Bad Boy Dari Kacamata Lelaki


Tuesday, 30 Jul 2019


Pada tema kali ini saya berkesempatan mengobrol dengan seorang teman pria saya sebut saja namanya ‘Dicky (Bukan nama sebenarnya). Dicky (30th) bekerja sebagai Sales Promotion Boy (SPB) salah satu toko busana terkenal, di salah satu pusat perbelanjaan di kawasan Senayan. Dicky yang saat ini sudah menikah dan memiliki 2 orang putra ini mengaku bahwa dulu ia pun pernah mendapat julukan ‘cowok yang pandai “spik spik” doang (Bad Boy)’.

Simak petikan ngobrol-ngobrol saya dengan Dicky untuk Urban Women.

Apa pandangan Dicky sebagai cowok tentang julukan Bad Boy, yang di sukai perempuan namun di beberapa kasus kerap sulit bertanggung jawab dan berkomitmen ?

Wajar ya kalau buat saya yang cowok haahaa...karena saya kan dulu juga pernah ada di jaman yang masih belum bisa serius itu, pengennya macarin 2,3 orang dalam satu waktu.

Sekarang saya sudah tahu yang baik dan buruknya, Beberapa cowok seperti saya dulu sampai di cap bad boy di jamannya mungkin ada alasan tersendiri kenapa dulu saya belum mau punya hubungan serius, bukan berarti saya belum mau bertanggung jawab melainkan karena mungkin mereka ada di fase ‘tahu diri’ belum cukup waktunya untuk memastikan hubungan itu”.

Nggak bisa di ketok rata juga sih bahwa semua cowok yang mulutnya bisa manis-manis aja adalah ‘bad boy’ bahkan banyak juga kok yang memang mulutnya manis namun mereka setelah benar-benar menemukan the real women versi mereka, yang mereka idamkan untuk dinikahi, pada akhirnya memilih memiliki hubungan yang serius & menikah dengan pasangan-pasangan mereka.

Ceritakan dong pada Urban Women pengalaman kamu hingga sempat di juluki Bad Boy oleh mantan pacar kamu terdahulu ?

Bagi saya, cowok tuh memang pada dasarnya sebelum ia memilih memiliki hubungan yang serius ia terus mencoba dan berburu (karena memang kalau karakter saya berdasarkan bintang kelahiran saya pun memang saya kaya begitu). Saya dulu sebelum menikah memang senang gonta ganti pacar, Karena saya belum menemukan yang memang bisa mengambil hati saya saat itu.

Dan juga Pertama karena di jaman dulu itu saya masih pingin nyoba dan kenal lebih banyak karakter cewek. Kedua karena lingkungan pertemanan saya yang cowok-cowok ya sama aja kaya cewek kalau lagi ngumpul-ngumpul gitu kita bahas bukan cuma hobi, tugas kuliah/kerjaan doang atau ngomongin film tetapi kita bahas cewek ataupun gebetan masing-masing baik yang beneran pacar dan yang bukan.

Mereka menjuluki saya Bad Boy karena katanya saya manis berkata-kata di awal (pinter spik-spik aja), tetapi gak bisa berkomitmen. Sebagai cowok saya tahu diri lah kerja belum benar saat itu masa iya mau seriusin anak orang ke jenjang pernikahan. Apalagi saat itu saya pikir saya masih cukup muda, buat apa terikat hanya membuat pusing kepala apalagi masih banyak cewek yang mau mencukupi saya TANPA saya minta saat itu (kalau diingat lagi kayanya jahat banget sih).

Ini dulu sempat saya pikirin juga, Perempuan sebenarnya sadar nggak sih kalau mereka berlebihan dalam memperlakukan laki-laki ? Kalau nggak saya yang nolak pasti mereka bisa sampai membelikan saya motor lho dengan tabungan mereka, tapi saat itu saya masih punya kesadaran diri, saya pikir sebejad-bejadnya saya, saya nggak mau sampai memelintir uang anak orang yang mereka juga boleh mengumpulkan sendiri dari hasil kerjanya. Yaa, paling banter saya di belikan hp dan sepatu baru saat itu, saya terima aja haahaa,,, meskipun memang belum bisa saya seriusin karena itu cewek masih mementingkan hubungan daripada dirinya sendiri.

