Bad Boy Bad Luck


Thursday, 25 Jul 2019


Beberapa tahun yang lalu saya bertemu seorang laki-laki dari Singapura bernama Rico (bukan nama sebenarnya). Rico itu ganteng, badannya besar, tinggi, serta suaranya lembut dan kalem. Walaupun kita jauh, kita tetap berkomunikasi yah karena dia ganteng, lembut, tidak genit, serta sopan (asumsi saya tidak genit itu karena tata bicaranya sopan ketika berbicara dengan saya via telepon). Lalu setelah kenal 2-3 bulan dia mengajak saya untuk pacaran karena dia bilang walau baru kenal, dirinyamerasa cocok sekali dan dia jarang banget suka atau cocok dengan wanita. 

Dia lebih memilih hidup lajang yang lebih bebas tanpa tuntutan dan tanggung jawab daripada mempunyai hubungan dengan wanita yang dia tidak benar cintai dan dia bilang dia hanya mencintai 1 wanita diumur 18 tahun dan satu lagi diumur 35 tahun. Saya mau jadi pacarnya saat itu, karena menurut saya untung bisa dapat yang cakep, lembut, dan tidak kegenitan, buktinya sampai umur 37 tahun hanya punya 2 hubungan serius. Selain itu dia pekerja keras sekali karena waktu untuk berbicara dgn saya jarang sekali. Hanya sesekali WA. Dia bilang krn kalau kerja dia harus fokus tanpa ada gangguan. Dia juga bilang dia sedang menabung uang untuk membeli rumah di Amerika dan uangnya sebentar lagi cukup. Maka dia infokan akhir tahun dia berencana untuk pindah ke LA beli rumah dan tinggal disana.

Setelah pacaran beberapa minggu dia tiba-tiba dalam suatu pembicaraan ditelepon mengatakan bahwa dia sedang di kejar lintah darat. Padahal dulu dia sudah bayar hutang tapi sepertinya lintah daratnya serakah dan terus mencari dia. Uang dia semua sedang terikat dalam bentuk asset yang tidak bisa langsung dicairkan. Jadi akhirnya saya pinjamkan 200 juta guna menghentikan kejaran lintah darat tersebut. Walau 200 juta tidak kecil tapi saya yakin dia akan membayar balik karenakan sebentar lagi dia mau membeli rumah di LA itu kan harganya puluhan milyar? Selain itu 200 juta itu juga uang deposito yang bisa dicairkan. Bukan seperti asset-asset dia yang jatuh temponya masih lama.

Rico itu orangnya sangat romantis dan lembut. Cuma sayangnya itu, sibuk, jarang ada waktu untuk WA panjang apalagi telepon. Dan saking serius dalam hidup dia pagi pun tidak bisa WA karena setelah bangun dia harus kerja dan berolahraga, kalau membalas WA dia akan terganggu. Ckckck .... olahraga saja sampai serius sekali!.

Pernah suatu kali dia video call saya di pagi hari jam7. Ternyata dia mabuk dan dia menginfokan dia pergi minum dari jam 2 malam sampai dini hari dan sudah menghabiskan 1 botol alkohol keras. Saya sedikit mulai galau. Kalau serius sekali dalam hidup kok bisa buang waktu begitu banyak, malam, dan mabuk lagi. Bukannya itu termasuk buang-buang waktu dan uang ya?Tapi saya menepis pikiran buruk dengan mengatakan ke diri saya “Ya sekali-kali ngga papalah, kan jarang ini”.

Mulai dari saat itu dia menjadi semakin romantis, tapi juga semakin sering menanyakan apakah bisa pinjam uang (dengan alasan-alasan yang membuat saya masuk akal) dan walau dia jarang kontak tapi sekali menghubungi suara dan kata-katanya lembut banget. Dia sering bilang bagaimana nanti kalau kita bertemu dia akan mau membahagiakan saya, mengurus saya, dan membayari liburan.  Cuma sekarang investasinya belum cair. Beberapa bulan lagi. Liburan pun saya tinggal pilh dimana.

Saya terharu ya dengan kata-kata dan tujuan dia, maka uang yang dia mau pinjam kedua kali saya kasih setengah yaitu 50juta. Alasannya ada satu investasi perlu dibayarkan cicilannya sekali lagi,  setelah itu hasilnya bisa dicairkan menjadi beberapa ratus juta sementara ada klien yang harus bayar malah mangkir . Ya sudahlah 50jt kan kecil dibanding uang yang akan cair. Lalu beberapa minggu lewat dia bilang uang tidak bisa cair  kalau  saya tidak kasih setengah lagi padahal setelah cair kita bisa bertemu dan jalan-jalan. Antara kasihan dan kesel ya sudahlah saya kasih yang setengah lagi.

