Bahagia Dengan Benar, Bukan Berpura-pura Bahagia


Tuesday, 13 Aug 2019


Dimana kebahagiaanku…?

Dulu, ketika aku masih tinggal di kampung halaman & belum bekerja aku sering iri melihat teman-temanku punya keluarga yang hangat, mereka ngobrol, berbagi banyak hal dan tertawa bersama-sama, keluarga yang bahagia, sesuatu yang tidak pernah ku miliki. Karena memang keluargaku Ayah dan Ibu memiliki hubungan yang bisa di bilang kurang baik.

Bahkan dulu aku sampai melakukan cara lain untuk bisa merasakan hal yang sama seperti  teman-temanku, aku selalu membangun hubungan yang baik dengan mereka & keluarganya, karena aku mencari kehangatan keluarga yang tidak aku dapatkan dari kedua orangtuaku. Setiap kali habis main di rumah teman-tamanku, tentu aku merasakan apa yang selalu aku inginkan yaitu perasaan bahagia, merasa disayang dan di pedulikan orangtua, namun sayangnya ketika kembali ke rumah hal itu malah membuatku semakin sedih dan terus membandingkan kebahagiaan diri sendiri dengan orang lain. Mengapa orangtua yang lain mereka bisa begitu sangat peduli pada anak-anaknya, mengapa orangtuaku tidak demikian, mereka terlalu sibuk dengan urusan dan masalah mereka sendiri.

Hingga  aku mencari cara lain untuk mengalihkan pikiran tentang orangtuaku dan berharap aku bisa bahagia, seperti nongkrong dengan kawan-kawan, baik hanya sekedar ngobrol hingga lupa waktu, keliling kota naik motor hingga pagi, menyibukkan diri dengan kegiatan organisasi kampus, travelling, camping di gunung atau di pantai semuanya hanya untuk bisa melupakan hal-hal yang membuatku sedih, kesal dan iri serta untuk merasa bahagia (sementara saja) tentunya. Di cerita ini aku bukan ingin membagikan kehidupan orangtuaku melainkan tentang pembelajaran dan makna kebahagiaan yang pada akhirnya aku ciptakan dan temukan sendiri.

Bahkan aku sempat mencoba menjalin hubungan percintaan dengan pria dengan harapan setidaknya aku bisa berbahagia dengan cowok tersebut sebagai tumpuan hidup (maksudku jadi teman untuk berkeluh kesah, berbagi cerita, melakukan hal bareng-bareng, sayang dan peduli sama aku) walau pada kenyataaanya saat di jalani masih belum sesuai harapan (yaaa.. mungkin aku yang keliru, terlalu banyak ekspektasi dan mementingkan hubungan tersebut sesuai dengan tujuan/harapan pribadiku saja saat itu karena kegalauan sama permasalahan hidupku)

Sampai aku menemukan satu buku yang sangat terkenal, dari sana aku belajar banyak hal. (Satu dari sekian banyak yang ku dapat dari buku itu yang hingga hari ini aku terapkan kalimat inilah yang membuatku up “saat bangun pagi jangan lupa untuk melihat ke arah jendela lalu berterima kasih pada Tuhan karena masih diberi kesempatan untuk bernapas  dan melihat matahari”), kedekatan dengan Tuhan, lingkungan pendididikan juga sangat membantuku mengubah pola pikir. Awalnya memang semua dimulai dengan teori dari quotes-quotes  di buku yang ku baca dan quotes orang terkenal yang memang isinya lebih kepada ajakan atau motivasi dukungan untuk move on. Lalu dari quotes tersebut kemudian aku belajar menerapkannya pada diriku sendiri dan menggabungkannya dengan pengalaman-pengalaman yang sedang & telah aku lewati, dari sana aku belajar untuk selalu melihat sisi positif dari setiap kejadian. Sampai pada titik tertentu aku menyadari bahwa untuk bisa berada pada kondisi nyaman yang saat ini kurasakan, aku harus melalui semua peristiwa itu, jika tidak aku tidak berada disini sekarang.

Singkat cerita aku memilih meninggalkan kota kelahiran dan hidup terpisah dari keluargaku, bukan untuk menghindari mereka atau masalah yang belum selesai. Ini kulakukan sebagai bentuk rasa sayangku pada orangtua agar mereka juga belajar menghargai keberadaan anak-anaknya ketika sedang tidak berada di sisi mereka. Dengan perginya aku merantau ke kota lain, terpisah dari keluarga menyadarkan ku, bahwa aku berhak memberi ruang untuk diri sendiri bertumbuh dengan versi terbaikku, membantuku berdamai dengan masa lalu dan menciptakan bahagia versiku sendiri, semata-mata ini demi kebaikanku sendiri.

Di kota perantauan ini, aku pun mendapatkan tawaran pekerjaan yang memang sesuai dengan passionku. Meski tidak ada sanak keluarga di sini, namun banyak teman-teman satu kampung yang juga bekerja di sini, akupun mendapatkan energi  kebahagiaan lain dari teman-teman baru yang aku kenal di kota ini.