Saya tahu itu tapi dulu saya memang belum mau banyak bicara karena yaa, saya pikir mereka harusnya sudah tahu dan mengenal diri dan kurangnya mereka, ini masih tahap pacaran saya belum mau terbebani dengan banyak ngatur mereka, karena saya juga nggak mau saat itu banyak di atur yang suka nggak jelas alasannya ‘takut kehilangan lah, takut saya main perempuan lagi lah, takut saya nggak beneran serius lah’ dan hal lainnya.

Saya itu tipenya kalau di bilangin sekali cukup (nggak tahu ya kalau cowok lain gimana), di kasih tahu sekali saya sudah pasti memikirkannya, biarpun nggak saya iya'in di depan pacar saya tetapi kalau alasan mereka menurut saya tepat dan baik (buat diri) saya pasti kerjakan dengan catatan juga mereka pun tidak berlebihan dalam memperlakukan saya. Tidak berlebihan dalam artian nggak banyak ngelarang-larang padahal mereka sendiri belum bisa mengenal kelemahan diri mereka, selalu pinginnya memberikan saya materi yang saya butuhkan atau pun nggak.

Lalu ketika mereka mulai banyak ngelarang-larang saya dan selalu meminta saya absen sebelum tidur, sebelum makan dan mulai fokusnya sama semua yang saya sedang kerjakan, udah deh saya kadang dari situ suka mulai hilang respect. Kenapa hilang respect ? karena mereka seakan-akan nggak bisa menikmati hidup mereka sendiri hingga saya saat itu mikirnya mereka yang nggak punya kehidupan, lantas kenapa mereka jadi mengusik kehidupan saya. Lagi-lagi yang saya lakukan sebagai seorang cowok yang merasa belum pasti hubungan itu pun saya tarik ulur.

Saya yang  saat itu masih senang pergi nongkrong malam hari bareng teman-teman, lalu pacar saya selalu minta ikut atau kalau saya larang pacar saya ikut dan minta izin saya buat pergi eh malah dia ngancem-ngancem bakal begini begitu kalau saya pergi, saya pikir-pikir kok ribet banget ya padahal saya saja menjalin hubungan dengan mereka nggak banyak melarang, kalau itu berkaitan dengan hal-hal yang membuat mereka bahagia. Lagipula ini masih tahap berpacaran saat itu, belum nikah aja kaya begitu, gimana kalau nikah dengan mereka pasti akan lebih banyak drama pikir saya saat itu.

Yaa, saya hanya cukup bisa bilang terserah mau ngapain juga tetapi intinya saya bilang ke pacar saya saat itu, saya nggak ngapa-ngapain, nggak macem-macem abis kelar main saya pasti bakal pulang. Saat pacaran saya paling nggak mau perempuan banyak melarang-larang dengan alasan yang kurang jelas yang mereka lontarkan. Ujung-ujungnya yaa,  kalau nggak saya putusin, ya mereka yang memutuskan hubungan dengan saya.

Mau jalan kesini salah kesitu salah, jujur salah (seringnya nggak diijinin dengan alasan kurang masuk akal saya sebagai laki-laki), padahal saya tahu sebenarnya mereka begini karena takut saya selingkuhin, takut saya berpaling ke orang lain, kalau mereka coba percayakan aja saya saat itu, bukan cuekin tetapi lebih kepada mempercayakan saja dulu dan tidak usah takut saya pergi toh saat itu di pikiran saya kita masih sama-sama tahap pencarian. Setelah banyak bertemu dan menjalin hubungan dengan beberapa orang perempuan saya yang jadinya berpikir lagi, mungkin memang naluri perempuan yang lembut membuat mereka merasakan sensasi sendiri takut kehilangan, padahal belum tentu apa yang mereka pikirkan terjadi.

Malah kenyataanya semakin mereka takut kehilangan, tidak percaya dan membatasi kehidupan saya atas nama cinta, saya malah makin membuka hubungan baru dengan cewek lain. ini masa lalu ya kedengerannya jahat tetapi dari masa lalu ini lah saya banyak menemukan pemikiran-pemikiran yang akhirnya membuat saya berubah.

Dulu pernah juga saya punya mantan pacar, sampai saya bingung dia yang mutusin saya dan dia yang minta balikan ke saya lagi lalu membuat semua seolah-olah saya pacaran dengan dia lagi padahal diri dia sendiri yang meminta saya jadi pacarnya lagi.  Saya mengajaknya menjadi teman saya saja dulu takutnya ia kecewa lagi kan sama saya, tetapi ia malah minta saya jadi ‘teman tapi mesra’ aja katanya , yaa, sudah saat itu saya coba meladeni.