Namun sialnya ternyata uangnya dicuri orang karena dia titipkan direkening orang lain(katanya). Jadi dana pun masih tidak bisa cair, uangpun hilang. Rencana bertemu pastinya mundur lagi.

Tiba-tiba dia ada masalah katanya dengan orang yang mencuri uangnya dan akan dilaporkan polisi dll. Karena dia takut maka Rico terbang ke Turki. Nah disini saya mulai bingung dan curiga. Kok ceritanya makin buruk dan makin mengada-ada. Kenapa harus ke Turki? Kalau dia yang ditipu kenapa dia yang keluar negeri? Dan saya sudah punya perasaan ini ujung-ujungnya akan pinjam uang lagi. 

Lalu dia bilang lagi kalau mau Desember aku pulang ke kampung halaman dia sekaligus kenalan dengan keluarga dan tunangan. Wuah saya kaget sekali, ketemu lagi saja belum tapi dia sudah yakin banget sama saya. Tapi untung saya sudah berpikir tidak mau lagi dipinjami uang .

Eh bener saja dia bilang di Turki dia baru bisa balik kalau membuka account tertentu yang biayanya 150 juta.  Dia bilang dia cuma beli tiket satu arah, dia terdampar, dan uang menipis. Saya tanya account yang kamu bilang dulu mau cair itu isinya uang berapa sih. Dia bilang oh awal saya taruh 400 juta. Sedangkan kan kemarin sudah ada masuk uang 150 juta. Nanti total yang cair dengan bunganya 600 juta. Saya jadi sadar, bohong dong ini kalau  bilang uang yang ada sudah hampir cukup beli rumah di amerika ? Isinya hanya 400 juta? Lalu kalau saya kasih pinjam 300 juta itu sudah banyak sekali loh kalau dibanding 400 juta yang dia punya.

Dan dia selalu mengingatkan, sedikit lagi kita bertemu, sedikit lagi kita liburanya bareng, dan sedikit lagi saya akan bertemu orangtua  dia untuk menikah.

Dan juga dia menunjukkan WA bisnis dia dengan seorang wanita, tapi bahasanya saling memanggil “Dear”. Ini bukan membuat saya bangga malah was was. Memang berbisnis memakai kata tersebut?

Akhirnya setiap minggu mengingatkan saya akan uang 150 juta itu dan betapa dia membutuhkan uang tersebut. Terlebih dia bilang kita sekarang sudah bersama, apa apa yang kita miliki punya Bersama. Saya bersyukur saya mempunyai otak yang cukup logis. Tetap saya tekankan bahwa saya tidak mau meminjamkan uang. Lebih baik dia bekerja di Turki sampai mendapat uang cukup. 

You know what?

Semua jalan dipakai. Mulai dari nangis-nangis, lalu menekan saya secara psikis untuk bantu dia, lalu mengiba. Belum lagi kata-kata manis juga di gas olehnya. Semua cara dilakukan untuk meluluhkan saya agar mau mentransfer uang 150 juta itu. Lalu saya konsultasi dengan teman pria saya dan ia mengatakan, jIka laki-laki mencintai wanita, dia tidak akan membebani wanitanya ketika dia dalam masalah. Dia akan berusaha terbaik dulu utuk menyelesaikan masalah tersebut. Bukan seoerti pacar kamu yang malah tamasya di Turki sambil setiap beberapa hari membahas tranferan uang  dari kamu. 

Saya banyak berdiam beberapa hari dan berpikir. Sepertinya harus saya sudahi hubungan ini karena walau dia banyak berkata “I love you”, “I only want to marry you”, “You are the love of my life”, mana buktinya? Adanya malah semua masalah hidupnya menjadi masalah saya. Saya pun sampai saat ini susah WA dan telepon padahal dia kan di Turki nganggur. Dan saya ingat-ingat lagi hidup saya sebelum bertemu dia. Tenang, ceria, dan baik-baik saja. Kalau sekarang sepertinya saya jadi sibuk mencek uang tabungan saya dan ketakutan uang kurang.

Saya juga percaya Tuhan Mahal Adil dan baik, jadi biarkan Tuhan yang membentuk dan mengurus dia, saya sudah membantu semampunya. Akhirnya saya bilang, lebih baik kita teman dulu, karena sepertinya masalah hidup kamu masih banyak. Pastinya kamu belum siap utk berpacaran serius apalagi berumah tangga karena keduanya butuh waktu, tenaga, kestabilan, dan juga uang. 

Dia sepertinya histeris, mungkin keadaan dia yang sekarang memang benar-benar terpuruk ya, sampai dia menelpon pagi siang malam berkali-kali. Tapi saya sudah membantu 300 juta. Uang dia hanya total 400 juta. Dan dia dalam masalah ini kan karena salah dia yang selalu mau berhubungan dengan tengkulak. Padahal saya sudah berkali-kali mengingatkan jangan.

