Apa Pandangan Kamu tentang Bad Boy?


Wednesday, 24 Jul 2019


Wah, bicara soal bad boys, yang saya ingat langsung pengalaman semasa SMA saja, karena saat sudah dewasa, saya serasa terprogram untuk mencari dan berpacaran dengan pria baik -baik hehee.. . 

Pengalaman saya, berhubungan dengan pria populer yang dikejar - kejar semua wanita itu ada hikmahnya. Saya jadi belajar umumnya mereka tampan, berpostur ideal, berprestasi (atau salah satunya), dan memang simpatik terhadap semua orang. Secara psikologis saya memahami bahwa mereka seringkali jadi incaran karena memang bisa memperlakukan wanita dengan baik. Tapi sayangnya, banyak juga yang tidak setia.. ya.. pastinya banyak juga yang setia, kan tergantung masing - masing orangnya, ya? Jadi sekali lagi, saya tidak pukul rata. 

Nah, di masa kuliah, saya pernah menjalin hubungan dengan pria macam ini.. Saya pikir dia tidak akan setia dengan saya, mengingat hubungan kami jarak jauh berbeda kota. Saya dengan gampangnya menyepelekan hubungan tersebut, hingga akhirnya kepincut pria lain. Eh, nggak tahunya dia tetap setia menanti saya, lho!. Saya sudah termakan pikiran negatif duluan kalau pacar saya saat itu bad boy karena saya pikir saat masih kuliah saja ia sudah beberapa kali pacaran, dan beberapa kali pula saya dapati ia dengan track recordnya cowok populer di kampus dengan banyak pacar.

Lalu ketika sebelum kelulusan ia menyatakan perasaanya pada saya, saya sudah berpikiran negatif duluan kalau nantinya juga dia nggak akan setia sama saya, lah sama mantan-mantannya yang satu kampus beda fakultas saja nggak terhitung, belum mantannya yang dari kampus di tempat lain heehee...Ternyata saya keliru saat itu melabelkan cowok tersebut sebagai ‘bad boy’ hanya karena dia tampan, postur tubuhnya ideal dan banyak mantan pacarnya. Padahal banyak mantan pacar belum tentu ia cowok yang tidak setia, sering selingkuh atau suka mempermainkan/PHP-in perempuanm banyak memang yang begitu yang saya temuin tetapi pasti ada juga yang setia dan saya seharusnya tidak melabelkan terburu-buru bahwa ia cowok seperti kebanyakan itu.

Tapi mungkin saat itu karena pacar saya masih belum menemukan perempuan yang betul-betul bisa mengisi kebutuhannya dan mengarahkan dia ke hal-hal yang membawa kebaikan maka ia masih sering berganti-ganti pacar. Dan pikiran negatif yang terjadi pada saya, juga karena beberapa kali saya memiliki hubungan yang kurang baik dengan bebberapa pria seperti pacara saya tersebut,  ini juga yang membuat saya tidak buru-buru percaya kalau dia bakal setia karena mengingat yang sudah-sudah. Seharusnya pikiran negatif, penghakiman tidak saya lakukan sebelum saya benar-benar mengenali karakternya.

Saat itu, karena tahu ia ternyata masih setia menunggu saya. Saya pun berkata jujur padanya bahwa saya telah memiliki cowok lain di kota saya dan memintanya untuk tidak menunggu saya karena saya tidak mau membuatnya kecewa. Bukannya ia marah, ia malah menyusul untuk bertemu ke kota tempat saya tinggal.

Sempat kaget, saat ia mendatangi saya ke kantor tempat saya bekerja. Lalu kami pun bertemu dan berbicara banyak hal. Ia mengatakan bahwa selama menjalin hubungan dengan beberapa perempuan, baru dengan saya ia bisa tercuri hatinya. Ia bilang saya nggak terlalu banyak menerornya dengan menanyakan kabar setiap waktu, menelpon setiap malam. Kata dia perhatian yang saya berikan porsinya nggak berlebihan tetapi cukup dan berkualitas. Memang saya itu dari dulu setiap kali punya pasangan nggak terlalu fokus pada hal-hal yang sebenenarnya cowok pun pasti tahu apa yang baik dan buruk untuk dia kerjakan. Saya tiap punya hubungan memang lebih kepada sekedar mengingatkan tetapi nggak mau memaksa mereka untuk melakukan hal yang sama seperti yang saya lakukan pada mereka.

Misalnya waktu itu ia bilang pada saya lewat telepon kalau ia sempat di diagnosa sakit paru-paru, karena kami LDR-an saya cukup mmberikan dia perhatian layaknya seorang adik ke kakaknya (meski kami pacaran) tetapi saya tunjukan kalau saya peduli bukan dengan perasaan dia tetapi diri dia. Saya katakan, untuk bisa mulai mengurangi mengisap rokok. Tetapi kalimat tersebut cukup sekali saja saya beritahu ke dia, nggak mau saya ulang-ulang meskipun dia sempat cerita kalau masih dalam kondisi sakit, saya hanya tegaskan yang lakukan dulu hal yang bisa mencegah sakit paru-parunya kambuh lagi yaitu dengan mengurangi rokok, belajar sedikit demi sedikit nguranginnya. Dan benar saja, ketika cowok itu datang menemui saya ia cerita bahwa ia sudah hampir 1 bulan belajar mengurangi menghisap rokok, ia bilang ini cukup sulit memang tetapi demi kesehatannya agar nggak sakit-sakitan lagi, ia berusaha untuk mengikuti saran saya, ia bilang malah lebih ringan ketika bernafas sekarang. 