Bidang pekerjaan yang aku tekuni pun membuatku banyak belajar, mulai dari mensyukuri hidup yang sedang kujalani ternyata aku menemukan banyak yang kisah hidupnya lebih berat dari kisahku tetapi mereka masih bisa berbahagia dengan diri dan hidup mereka sendiri, aku belajar dari orang-orang yang kutemui tentang menghargai hal-hal kecil yang ku miliki, Sejak tinggal di kota ini aku pun jadi bisa melakukan hal-hal yang ku cintai- self-love- (pekerjaan dan hobi), pun sejak saat itu aku tidak lagi terlalu memikirkan omongan orang lain dan sudah tidak lagi melihat kebahagiaanku dari standar kebahagiaan orang lain (teman-temanku).

Ternyata benar lho, kebahagiaan batin itu aku sendiri yang menciptakan. Selain itu sejak bekerja di kota ini, aku jadi lebih dekat dengan Tuhan (Sejujurnya dulu itu aku beribadah hanya untuk menggugurkan tanggung jawab dan sesuai mood saja) Kini, aku selalu menjaga hubungan baik dengan Tuhan karena dari sana ada perasaan damai dan merasa seimbang hidupku, itu penting untuk menjaga pola pikirku agar tetap sehat & positif.

Dulu saat masih di kampung aku selalu menjadi tempat curhat tapi tidak begitu bisa membantu mereka karena aku sibuk membandingkan diriku dengan mereka & fokus pada masalah yang aku alami (dulu aku merasa orang paling tidak bahagia hidupnya di antara yang lain). Nyatanya aku keliru, karena ketika aku bekerja di rantau ini, aku malah bisa berbahagia mendengarkan keluh kesah orang lain dan bisa terjun langsung membantu mereka (pekerjaan yang kini aku geluti berkaitan dengan membantu orang lain), melihat mereka menangis, seraya bahagia ku rasakan ketika melihat mereka bisa kembali tersenyum karena mereka merasa aku telah membantunya memberikan pandangan, semangat dan dukungan positif tentang kehidupan yang saat itu sedang mereka jalani.  Sekarang aku sadar ketika aku bisa, apapun yang aku jalani sekarang adalah buah hasil pilihan dan usahaku sendiri.

Ini yang aku pelajari dari pengalaman demi pengalamanku tersebut yang uraian ceritanya sudah aku ulas di atas  :

1. Ketika kebahagiaan diri kupertanyakan, Aku jadi belajar untuk lebih banyak bersyukur dengan kondisiku hari ini. Karena dengan bersyukur pada hal-hal kecil yang aku rasakan dan miliki (seperti masih bisa beribadah tanpa gangguan, masih bisa tertawa dengan teman-teman sebagai tanda bahwa aku masih hidup, aku patut berbahagia akan hal kecil itu untuk menerima kebahagiaan lainnya dalam hidupku).

2. Kebahagiaan itu dari pola pikir diriku sendiri, dengan tidak membiarkan omongan orang lain mempengaruhiku. Karena yang aku rasakan dulu semakin terpengaruh omongan orang semakin aku merasa hidupku banyak kurangnya jadi nggak pernah merasa bahagia.

 

3. Tidak menjadikan sebuah hubungan percintaan sebagai pelarian untuk menghindari masalah pribadiku. Dari pengalamanku sebelumnya tersebut, Aku akan belajar lebih menghargai sebuah hubungan yang kujalani dengan pasanganku suatu hari nanti. Untuk saat ini aku belum fokus untuk memiliki pasangan karena aku tahu, aku masih dalam tahap proses bertumbuh untuk menjadi diriku yang lebih baik dari sebelumnya. Aku biarkan semua berjalan sebagaimana mestinya, hidup adalah proses belajar seumur hidup. Aku sekarang selalu yakin dengan pilihan hidupku sendiri & lebih mencintai diri sendiri dari sebelumnya.

 

4. Berjarak dengan orang yang seharusnya paling dekat dengan kita (dalam ceritaku ini adalah orangtua) sejujurnya ini adalah satu dari kebahagiaanku.  Kenapa kok jauh dari orangtua malah bahagia ? karena dengan hidup berjauhan & mandiri ini saya dan orangtua jadi memiliki ruang, setidaknya untuk bertegur sapa meski hanya lewat telepon atau video call.

 

Bagiku sekarang kebahagiaan itu adalah sudut pandang, tentang bagaimana aku mampu untuk selalu melihat sisi positif terhadap segala hal, kini aku tidak lagi memberikan tanggung jawab kebahagiaanku kepada orang lain termasuk pada orangtua, teman dan laki-laki, melainkan aku menciptakannya sendiri dengan cara selalu bersyukur dengan apa yang aku alami dan miliki hari ini, detik ini.  Kini yang tertanam olehku setiap bangun di pagi hari adalah Aku bersyukur, aku masih di beri kehidupan oleh Tuhan dan aku berbahagia atas itu dengan cara semangat beraktivitas agar menjadi manfaat untuk orang sekitarku dan diriku sendiri.



Fitri

No Comments Yet.