendiri terlebih dahulu kemudian baru membahagiakan orang sekitar, orangtua, keluarga dan calon pasangan heehee. Ya karena saya juga tidak ingin mempunyai berat badan yang kurus terus, kurus nggak apa-apa selama saya sehat.

Sejak saat itu fokus saya tidak lagi mendengar kata orang, kalau badan kurus katanya nggak bahagia, berbadan gemuk sudah pasti bahagia? Saya katakan, belum tentu karena walaupun kurus secara penampilan tetapi yang penting sehat & merasa bahagia jiwa raga, hati dan pikiran merasa lebih tenang, itu yang saya rasakan hingga hari ini.

Saya melakukan hal-hal yang positif. Seperti berdamai dengan diri sendiri dengan cara memperbaiki hubungan dengan Tuhan, melakukan hobi bersepeda yang saya sukai yang dulu sempat terhambat karena sibuk mengurus membahagiakan orang lain (orangtua, sahabat,  calon pasangan dan lainnya), serta banyak hal lain yang saya lakukan, yang sebelumnya saya sempat kesampingkan (membeli baju, sepatu dan lipstick kesukaan saya, jalan-jalan ke luar kota, isa mengikuti kajian spritual  yang mampu menenangkan batin saya meski sendirian dan ikut komunitas pertemuan Urban Women setiap bulannya.   

Di situlah kebahagiaan saya tercipta secara otomatis. Perasaan iri, sentimen/asumsi negatif yang dulu sempat mengganggu pikiran saya sirna dengan sendirinya. Mungkin inilah hasil kebahagiaan dari rasa syukur & prioritas pada hidup saya sendiri dulu. Setelah saya melakukan hal-hal tersebut berat badan pun ikut naik menjadi 46 kg heehee....

Mungkin sebagian orang melihat timbangan naik hal yang biasa saja, bahkan terlihat stress. Tetapi, bagi saya itu hal yang membahagiakan saat itu. Karena, jika berat badan saya naik, berarti hati saya saat itu sedang tenang. Arti kata pikiran dan hati saya sudah mulai menyatu (ini versi saya).

Ketika pikiran saya lebih dominan positif, hati saya merasa tenang, stabil, sudah mengenal dan mencintai diri saya lebih banyak disinilah fase saya memantaskan dan memantapkan diri untuk membuat hubungan yang serius di kabulkan Tuhan, rencananya bulan September tahun ini saya akan melangsungkan pernikahan, Ya, siapa sangka saya akan di pinang oleh sahabat lama. Heehee..kita memang nggak akan pernah tahu akan berjodoh dengan siapa, namun kita bisa memantaskan diri dengan lebih dulu mencintai dan memprioritaskan diri kita yang akhirnya membawa kita di pertemukan dengan seseorang di waktu dan cara yang tepat dan benar, dan saya membuktikannya sendiri.

Saya percaya, Kebahagiaan itu bukan datang dari orang atau bahkan dari hal-hal lainnya diluar sana. Tetapi kebahagiaan itu datangnya dari diri sendiri. Pribadi kita sendiri yang menciptakan datangnya kebahagiaan. Jika ingin bahagia, jauhi rasa iri hati, asumsi negatif/buruk dan tindakan berpikir berlebihan terhadap segala sesuatu. Jalani, Sadari, Syukuri itu yang kini saya lakukan. Saya sadar diri, ketika terlalu banyak saya berpikir/berprasangka begitu saya nggak pernah merasakan kebahagiaan batin.

Selalu bersyukur dengan apa yang kita punya dan yang kita lakukan, karena itu suatu hal yang tak ternilai, dan selalu percaya, apabila kita sudah merasa bahagia, maka bahagia kita itu akan menular kepada orang-orang sekitar kita.

Penulis : Nia Nurul Rachmi



Mia

No Comments Yet.