Banyak hal yang saya dan dia ceritakan di pertemuan saat itu. Ia sebenarnya menginginkan kembali pada saya untuk tetap melanjutkan hubungan dengannya namun saya tidak bisa karena memang saya sudah memiliki pasangan di kota kelahiran saya ini. Ia juga tahu alasan saya, karena memang saat hubungan tersebut kami jalani, saya katakan padanya bahwa LDR buat saya ini sulit di lakukan. Karena ia belum jelas serius ingin membawa hubungan kami ini kemana dan saya juga butuh memastikan hubungan karena tidak ingin berakhir dengan kekecewaan. Jadi kami sepakat jika memang salah satu dari kami ada yang lebih dulu menemukan pasangan yang sudah tepat, kami siap saling melepaskan. Dan ia pun setuju dengan kesepakatan tersebut.

Saya berani melakukan ini karena mungkin tempaan pengalaman hubungan saya di masa lalu yang membuat saya belajar juga karena saya ingin pasangan saya tegas dalam berkomitmen, karena kalau bukan saya yang menegaskan mau dibawa kemana hubungan ini dan apa tujuan hubungan ini jika endingnya nggak memabwa kebaikan apapun buat saya maupun diri dia lantas siapa lagi.

Karena di hubungan saya sebelum-sebelumnya saya terbiasa menunggu, ujung-ujungnya nggak pernah berakhir baik. Well, di pertemuan pertama kali ini setelah beberapa tahun belum bertemu dengannya lagi, Ia sempat  menanyakan tentang pacar saya, tidak ada ekspresi marah dan kecewa ia tunjukkan yang ada ia malah meminta saya untuk tetap menjadi temannya meski sudah tidak lagi berpacaran dengannya. Hingga hari ini kami tetap berteman baik, ketika saya dan dia kini sudah sama-sama memiliki keluarga kami tetap menjalin silaturahmi sebagai teman. Saya mengenal istrinya begitupun suami saya sudah mengenalnya. 

Apa pembelajaran yang saya dapatkan dengan mengenal pria yang sempat saya labeli negatif sebagai ‘Bad boy tersebut karena kepopuleran dan kepandaiannya mendekati hati perempuan hingga saya sempat tertarik & dekat padanya . 

  1. Dari pengalaman saya itu, menurut saya ada banyak cara untuk menghadapi pria dengan karakter seperti mantan pacar saya itu, yang penting dijadikan landasan adalah saya jadi belajar untuk tidak sekali - kali memberikan pandangan dan penghakiman bahwa pria yang sedang dekat adalah bad boy.

Karena dari pengalaman saya ini saya belajar bahwa setiap pria memiliki tujuan, karakter, dan kebutuhannya masing - masing yang tidak sama, termasuk pasangan yang sekarang jadi suami saya. Sama seperti perempuan, semua pria memiliki tujuan, karakter dan pengalamannya masing-masing. Jalan paling baik adalah berusaha dulu mengenal & memahami dengan baik &cerdas karakter mereka tanpa harus menyamaratakan & membanding-bandingkannya.

  1. Bersikap jujur & terbuka atas segala yang kita butuhkan/sukai serta berani untuk membangun ketegasan di awal hubungan guna membicarakan tentang hubungan tersebut mau dibawa kemana, sampai kapan, satukan tujuan hubungan. Jika serius, ya katakan bahwa kita sama-sama memegang komitmen tersebut. Tentu ada konsekuensinya kalau salah satu pihak melanggar. Jika pun misalnya nggak sampai jadi seperti pengalaman saya ini, setidaknya saya dan mantan saya tersebut punya titik pembelajaran yang kami berdua dapatkan selama menjalin hubungan bersama 

Ia jadi belajar mengenal apa yang ia butuhkan sebagai laki-laki dan saya pun belajar untuk tidak mudah membuat pandangan dan penghakiman bahwa pria model seperti ini sudah pasti ‘Bad Boy’ padahal belum tentu, karena saya baru bisa tahu mengenai pria tersebut setelah saya benar-benar mengenal karakter dan latar belakang pengalaman yang mendasarinya.

  1. Seperti pengalaman saya dengan mantan pacara saya tentang kebiasaan merokonya saya jadi belajar bahkan di hubungan saya dengan pasangan saya saat ini yaitu dengan tahu pasti ketetapan batas kecintaan saya dengan porsi cukup, konsisten, wajar dan sesuai kebutuhannya (nggak berlebih, nggak berkurang).

Sebuah hubungan yang baik menurut saya adalah ketika kita bisa saling belajar dan mendapatkan poin kebaikan atas hubungan tersebut. Dari cerita ini entah saya yang belajar dari mereka atau mereka yang mendapat pelajaran hidup setelah menjalin hubungan dengan saya. Itu bonus buat diri saya Jadi, meskipun berakhir selalu ada pelajaran berharga yang bisa di ambil setelahnya, ini meminimalisir rasa kecewa.

 



Nathalie Indri

No Comments Yet.