Apa Kata Pria Tentang Perempuan Yang Hanya Memikirkan Kenyamanan ?


Monday, 30 Sep 2019


Halo Urbanesse, dalam rubrik pandangan pria kali ini kami mewawancarai salah seorang Sahabat pria yang akan memberikan pandangannya seputar tema yang berkaitan dengan kesadaran perempuan dalam menghadapi rasa malas yang penting di kehidupannya. Apa pandangan dan pengalaman Pria berikut ini pada perempuan yang sudah memiliki kesadaran akan kemalasan dan kedisiplinan di dalam hidupnya ?

Berikut petikan wawancara kami dengan Andito (30th) bukan nama sebenarnya, yang bekerja sebagai Karyawan Swasta di daerah Jakarta Barat.

Apa pandangan kamu seputar tema Urban Women kali ini yang mengangkat tema tentang kesadaran perempuan ketika sedang mengahadapi kemalasan di hidupnya ?

Tema tentang kemalasan yang kerap di alami perempuan memang jarang yang mengangkat ya, karena sedikit sekali perempuan yang akan jujur, menerima dan sadar secara utuh mengakui bahwa diri mereka malas. Kalau sampai ada yang berani jujur dan mengakui bahkan tidak menolak dirinya di katakan malas meski untuk hal penting di kehidupannya sendiri, salut deh buat perempuan yang sudah berani mengakui kesalahannya akibat dari kemalasannya sendiri kemudian dengan merendahkan hatinya mau memperbaiki diri dan kekurangan dengan belajar dari kesalahannya, Karena jarang ada yang mau mengakuinya. Jika bicara rasa malas saya juga sebagai laki-laki pasti juga pernah malas. Bukan hanya perkara malas bangun pagi atau malas berangkat kuliah saat zaman ngampus dulu, melainkan malas dalam kategori yang lebih luas malas berpikir, bertindak, malas memiliki perasaan dan malas memiliki sikap sendiri.

Maksudnya bagaimana tuh, bisa di jelaskan ?

Ini saya bicara tentang kemalasan yang pernah saya alami dulu ya sebagai laki-laki. Menurut saya setiap orang baik laki-laki maupun perempuan pastinya pernah di landa rasa malas di hidupnya. Hanya kadang yang membedakan adalah kadar dan kemampuan setiap orang dalam mengelola kemalasannya itu berbeda-beda. Ini cerita saya dulu sebelum menikah, jadi dulu tuh, saya sadar bahwa dulu itu saya sebagai cowok bukan cuma jahat ya tetapi juga malas haahaaa...

Saya sempat menjadi laki-laki yang malas berpikir panjang, mikirnya yang simple-simple aja. Pacaran dengan beberapa wanita dalam satu waktu, mikirnya jangka pendek “selagi masih muda macarin banyak perempuan, manfaatkan yang ada (ya diri mereka, ya tenaga mereka, ya uang mereka) selagi mereka juga baik-baik aja dan atas kemauan mereka sendiri ya sudah saya jalani. Meskipun saya di cap orang sebagai cowok playboy atau cowok jahat kala itu saya malas mikir & memiliki perasaan  terlalu jauh sama perempuan-perempuan yang menjadi pacar saya.

Dulu juga saya termasuk orang yang malas banget punya sikap sendiri. Jadi, apapun kejadian buruk/tidak mengenakan yang terjadi  di hidup mereka saya bisa dengan mudahnya angkat tangan dan menyalahkan mereka sepenuhnya. Padahal sejujurnya saya tahu saya salah juga pada mereka karena kerap menyerahkan segala keputusan pada mereka. Seperti saat saya belum memiliki pekerjaan, beberapa orang dari pacar saya pun membantu mencarikan pekerjaan untuk saya, membuatkan cvnya. Lalu apa yang saya lakukan ? saya pun memperlihatkan usaha saya juga untuk mencari pekerjaan, NAMUN memang saya tidak terlalu berusaha keras, karena saya mengandalkan usaha yang di lakukan pacar saya saat itu. Yang penting pacar saya tetap di jaga perasaanya, tetap saya berikan harapan dan hal yang bisa membuat mereka bahagia setiap harinya, karena saya tahu saat itu mereka membutuhkan perhatian tersebut dari saya. Saya salah ? yaaa...saya akui dulu itu sikap saya salah, tetapi sikap perempuan yang menjadi pacar saya saat itu pun juga menurut saya keliru. Mengapa ketika mereka merasa “jatuh cinta”  bisa sampai melupakan logikanya?.

Saya mikir sih pada waktu itu, “Kok pacar saya bisa sampai segitunya ya memperjuangkan saya, tanpa mau melihat lagi saya ini tulus atau tidak, beneran cinta atau tidak, Mereka pacar saya satu-satunya atau bukan dan pertanyaan lainnya yang sempat terbersit di kepala saya. Dulu saya pikir mereka bodoh, tetapi saya lihat kembali bahwa pacar-pacar saya sebenarnya nggak bodoh, mereka hanya malas seperti saya juga’.