Apakah semua kata-kata dia jujur? Saya rasa tidak juga. Tetapi kalau kali ini dia dalam masalah besar saya rasa ini ada benarnya. Cuma yah saya tidak bisa membantu lagi. Dia harus menjadi dewasa dan mau bekerja yang biasa-biasa saja ( bukan hanya yang uangnya langsung banyak – samapai harus berbisnis dengan tengkulak).  Mungkin ini juga jalan Tuhan mendewasakan dia.

Saya akhirnya belajar

Hidup kedepan saya jalani lagi seperti biasa, kembali ketika seperti saya belum bertemu dia. Tapi kali ini saya lebih menghargai teman-teman saya yang tulus. Mungkin mulut mereka tidak terlalu manis, malah kadang nyebelin hehehe tapi sekarang saya tahu tulus itu mahal.

 Nah kembali dari semua cerita saya diatas, saya dapat menyimpulkan bahwa ciri-ciri bad boy seperti pengalaman yang saya alami antara lain :

  1. Menarik (menurut diri kita)
  2. Mulut manis
  3. Romantis
  4. Banyak janji-janji indah untuk mengikat pengorbanan kita
  5. Tidak jelas keberadaannya dimana
  6. Tidak mudah dihubungi
  7. Bisa membuat kita merasa satu-satunya
  8. Pintar memanipulasi perasaan dan membolak balikkan fakta
  9. Mudah merekayasa cerita bohong yang masuk akal & meyakinkan
  10. Berambisi tinggi untuk menaikkan status dirinya sendiri

Cara mengetahui  apakah pacar kita bad boy apa tidak? Ini yang saya lakukan hingga akhirnya saya memilih melepaskannya :

  1. Cocokkan kata-kata dengan kenyataan. Sama atau tidak ?
  2. Jangan percaya ini itu yang tidak ada barangnya sebagai manapun realistis ceritanya, kita punya hak untuk mencari tahu dan meminta mereka membuktikannya.
  3. Kalaupun kita bantu uang seharusnya tidak berulang dan bahkan tidak pernah karena lelaki yang sudah memulai suatu hubungan pastinya sudah menyiapkan uang untuk hubungannya. Kalaupun belum biasanya pria yang benar ingin memiliki hubungan serius dengan kita, ia tidak akan mau merepotkan pacarnya, mereka akan berusaha dulu menyelesaikan urusannya.
  4. Jangan kita mau berkorban lebih untuk tujuan dan mimpi Bersama. Biarkan dia yang berkorban lebih BUKAN diri kita yang terus menerus berkorban lebih. Dia laki-laki, calon pelindung dan penafkah keluarga yang seharusnya bisa kita lihat tanggung jawabnya dari sikap dan kata-katanya harus sejalan bukan hanya pandai berkata-kata saja tanpa bukti.

 Berikut nih saya kutip contoh gaya Bahasa Rico pada diri saya :

I know in my life there will be blessings coming out of all these troubles

Still I choose you and I love you like I never loved anyone. I never spoke or cared for a woman since 18 years of my life and 8 years of living in Singapore.

You are gold.

You are beautiful

You are everything a man would want to have in a woman

And if I lose you I would not want to have any other girl in my life. I would wait for you no matter how long it takes.

Romantiskan? Hehehe ya makanya saya belajar lagi untuk tidak selalu mudah jatuh hanya karena romantika kata-kata. Well, uang ratusan juta yang pernah saya pinjamkan ke Rico sudah saya ikhlaskan saja, karena apa ? karena saya tidak mau terbebani lagi dengan masalah-masalah yang di buat Rico yang nantinya hanya membuang waktu dan energi yang saya miliki, yang seharusnya bisa saya gunakan dan kembangkan untuk aktivitas lainnya. Uang masih bisa di cari Ladies, jadi santai saja saya menjalaninya yang terpenting saya terselematkan dari hubungan yang tidak sehat & tidak membawa kebaikan untuk diri saya sendiri.

Bangun dan bertindak ya, kalau sudah sadar. Ketemu jodoh itu tidak selalu harus rela berpahit-pahit dulu di awal. Semestinya jodoh dari Tuhan itu segalanya di lancarkan  dan keduanya saling berjuang bukan hanya salah satu saja yang berjuang.

Semoga artikel saya ini dapat membantu Urbanesse lainnya yang mungkin saat ini sedang terjebak di dalam hubungan dengan pria bercirikan seperti pengalaman saya tersebut, semoga artikel pengalaman ini juga bisa menjadi alternatif untuk keluar dari hubungan dengan bad boys yang rasanya indah tapi merugikan secara psikis, fisik dan materi. 

 

 



Priscilla

No Comments Yet.