Eh giliran saya punya pacar lagi, dia juga yang marah-marah sama saya dan pacar baru saya. Nah ini kadang perempuan juga harus tahu posisi dirinya sendiri, dia maunya apa harusnya mereka tahu, jadi jangan menuntut pria  musti begini begitu dulu sebelum melihat dirinya sendiri, sedangkan diri mereka belum benar-benar paham betul kelemahannya, kelebihannya dan kebutuhan diri mereka. Saya nggak tahu apakah cowok lain berpikirannya seperti saya atau nggak, yang jelas teman-teman saya pun sepemahaman dengan saya tentang hal ini.

Sebagai laki-laki sebenarnya tahu nggak sih jika sebagian perempuan itu memang nalurinya butuh kepastian dalam sebuah hubungan ?

Kalau jawaban jujur saya, Iya saya tahu itu. Tetapi masa iya saat itu saya musti pastin semua pacar-pacar saya, yaa, kan seperti yang saya katakan di awal ketika laki-laki masih berburu berarti mereka masih belum menemukan sisi pas perempuannya untuk di jadikan partner hidup buat di nikahin.

Nggak tahu ya kalau perempuan ada berpikir begitu atau tidak, tetapi yang jelas mau dia bad boy atau bukan, laki-laki sebenarnya pingin perempuan yang mau di bimbing dan membimbing (tetapi membimbing dalam hal-hal yang memang masuk akal mereka). Seperti misalnya saat ngelarang keluar malam kasih tahu alasannya dengan jelas bilang aja terus terang takut cowoknya sakit, badannya kurang sehat kalau mau begadang mending minum obat dulu, jadi pakai bentuk-bentuk larangan tapi di bungkus dengan perhatian yang lembut, yang bikin cowok susah lupa hahaaaa... kalau saya sebagai cowok sampai mikir begini ‘gile, gw mau keluar malam bukan di larang malah di suruh tetapi dia perhatian banget malah ngasih obat penambah stamina & imunitas biar nggak gampang sakit karena udara di malam hari memang bikin mudah sakit, karena memang dia sudah tahu saya orangnya mudah sakit’.

Inilah salah satu dari banyak alasan saya menikahi perempuan yang sekarang jadi istri saya. Nggak dengan sewot, marah, cemburu tanpa alasan yang dia lakukan, melainkan dengan bentuk lain dari arahan itu sendiri, membuat saya malah hormat padanya dan mikir dua kali kalau sampai nongkrong di malam harinya kelamaan.

Pembelajaran Apa yang kamu dapatkan dari hubungan di masa lalu  dan kamu terapkan bersama pasanganmu saat ini ?

  1. Saya jadi belajar mengenal bahwa perempuan memang makhluk Istimewa yang di ciptakan Tuhan

Mengapa saya bilang Instimewa ? karena memang nggak bisa di nilai pakai materi, saya akui perempuan memang kuat secara mental, bahkan kalau saya pikir-pikir saya jadi mereka kayanya nggak sanggup lah bisa mengerjakan segala hal bersamaan dengan sambil memikirkan hal lainnya, dan perempuan bisa seperti itu saya melihat istri saya dulu saat dia single pun pada saat dia sudah menikah, dia bisa mengerjakan skripsi kuliahnya sekaligus tetap memperhatikan saya, bahkan kita sempat putus hubungan tetapi ia tetap bisa mengendalikan dirinya saat sidang skripsi, mereka sejatinya kuat NAMUN beberapa ada yang merasa tidak kuat kalau menurut saya itu karena mereka belum mengenal dengan baik dirinya sendiri. Kelemahannya, kelebihannya.

Istri saya tahu kelemahannya yang sering dimanfaatkan orang lain termasuk cowok-cowok yang pernah dekat dengannya, termasuk saat itu saya sendiri haahaaa,,,, dia katanya termasuk orang yang terlalu lembut hatinya, jadi gampang banget di rayu sudah langsung takluk. Maka dia mengalihkan perasaan terlalu lembut/baper itu dengan cara beribadah (mendekatkan diri pada Tuhan biar tetap memiliki hati lembut namun tidak mudah di tipu daya dan selalu ia minta untuk di tunjukkan segala sesuatunya). Ia tidak berubah menjadi orang yang keras, ia tetap lembut sesuai dengan karakter dia namun, sikap orang lain dalam hal ini saya lah yang yang akhirnya berubah, saya yang tadinya di juluki Bad Boy bisa terambil hati olehnya, karena dia bisa mengarahkan saya. Haahaaaaa....