Yang malas berpikir, berusaha mencari tahu hingga termakan perasaan yang berlabel ‘sudah nyaman, sudah suka, kagum dan sudah terlanjur cinta’ padahal sebenarnya belum sampai pada tahap itu. Saya sebagai laki-laki dan mereka sebagai perempuan saat itu sama-sama malas menyelami lebih dalam karakter dan resiko yang akan di ambil/di tanggung ketika membuat keputusan dan pilihan yang diambil dalam hidup. Ibaratnya tidak mempersiapkan diri sedini mungkin dan memikirkan masa depan sendiri. Pokoknya pacaran, di biayain dan pacar saya sudah senang saya janjikan akan saya nikahin, padahal pekerjaaan saya saja masih belum jelas dan pacar saya menerima saja keadaan saya yang sepert ini.

Apa yang membuat kamu dan pacar kamu kala itu akhirnya sadar bahwa semua yang terjadi adalah buah dari kemalasan sendiri ?

Jadi, waktu itu saya pun akhirnya bekerja, pekerjaan pertama saya dulu tuh sebagai Staf Logistik perusahaan eksport import, mungkin karena sudah bekerja, jadi pola pikir sudah lebih matang, dewasa dan lebih baik dari sebelumnya, karena melihat juga teman-teman kantor saya yang sudah pada menikah dan mereka banyak sharing tentang bagaimana realita kehidupan berumah tangga.

Dari situ, saya banyak melamun alias merenung melihat kembali kelakuan saya pada perempuan yang menjadi pacar- pacar saya. Kenapa di sebut pacar-pacar saya? Karena saya menjalin hubungan dengan mereka dalam satu waktu secara bersamaan (yaaa...ini jahat ya, nggak usah di tiru) tapi saya jadi banyak menemukan pembelajaran dan saat itu saya ingat tahun 2012 saya pun memutuskan hubungan pada semuanya. Segala reaksi negatif saya dapatkan, reputasi saya pun di buat buruk oleh mereka, yaa..ini bagian dari resiko yang harus saya terima karena kesalahan saya sudah memberikan harapan berlebih pada mereka.

Setelah kejadian tersebut, saya kembali menjalin hubungan lagi dengan seorang perempuan, tetapi  kali ini saya ingin serius, kenapa ? karena sudah menemukan perempuan yang tepat juga karena ada masa-masa dimana saya sebagai pria ingin memiliki hubungan yang lebih bertanggung jawab dan sebagai bentuk perbaikan diri serta pembuktian bahwa reputasi buruk saya sebagai “playboy cap kadal yang jahat” (kata mantan-mantan pacar saya) di masa lalu bisa saya perbaiki dan mantan playboy pun dapat memiliki kehidupan yang lebih baik dan bertanggung jawab.

Apa pesan-pesan kamu untuk perempuan dan laki-laki yang saat ini masih belum sadar dengan kemalasannya ?

  1. Belajar dan terus pikirkan sebab akibat yang akan di timbulkan ketika kita memilih melakukan perbuatan baik/buruk, terutama kita kerap nggak mau banyak mikir panjang kedepan ketika kita mau melakukan perbuatan buruk.
  2. Sadari efek-efek yang akan terjadi ketika kita akan mengambil sebuah keputusan, misalnya ingin menikah musti sadar, selami dan pahami betul apa sih tujuan utama kita mau menikah dengan orang itu.
  3. Lihat sisi baik dan buruknya ketika ingin mengambil pilihan, pikirkan dengan kepala jernih dan tidak gegabah memutuskan, berpikir buat hari esok dulu, jangan hanya memikirkan buat hari ini (karena sudah terlanjur suka, nyaman dan cinta) jadi mengesampingkan kenyataan dan akibat-akibat yang akan terjadi di masa depan, ini buah kemalasan yang buruk nantinya akan di alami seperti pengalaman saya. Reputasi buruk dan dapat reaksi negatif dari perempuan lain.
  4. Selalu mau memperbaiki diri dan tidak takut menerima masukan/kritik. Saya percaya ketika saya sudah mau menerima kritikan pedas dari mantan-mantan pacar saya, saya pun jadi tahu letak kekurangan dan kesalahan saya. Pilihannya cuma dua mau memperbaiki atau tidak sama sekali. Tapi kalau saya memilih memperbaiki diri, dari malas level 10 sekarang sudah ada di posisi malas nya level 2, itu yang pasangan saya sekarang katakan juga pada diri saya.

Well, Urbanesse demikian wawancara kami dengan Andito tentang pandangan dan pengalaman ia menghadapi kemalasan yang kerap di alami oleh dirinya dan perempuan yang pernah menjadi pasangannya. Semoga mampu menginspirasi Urbanesse ya.



Unknown

No Comments Yet.