Antara Cinta dan Obsesi?


Wednesday, 27 Nov 2019


Membahas mengenai Obsesi atau Cinta yang tulus mengingatkan saya mengenai kisah kasih saat sekolah dulu. Sejak kecil saya pernah mengalami beberapa kali “jatuh cinta”. Pada dasarnya ketika remaja, tidak memiliki keinginan untuk memiliki kekasih. Jadi saya fokus mengagumi musisi-musisi kesukaan saya dan menjalani hidup sebagai remaja biasa yang tidak terlalu banyak memiliki urusan kecuali akademik. Tetapi meski begitu... saya tidak terobsesi dengan para artis tersebut sampai ingin sekali bertemu atau ingin tahu segala hal tentang mereka sampai ke ranah pribadi.

Saya pernah suka dengan sebuah band yang terkenal di tahun 2000-an awal: Hoobastank. Awalnya gara-gara suka menonton video musik di saluran MTV, lalu video musik The Reason pun diputar. Saking legendarisnya lagu itu, sampai sekarang orang akan mengenalinya meski lupa siapa penyanyinya. Singkat cerita, pada masa itu internet adalah suatu hal yang mahal dan jarang. Warnet bahkan belum menjamur. Dengan ponsel jadul yang bisa dipakai buat membuka Google, saya pun menghabiskan banyak uang hanya demi membeli pulsa. Pada masa itu belum ada paket data dengan harga terjangkau seperti sekarang. Wajar saja jika ibu saya marah karena mengeluarkan uang hanya buat beli pulsa. Saya mencari-cari gambar mereka untuk disimpan atau dicetak terutama vokalisnya Douglas Robb, seorang keturunan Jepang-Amerika yang menurut saya amat menarik pada masa itu. Saya datangi setiap toko kaset dan CD demi mencari album-album yang belum saya miliki. Walkman adalah sahabat saya yang tidak bisa dipisahkan. Kemana-mana selalu saya bawa, apalagi ketika ada album yang amat saya gemari. Saya jadi punya tujuan lain selain ke toko buku saat berjalan-jalan di mal. Itulah obsesi, ketika saya menghabiskan waktu hanya mengurusi hal yang saya suka hingga tidak mau ketinggalan berita terbaru dari band tersebut.

Suatu saat di masa itu saya ditaksir oleh teman sekelas. Kami akhrinya berpacaran setelah beberapa waktu saya cukup bingung dan uring-uringan akan menerima atau tidak. Semula semuanya menyenangkan. Rasanya takjub melihat teman-teman iri pada hubungan kami yang terlihat saling menyukai. Awalnya saya adalah gadis yang tidak menonjol, namun karena dia cukup terkenal dan menjadi sorotan di sekolah dan saat itu dia terlihat sangat menyukai saya maka saya jadi salah satu topik pembicaraan dan akhirnya saya menjadi menonjol.

Ternyata berpacaran itu sangat amat menguras pikiran saya dan merubah diri saya yang memang awalnya memiliki tipe cukup cuek. Kami bertukar kabar setiap saat dan gara-gara dia, saya jadi tidak terlalu memikirkan artis kesukaan saya. Pikiran saya rata-rata diisi oleh dia. Hubungan kami dulu sungguh tidak sehat karena kami berdua sama-sama melarang satu sama lain untuk terlihat dekat dengan lawan jenis, dan bahkan untuk ngobrol terlalu lama tidak boleh. Saling cemburu untuk hal apapun itu, saat itu hanya bermain dengan sekumpulan teman lama saja saya tidak boleh karena ada beberapa pria juga. Saya pun melakukan hal yang sama. Lalu saya mudah merasa terabaikan, gampang kecewa kalau dia tidak memperhatikan saya. Dan yang paling sering kami lakukan adalah bertengkar karena mudah tersulut amarah, bahkan kalau raut mukanya berbeda itu menjadi bahan pertengkaran kami. Kami pun mudah ngambek dan berlebihan rasa ingin tau nya sehingga tidak ada ruang untuk apapun selain kami. Karena akhirnya kami merasa capek berada di fase tersebut dan tidak merasa tulus dalam berhubungan, maka kami memutuskan untuk berpisah. Setelah putus dan kuliah pun dia masih berusaha mendatangi saya yang berbeda kota dengannya dengan menunggu di kos saya, namun saya memiliki kegiatan di luar sehingga kita tidak bertemu dan dia sudah pergi ketika saya pulang.

Orangtua saya sampai khawatir melihat hubungan kami. Banyak orang yang mengatakan bahwa kami adalah idaman karena terhitung awet dan tidak pernah putus-nyambung, nyatanya tidak ada seorang pun yang tau begitu bobrok hubungan ini karena obsesi yang dikira cinta. Kesalahan besar yang menghancurkan diri saya sendiri dan mental saya serta pasangan saya juga. Saya merasa bahwa orang-orang terlihat bahagia ketika memiliki pacar, rasanya ada yang mencintai, ada teman untuk jalan atau nongkrong bareng. Tetapi bagi saya, harga yang harus saya bayar waktu itu amat mahal: waktu, energi, dan pikiran. Saya seperti bukan diri saya sendiri dan merasa ketakutan setiap saat.

Tetapi kemudian itu tidak membuat saya terpuruk dan trauma. Memang awalnya mungkin saya dilema jika harus berhubungan, namun saya belajar bahwa justru cinta yang tulus itu tidak memikirkan hal-hal yang buruk namun tetap berhati-hati menjatuhkan pilihan. Cinta yang tulus itu berani mengatakan IYA dan TIDAK jika ada sesuatu yang tidak nyaman. Gara-gara pengalaman tersebut, saya jadi belajar banyak hal mengenai cinta :

  1. Saya belajar memahami kalau batas antara terlalu cinta dan obsesi itu tidak mudah dilihat bagi orang yang terlibat di dalamnya. Maka dari itu penting untuk melihat masalah kita dari sudut pandang yang berbeda dan menerima pendapat orang lain yang lebih bisa melihatnya secara objektif.
  2. Saya belajar bahwa semua yang berlebihan itu tidak baik. Perasaan yang berlebihan, tidak percaya diri yang berlebihan, takut ditinggalkan yang berlebihan, marah yang berlebihan, sedih yang berlebihan. Itu semua hanya membuat saya menjadi pribadi yang jatuh mentalnnya.
  3. Yang sangat amat saya pelajari selanjutnya adalah tidak melarang pasangan ataupun menolak jika terlalu diatur pasangan. Karena kita bebas untuk menjadi diri kita sendiri.

Pengalaman tersebut bukanlah salah dia sepenuhnya, namun kesalahan kami yang merasa terlalu saling memiliki, tidak berpikir dewasa dan tidak mencintai diri sendiri sehingga mudah merasa inferior dan cemburu. Disamping itu usia kita memang masih muda sehingga terlalu banyak ego dan belum siap. Kini saya sudah menjalani hubungan dengan pasangan saya dengan melakukan hal yang sudah saya pelajari dan ternyata itu berhasil sehingga sekarang saya dan pasangan saya dapat merasakan cinta yang benar-benar tulus tanpa merubah diri kita masing-masing.

Saya sudah mencoba dan bisa. Saya yakin kalian pasti bisa dan menemukan yang terbaik!

Be who you are and trust God’s plan!



Elsa Malinda

No Comments Yet.