Aku Terobsesi Dengan Oppa Korea


Thursday, 31 Oct 2019


Hai Ladies, saya ingin berbagi dan menceritakan pengalaman saya dengan gebetan saya atau dengan seseorang yang sedang dekat saya 3 tahun lalu. Saya adalah seorang wanita yang sangat menyukai Laki-laki yang berasal dari Korea, mungkin karena saya sering menonton drama atau mendengarkan musik-musik dari Korea. Saat itu saya sangat tergila-gila bahkan selalu berharap bahwa akan menemukan jodoh seperti yang ada didalam drama korea.

Kami bertemu secara tidak sengaja di salah satu tempat makan di Singapura. Saat itu saya dan teman-teman saya makan di tempat tersebut dan dia juga makan di tempat tersebut. Dari awal memang saya sudah naksir dengan dia, menurut saya dia sangat menarik dan wajahnya rupawan. Teman-teman saya pun mengatakan hal yang sama, yaitu mirip dengan laki-laki yang ada di drama korea. Kemudian setelah waktu berlalu, dia melihat perkumpulan saya dan teman-teman terus dan saat itu saya merasa ada yang janggal. Lalu kemudian teman-temannya datang sekitar 4 orang dan menyapanya dengan bahasa Indonesia. Dari situ saya mengetahui bahwa mungkin dia merasa bahwa saya dan teman-teman saya merupakan satu rumpun dengannya. Saya memang mudah tertarik dengan laki-laki yang memiliki perawakan seperti dia, namun saya tidak menyangka bahwa dia orang Indonesia dan itu merupakan bonus untuk saya karena bisa berkenalan hehehe

Saya memberanikan diri untuk berkenalan, itu juga karena teman-teman saya. Akhirnya saya pun mengetahui namanya, saya tau dia tinggal di daerah Bandung dan bekerja di perusahaan apa lalu sejak saat itu saya mencoba mencari tau apa sosial media nya (beberapa dari kalian kalo kepo pasti sama dengan saya, cari tau terus sampe dapet hahaha). Selama satu bulan setelah kejadian itu berlalu akhirnya saya memberanikan diri untuk mengikutinya di sosial media dan mengirimnya pesan bahwa saya yang waktu itu berkenalan dengannya di Singapura. Ternyata pesan saya bersambut baik dan dia masih mengingatnya, kemudian kami saling berkirim pesan dan berlanjut ke Whatsapp. Setelah itu perasaan ketertarikan saya terhadap laki-laki tersebut semakin besar, apalagi ketika mengetahui bahwa dia memiliki keturunan Korea dari kakeknya. Waktu berjalan dan hubungan kami semakin dekat (setidaknya saya merasa seperti ini) kemudian rasa nyaman itu muncul dan tingkah laku saya seperti memilikinya. Saya suka bete dan tidak mood jika dia tidak ada kabar, bahkan saya selalu memantau sosial media yang ia punya. Saya begitu ingin dia dan saya menjalin hubungan, sampai akhirnya ia mengatakan bahwa saya terlalu agresif. Disitu saya marah dan merasa tidak suka dengan pernyataan tersebut, dari situ kami jauh dan tidak kembali ngobrol seperti biasanya. Tapi jauh didalam lubuk hati saya, saya masih sangat amat menyukainya dan mempunyai tekad bahwa dia dan saya harus jadi sepasang kekasih. Saya berjanji kepada diri saya sendiri bahwa dia akan balik mengejar saya. Setiap hari saya masih terbayang akan wajahnya, bentuk badannya bahkan saya sering memikirkan bila saya dan ia berpasangan.

Hampir 2 bulan berlalu, saya tidak pernah berubah. Saya tetap memantau sosial medianya, tidak pernah absen. Lalu saya aktif mengcapture foto terbarunya dan menjadikannya wallpaper di hp saya. Bayangkan saja saya sampai segitunya lho, saya juga tidak mengerti kenapa saya sampai seperti itu. Perasaan saya waktu itu adalah dia hanya sedang marah terhadap saya dan pasti akan kembali lagi mencari saya. Setiap hari saya masih mengirimnya pesan “Good luck ya untuk hari ini” dan dia masih menjawab “Iya terima kasih. Anda juga ya”. Saya waktu itu tidak mempunyai malu untuk melakukan apapun yang saya mau. Perbincangan memang sampai situ saja, tetapi jika dia mengunggah sesuatu di Instagram atau Facebooknya, saya masih aktif untuk berinteraksi lewat comment  dan likes.  Karena kejadian seperti itu maka saya tidak dapat Move On darinya, dan berusaha untuk membuat dia tertarik kepada saya. Saya ingat ketika dia mengatakan bahwa sangat menyukai wanita yang suka membaca, lalu saya mengunggah buku bacaan saya. Saya juga tidak segan membeli buku yang lagi ia baca dan dia unggah di sosial medianya, lalu saya berkata “Saya juga membacanya” dan hal itu berhasil membuat beberapa percakapan antara kita. Saya juga belajar memasak makanan asal korea mulai dari bulgogi, kimchi lalu japchae dan beberapa jenis lainnya. Kemudia saya mengunggah di sosial media, dan dia pun pasti akan membalasnya dan memberikan komentar yang dapat memicu percakapan kami. Saya sempat juga mengirimkan makanan yang saya masak kerumahnya, dia pun senang dan mengatakan bahwa masakan saya enak. Hal-hal tersebut yang terus memicu saya untuk berusaha agar tetap didekatnya.