Sebenarnya bukan saya yang membentuk pasangan saya saat ini, tetapi pasangan saya  lah yang membentuk diri saya hingga menjadi sosok sekarang.  Terimakasih buat istri saya.

  1. Kejujuran dan tidak memenangkan ego saya sendiri itu penting. Sejak di pertemukan dengan perempuan yang sekarang menjadi pasangan saya. Saya jadi memahami kalau ternyata selama menjalin hubungan sama mantan-mantan pacar saya terdahulu masih ada banyak hal yang nggak saya buka (saya nggak jujur) tentang diri & kehidupan saya pada mereka. Saya hanya mementingkan apa yang menguntungkan saya saja, tanpa peduli diri mereka. Dengan kalimat ‘yang penting gw perhatian sama lu itu udah cukup’.

Padahal bukan cuma perhatian, perempuan butuh kejujuran dan saya sadari bahwa saya memang dari dulu senangnya di layani tanpa saya tahu apa yang menjadi kebutuhan dia. Pasangan saya lah yang memperlihatkan sosok untuk tetap tenang sabar menghadapi saya yang sering kali ingin menang sendiri dan cari keuntungan buat diri saya sendiri.  Kalau pacar saya terdahulu selalu fokus pada maunya saya, buat menyenangkan saya aja dan mengabaikan diri mereka sendiri, lalu ketika saya bertemu dengan pasangan saya sekarang dia malah cepat mengambil keputusan, bukan karena menyenangkan saya tetapi ia tahu kesenangan dia juga kesenangan saya dan dia bisa melihat hal kecil yang nggak saya sampai pikirkan dia sudah pikirkan salah satu contohnya ya saat saya masih pingin keluar malam ia nggak bahkan tidak melarang, malah di dukung dengan memberi obat imunitas agar saya nggak gampang sakit. Yang akhirnya saya jadi hormat dengan cara dia yang seperhatian itu sampai hal kecil saja ia pikirkan untuk saya. Saya jadi malu sendiri & mikir lagi untuk mau bersikap egois, karena dia saja sudah baik dengan diri saya.

ia jujur mengenai apapun yang ia rasakan pada diri saya, nggak muter-muter ketika dia cemburu ia mengatakan terus terang bahwa ia cemburu dengan banyaknya mantan pacar saya haahaaa...... dan banyak kejujuran-kejujuran lainnya yang ia contohkan pada saya, lalu pada akhirnya membuat saya malu untuk tidak jujur padanya.

  1. Belajar untuk tidak dengan mudah menarik ulur hubungan & bertanggungjawab dengan ucapan.

Ketika seorang pria sudah bisa menjadi sosok yang bertanggungjawab pada dirinya sendiri berarti ada sosok yang ia tiru. Bagi saya pasangan saya adalah cermin. Saya bisa seperti ini karena ia yang dengan kesabarannya membentuk diri saya. Dia pernah bilang jika pun nggak jadi dengan saya, ia tidak akan terlalu kecewa, karena setidaknya dari sini saya akan banyak menemukan pembelajaran hidup katanya. Waaahhh... ini nih yang membuat saya akhirnya memutuskan untuk melamarnya akhir Desember 2010 lalu dan sudah memberikan saya 2 buah hati yang sangat menyejukkan hati.

Berdasarkan pengalaman dari Dicky untuk Urbanesse ‘berjalan lah beriringan dengan priamu yang memang kamu rasakan membawa kebaikan untuk dirimu & berhenti hanya fokus untuk menyenangkan diri dia aja hingga mengabaikan dirimu sendiri, mulailah dulu dengan membuat hidupmu lebih bahagia MAKA pria yang jadi pasanganmu pun merasa bangga memiliki perempuan yang sudah bisa bahagia dan menata diri & kehidupannya dengan baik. Otomatis diri si pria pun akan merasa nyaman berada di pangkuan perempuan yang sudah mengenal dan berbahagia dengan dirinya sendiri”.

 



EM

No Comments Yet.