Lalu beberapa minggu kemudian dia sudah tidak pernah membalas pesan saya dan tidak aktif di sosial media. Saya terus berusaha mencari tau sampai akhirnya dia mengunggah foto dia dengan seorang wanita, lalu saya akhirnya mengetahui bahwa dia memiliki kekasih. Saya marah, kesal, kecewa, menangis sampai akhirnya saya berbuat tidak baik terhadap diri saya sendiri. Saya memukul kepala sendiri dengan tangan saya, lalu saya nekat menggunting rambut saya sendiri. Seperti orang gila bukan? Iya itu yang saya lakukan. Saya tidak bekerja hampir seminggu, kemudian saya menghindari hal-hal yang berkaitan dengan Korea. Hampir 3 bulan saya terjebak dengan perasaan seperti itu, tidak mempunyai gairah dan merasa tidak percaya diri. Saya pun sempat mogok makan dan jatuh sakit sampai akhirnya orang tua saya bingung karena perubahan saya sangat signifikan.

Hidup ini Realita

Ketika ibu saya mengatakan bahwa dia sangat khawatir dengan keadaan saya, detik itu juga saya merasa tertampar dan mau berubah. Selama ini saya menyukai laki-laki tersebut karena rupanya saja dan kegemaran saya akan laki-laki yang berasal dari Korea. Saya tidak mencerna sikapnya dan sifatnya bahkan bagaimana dia bertutur kata. Mata saya tertutup karena keinginan saya yang berlebihan. Saya mengatakan cukup 3 bulan saya menjadi pribadi yang seperti itu, bahkan kami pun belum berpacaran tapi saya sudah berani menyakiti diri saya. Saya hanya Obsesi dan tidak memiliki tujuan yang jelas, bahkan alasan saya untuk tetap mau bersama dengan dia hanya karena dia memiliki kesamaan dengan artis favorit saya. Saya memaksa ekpetasi dan khayalan saya untuk menjadi realita. Disitu saya menyadari bahwa sikap saya keterlaluan. Akhirnya saya merubah pandangan dan pemikiran saya bahwa saya boleh berharap dan berkhayal, tetapi harus bijak dalam bersikap.

Dari pengalaman saya tersebut saya belajar banyak hal dalam diri saya sendiri dan hubungan saya kedepannya :

  1. Saya belajar untuk mencari yang saya butuh, bukan yang saya mau atau yang ada dalam khayalan saya. Saya belajar untuk membedakan mana yang prioritas, mana yang bukan prioritas.
  2. Saya belajar untuk menghargai diri saya sendiri. Saya belajar bahwa saya berharga dan dapat menjadi yang terbaik untuk diri saya sendiri. Saya menerima bahwa akan Tuhan siapkan seseorang yang bukan sesuai khayalan saya dan obsesi saya melainkan sesuai dengan yang Tuhan mau.
  3. Saya juga belajar bahwa mengambil nilai positif dari setiap kisah cinta yang tidak berbuah manis, saya mendapatkan pelajaran untuk mau belajar memasak, mau membaca dan menggali potensi dalam diri saya sendiri
  4. Yang terakhir saya belajar bahwa obsesi itu tidak sehat, segala yang berlebihan itu tidak baik. Dan yang terpenting dari sebuah hubungan adalah hubungan dengan diri kita sendiri.

Itu adalah sedikit dari pengalaman saya yang mungkin dapat menginspirasi beberapa Urbannesse. Mungkin bagi beberapa orang, pengalaman seperti ini biasa atau cenderung aneh tapi nyata namun bagi saya dan bagi beberapa perempuan lain ini memang hal ini mungkin saja dapat terjadi. Tetap ingat bahwa cinta yang tulus tidak akan memaksakan apapun secara berlebihan, melainkan membuat kita bijak dan berhikmat.

Semangat terus Urbannesse mencari cinta yang tulus!



Zeafa Gracia

No Comments Yet.